
Hazel bisa bernafas lega, karena dugaannya jika sang putri memiliki hubungan dengan Vano sang sahabatnya tidaklah terbukti.
Setelah Ev menyerahkan ponselnya, dan ia mencari chat atau pun panggilan dari Vano, tidak menemukan hal yang janggal, meskipun di ponsel sang putri ada chat dan juga panggilan dari Vano, tapi itu sudah beberapa minggu lalu, dan dalam chat tersebut hanya menanyakan tentang kabar sang mama, tapi Ev langsung membalas dengan tegas untuk tidak menanyakan kabar sang mama, karena sudah memiliki suami.
Dan Hazel menemukan chat baru dari seorang pria, di ponsel sang putri, dan sepertinya itu adalah kekasih Ev, karena chatnya seperti orang yang sedang kasmaran.
"Bagaimana tidak ada kan? tanya Ev pada sang mama dan mengambil ponsel miliknya dari tangan sang mama. "Lagian bisa bisanya mama memiliki pikiran jika aku memiliki hubungan dengan Om Vano, tidak masuk akal,"
"Maafkan mama Ev, sudah berburuk sangka padamu," sesal Hazel yang sudah terlalu jauh berpikir tentang sang putri.
"Nih Ma, jika di dunia ini hanya tersisa om Vano, sama sekali aku tidak tertarik padanya, lebih baik jomblo abadi dari pada menikah dengan bujang lapuk yang suka keluar masuk lubang buaya," ujar Ev, yang tahu bagaimana Vano, sehingga ia tidak setuju ketika dulu Vano ingin mendekati sang mama.
"Ev keluar masuk, apa yang..."
"Eleh, aku tahu Ma, om Vano bujang lapuk rasa duda," sambung Ev memotong perkataan sang mama. "Sudahlah, lebih baik Mama dan juga Papa keluar dari dalam kamar aku, aku mengantuk,"
"Sebentar Ev, apa kamu tidak ingin memberi tahu mama, siapa cowok yang sedang berkirim pesan dengan kamu?"
"Dia pacar aku Ma, dan masih satu sekolah kok,"
"Awas pacaran macam-macam,"
__ADS_1
"Ya elah, Ma. Oma aja tidak masalah, kalau melakukannya juga tidak masalah, tinggal pakai pengaman saja, seperti yang pernah Oma katakan,"
Hazel menghembuskan nafasnya kasar, dan menggelengkan kepalanya mendengar apa yang sang putri katakan.
"Jangan dengarkan Oma kamu yang sesat itu,"
"Tapi ada benarnya Ma, biar..."
"Ev, itu tidak benar," sambung Hazel memotong perkataan sang putri.
"Benar Ev, mungkin saat kamu melakukannya tidak akan menyesal karena sedang di selimuti hawa nafsu, tapi setelahnya kamu akan menyesal," sambung Zain membenarkan ucapan sang istri, dan seperti biasa ia akan menasihati sang putri, tentang bagaimana dengan pergaulan anak jaman sekarang yang terlalu bebas.
Setelah menasihati Ev, Zain maupun Hazel langsung keluar dari dalam kamar sang putri untuk menuju kamarnya.
"Biar tidak ada yang ganggu sayang," ucap Zain yang kini mengelus perut sang istri, lalu naik keatas kasur. "Papa akan mengunjungi kalian sayang,"
"Sayang, nanti dulu,"
"Kenapa?"
"Aku lapar," ucap Hazel, seperti biasa pasti ia akan lapar jika malam hari, mungkin efek kehamilannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa lagi ini," ucap Zain sambil menepuk jidatnya sendiri. "Tidak tahu apa, orang sedang kepingin,"
"Nanti dulu sayang, apa kamu tega melakukannya saat aku lapar?"
"Tentu saja tidak," jawab Zain yang langsung turun dari atas kasur. "Kamu tunggu disini, aku akan mengambil makanan dan susu untuk kamu,"
"Terima kasih, sayang,"
"Kembali,"
Setelah acara makan malam untuk kedua kalinya bagi Hazel, Zain yang sudah merapikan semuanya, langsung naik ke atas tempat tidur.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Hazel ketika sang suami langsung melucuti pakaian miliknya dan pakaian yang di kenakannya.
"Aku sudah tidak sabar sayang, jawab Zain yang langsung merebahkan tubuh polosnya. "Naiklah, aku tidak ingin menyakiti kamu sayang, jika kamu berada di bawah,"
"Jadi mau langsung, tidak mau pemanasan?"
Zain langsung beranjak dari tidurnya, setelah mendengar pertanyaan sang istri. "Oke, pemanasan dulu,"
Bersambung.............
__ADS_1
Gantungan, gantungan, gantungan wkwkwkwk.
Semakin dekat akhir-akhir episode ya guys, jangan lupa komen, komen.