HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Ekstra Part 6


__ADS_3

Hari ini Hazel begitu kesal menatap pada Zain yang baru masuk ke dalam kamar, karena ia pulang larut malam, dan ini pertama kalinya setelah Ed dan juga En lahir, Zain pulang larut malam seperti ini.


"Malam, sayang," sapa Zain sambil mengukir senyum, dan mendekati sang istri yang sedang duduk diatas kasur sambil menatap tidak suka padanya.


Tentu saja Hazel enggan untuk menyapa balik sapaan sang suami, dan langsung mendorong wajahnya ketika Zain ingin mencium keningnya.


"Sayang, ada apa? Kenapa wajah kamu cemberut begitu? Tahu tidak, jika kamu seperti ini, kamu tuh tambah cantik," goda Zain, yang tahu jika sang istri pasti marah, Karena ia pulang larut malam, tidak seperti biasanya.


"Kamu pikir, dengan kamu mengatakan, aku tambah cantik, aku tidak akan marah begitu? Karena kamu pulang malam. Tidak forguso! Aku tetap marah padamu, paham!" tegas Hazel dari posisinya.


"Sayang, jangan marah ya, tadi kan, aku sudah bilang sama kamu, jika aku akan pulang sedikit telat, karena aku ada pertemuan dengan produser film, dimana aku akan segera membintangi film baru,"


"Senang dapat film baru?" tanya Hazel penuh selidik.


"Tentu dong, sayang. Film yang aku bintangi ini, akan di tayangkan bukan hanya di dalam negeri saja, tapi juga di luar negeri," jawab Zain penuh antusias.


"Hanya itu?"


"Iya, memangnya apa lagi, sayangku,"


"Bukan karena lawan main kamu si muniroh itu?" tanya Hazel lagi, menyebut lawan main sang suami dengan panggilan muniroh, dimana nama aslinya bukanlah itu.


"Bukan muniroh, sayang tapi..."


"Bodo amat, mau siapa kek namanya," sambung Hazel memotong perkataan dari sang suami, karena ia tidak menyukai lawan main sang suami kali ini, yang tergolong aktris populer dengan sejuta bakat, bukan hanya itu saja, ia merasa cemburu dengan aktris tersebut yang beberapa kali mengirim pesan pada sang suami, meskipun pesanannya biasa saja, hanya tentang film yang akan mereka bintangi.


Zain tersenyum melihat kecemburuan di raut wajah sang istri, lalu ia naik keatas tempat tidur.


"Turun!" perintah Hazel.


Namun, bukanya Turun, yang ada Zain langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya, lalu merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku!"


Tentu saja Zain tidak akan melepas pelukannya, yang ada ia mengunci tubuh sang istri menggunakan kakinya, lalu menatap lekat wajah sang istri.


"Bilang saja cemburu, aku main film dengan dia, hayo ngaku," ujar Zain tak lupa mengukir senyum.


"Tidak, untuk apa aku cemburu,"


"Yakin?"


"Iya, lepaskan aku!"


"Tidak sayang, sebelum kamu mengatakan. Iya sayang, aku cemburu,"


"Iya aku cemburu," sahut Hazel benar adanya, karena memang itulah yang ia rasakan.


Membuat Zain tersenyum, lalu mencium mesra kedua pipi sang istri.


"Ish, minggir! Dan lepaskan aku!" perintah Hazel.


"Eleh, pret tidak percaya,"


"Kenapa kamu bicara seperti itu, jika tidak percaya belahlah dadaku, sayang,"


"Kalau aku membelah dada kamu, yang ada nanti aku jadi janda lagi, bodoh!"


"Jadi?"


"Ya aku tidak akan melakukan hal itu, karena aku percaya, kamu sangat mencintai aku, sebesar cintaku padamu, sayang," ucap Hazel sambil mengukir senyum.


"Ah sayang, kau membuat hatiku meleleh,"

__ADS_1


"Es krim kali meleleh,"


"Kamu mau makan es krim?" tanya Zain yang kini melepas kuncian tubuh sang istri, dan mengangkat kepalanya untuk menatap lekat wajah Hazel.


"Tentu saja mau, tapi es krim ini ya," jawab Hazel sambil memegang junior sang suami, yang entah sejak kapan sudah berdiri.


"Dasar nakal! Bilang saja mau bikin adik buat Ed dan En, pakai cemburu cemburuan segala,"


*


*


*


"Papa! Mama! Uwek... uwek... uwek!"


Suara dari Zi membuat Hazel dan juga Zain terpaksa mengakhiri tidur nyenyaknya, setelah semalam adu gulat di atas kasur, hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan berkali-kali.


Dan keduanya yang tidur sambil berpelukan, tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun, langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, ketika melihat Zi sudah berada di sisi tempat tidur.


"Aya yang Papa dan juga Mama lalukan, menjijikkan sekali, uwek... uwek," ucap Zi yang langsung berlari keluar dari dalam kamar, sambil menutup mulutnya, seperti biasanya ia akan muntah, ketika melihat orang sedang bermesraan, apa lagi ia tadi melihat kedua orang tuanya tidak mengenakan sehelai benang pun.


Membuat Hazel dan juga Zain langsung saling pandang setelah Zi keluar dari dalam kamar.


"Sayang, putrimu seperti memiliki kelainan," ucap Hazel yang sudah berapa kali melihat Zi seperti itu.


"Sepertinya, sayang."


*


*

__ADS_1


*


Disini adakah yang menunggu kisah Zi? Kalau banyak, nanti tak bikinin novel tentang dia, tapi komen yo.


__ADS_2