HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
HANTU!


__ADS_3

Dengan segera Bita bangkit dari pangkuan Vano, lalu berjalan menuju dimana saklar berada untuk menyalakan lampu ruang tengah tersebut.


Dan benar kedua matanya tidak salah lihat, jika Vano duduk di sofa yang ada di ruang tengah tersebut.


"Aku pikir tadi ada setan, oh ternyata Pak Vano. Sejak kapan Pak vano ada di sini?" tanya Bita penasaran.


Namun, tidak di jawab oleh Vano, yang kembali menenggak minuman beralkhohol yang berada diatas meja.


"Ish, bukannya menjawab malah minum," kata Bita.


Kemudian Bita berjalan meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya, tidak ingin berduaan dengan Vano, takut ada setan lewat.


Namun, langkah Bita terhenti ketika Vano mengatakan jika ia bodoh.


Membuatnya langsung membalik tubuhnya untuk menatap pada Vano. "Coba katakan sekali lagi, apa yang Pak Vano katakan barusan?" tanya Bita sambil memicingkan matanya.


"Kau bodoh!" sekali lagi Vano mengatakan hal tersebut.


Membuat Bita begitu kesal, dan berjalan mendekatinya sambil bertolak pinggang.


"Jaga bicara Pak Vano ya. Jangan sampai aku jejelin tuh mulut pakai brotowali!"


Vano yang sadari tadi masih menatap pada Bita, kini memicingkan matanya mendengar apa yang perawatan sang ibu katakan. "Brotowali itu apa?" tanya Vano yang memang tidak tahu apa itu brotowali, jenis tumbuhan yang biasanya dijadikan obat dan campuran jamu.


"Lah, Pak Vano tidak tahu brotowali itu apa?"


"Kalau aku tahu, untuk apa aku bertanya. Dasar bodoh!" sahut Vano.

__ADS_1


Dan jawaban Vano tersebut membuat Bita langsung mengembangkan senyuman. "Baiklah aku kasih tahu sama Pak Vano, apa brotowali itu apa,"


"Apa? Cepat katakan!"


"Ish, sabar dong Pak. Aku yakin jika Pak Vano tahu. Besok minta aku cariin,"


"Tidak usah basa basi, katakan saja!"


"Brotowali itu makanan yang sangat nikmat jika dinikmati sambil meminum minuman beralkhohol, ibarat kata nih pendorong nomor wahid, dibanding yang lainnya, dan ini legal loh Pak." bohong Bita. "Jika Pak Vano tidak percaya, coba saja deh. Besok aku bawakan itu brotowali, bagaimana, mau?"


Entah mengapa Vano yang seorang peminum handal, dan sudah merasakan berbagai jenis minuman beralkhohol dari seluruh penjuru dunia, begitu tertarik dengan apa yang Bita katakan.


"Bawakan saja barang itu besok!" perintahnya.


Membuat senyum yang terukir dari kedua sudut bibir Bita semakin melebar. 'Terkena jebakan batmen kau teh celup,' batin Rara. "Baiklah Pak, tapi..."


Tentu saja dengan segera Bita mengambil uang tersebut dari tangan Vano. "Ya ampun, Pak Vano pengertian banget sih, terima kasih loh ini, semoga Pak Vano rejekinya tambah banyak, tambah ganteng dan semakin tambah jobnya,"


"Amiin," ucap Vano, karena perkataan baik itu harus diaminkan. "Tapi jangan kau kirim lagi uangnya untuk pacar kamu," kata Vano yang mengingat, tadi Bita mengirim uang pada pacarnya. "Mana ada laki-laki minta uang sama perempuan, tidak modal sekali tuh laki-laki. Dimana mana laki-laki yang memberi uang bodoh!"


"Jangan bilang aku bodoh Pak!"


"Kalau tidak bodoh apa coba, hah! Jangan mau di porotin sama laki-laki,"


"Kalau ngomong jangan asal Pak,"


"Itu kenyataannya kan?"

__ADS_1


"Salah. Aku mengirim uang, itu untuk persiapkan pernikahan aku dan dia. Asal Pak Vano tahu, menikah itu butuh biaya yang besar. Dan uang itu kita dapatkan bukan minta bantuan sama orang tua, tapi aku dan dia, sudah lama menabung bersama, paham kan, sampai sini?"


"Tidak!" sahut Vano. "Paling kamu hanya dibodoh bodohi sama laki-laki itu,"


"Enak saja, kita sudah pacaran dari SMP Pak, dan kita sudah mengenal satu sama lain. Jadi jangan bicara macam-macam tentang dia,"


"Eleh laki-laki jaman sekarang tuh tidak bisa di percaya,"


"Berarti Pak Vano juga begitu dong?"


"Tentu saja tidak,"


"Iya in aja biar senang!" sahut Bita yang kini membalik tubuhnya dan melangkahkan kakinya kembali, tapi kembali lagi ia menghentikan langkahnya.


Bukan karena Vano memanggilnya, tapi Bita melihat ada bayangan putih tidak jauh darinya.


"Pak Vano, hantu!" teriak Bita yang berlari menuju Vano, dimana ia baru saja beranjak dari duduknya.


Membuat Vano terjatuh keatas sofa, saat Bita menabraknya dengan kencang, dan sekarang ia juga terjatuh diatasnya, dengan bibir keduanya saling menempel.


Bersambung.........


Maaf ya, readerku tersayang. Karena aku baru up, setelah beberapa hari kemarin aku kurang enak badan. Dan tidak ada semangat untuk nulis, karena bawaannya ingin tidur mulu.


Meskipun aku up di tempat sebelah, itu pun aku paksa. Karena disana aku daily dan tidak bisa bolong sesuka hati.


Aku ucapkan terima kasih yang masih setia menungguku, peluk dan cium dariku muach

__ADS_1


__ADS_2