
Zain terus mengamati benda mirip alat reproduksinya, yang berada di salah satu tangannya.
"Untuk apa, benda seperti ini?" tanya Zain lagi, yang memang tidak mengetahui fungsi dari benda yang berada di tangannya.
Lalu Zain menoleh kearah pintu kamar mandi yang baru saja di buka, dimana sang istri lah yang masuk ke dalam kamar mandi.
Kemudian merebut benda yang berada di tangannya. "Jangan sentuh, benda milikku!" seru Hazel, yang kini mendorong tubuh Zain untuk keluar dari dalam kamar mandi, karena ia ingin buang air kecil.
Zain yang sudah berada di depan pintu kamar mandi, dimana sekarang Hazel sudah berada di dalam. Masih memikirkan benda yang tadi di rebut oleh sang istri.
"Oh, jangan-jangan benda itu..." Zain tidak jadi meneruskan ucapannya, baru menyadari apa fungsi dari benda yang tadi dia pegang. "Ternyata kamu yang tidak normal," ucap Zain.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Hazel menaruh benda kesayangannya, yang semalam dia gunakan untuk menyalurkan hasratnya, saat tiba-tiba ia mengingat belaian sang suami, setelah Zain mengakhiri aksinya. "Semoga si normal tidak curiga dengan benda ini," ucap Hazel yang langsung menuju closet.
"Syukurlah," ucap Zain ketika pintu kamar yang semalam terkunci, kini sudah bisa di buka, dan ia segera keluar dari dalam kamar ketika mendengar keramaian dari ruang tengah. Karena memang pagi ini kedua mertuanya akan kembali ke luar negeri.
__ADS_1
"Ya ampun, pengantin baru, sudah bangun tidur saja?" tanya mami Camel, ketika melihat Zain mendekati ruang tengah di mana dia berada bersama dengan suaminya, Ev dan juga Zi, karena sebentar lagi mereka akan segara pergi ke bandara. "Dimana Hazel?" tanya mami Camel lagi.
"Ada di kamar mandi, Mi,"
"Pasti sedang keramas ya, semalam kuat berapa ronde?"
"Hus, kamu apa apaan sih, sayang," sambung papi Santos yang berdiri di samping sang istri.
"Aku sedang bertanya padanya, sayang. Masa kalah sama kamu, yang masih kuat dua tiga ronde,"
Papi Santos menarik tangan sang istri untuk mendekat. "Jaga bicara kamu, ada cucu kita disini," bisik papi Santos tepat di telinga sang istri. "Jika masih bicara seperti itu lagi, seminggu tidak dapat jatah, mau?" bisik papi Santos lagi untuk mengancam sang istri.
Membuat Ev langsung menggelengkan kepalanya, melihat opa dan juga sang Oma, tentu saja Ev tahu tentang kata ronde yang tadi di ucapkan oleh sang Oma.
Tidak seperti Zi, yang bingung dengan ucapan mami Camel. "Pa, apa Papa main tinju dengan mama? Kenapa Papa melakukan hal seperti itu, itu namanya kekerasan dalam rumah tangga, dan Papa bisa di hukum jika melakukan hal itu," ucap Zi begitu polosnya.
__ADS_1
Membuat mami Camel dan juga Ev, saling pandang lalu menggelengkan kepalanya.
"Zi, ronde yang di maksud..."
"Ev!" seru papi Santos menghentikan ucapan sang cucu, karena ucapannya pasti akan sebelas dua belas dengan sang istri, dan akan mengotori pikiran Zi yang masih sangat polos.
"Maaf Opa," Ev nyengir kuda untuk menanggapi ucapan dari sang Oma.
Zi yang tadi menatap Ev, kini kembali menatap sang papa, karena sahabatnya tersebut tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Pa, kata Ev. Semalam papa bikin dedek bayi, apa dedek bayinya sudah jadi? Aku ingin melihatnya,"
"Ya ampun, Zi. Kamu pikir bikin dedek bayi, seperti bikin donat, sekali ngadong langsung jadi," Ev menimpali ucapan Zi yang benar-benar membuatnya emosi.
"Ev, kamu sendiri yang bilang semalam, jika papa dan mama sedang bikin dedek bayi di dalam kamar, dan kamu bilang, besok pagi jadi," Zi mengingat ucapan Ev semalam, yang tidak ingin mengotori pikiran sang sahabat, yang menanyakan pelajaran delapan belas tahun keatas.
__ADS_1
"Ya ampun! Dasar bocil!"
Bersambung..................