
Tepat pukul dua belas malam Zain kembali ke kamar hotel, dengan satu porsi rujak keinginan sang istri, setelah susah payah ia mencarinya, dan akhirnya menemukan penjual rujak, yang sebenarnya akan segera tutup, tapi ia memaksa penjual rujak tersebut, untuk membuatkan satu porsi, dengan buah yang tersisa.
Zain menatap kantong plastik yang berisi rujak, antara tega dan tidak membawakan rujak tersebut untuk Hazel yang menginginkannya, mengingat lagi rujak yang ia bawa hanya ada buah buahan yang tersisa di tukang penjual rujak.
"Zel," panggil Zain ketika sudah berada di sisi tempat tidur, coba untuk membangunkan sang istri yang ternyata sudah terlelap.
Namun, tidak membuat Hazel terbangun dari tidurnya, dan kini Zain menggoyangkan tubuhnya, berharap sang istri terbangun.
Dan benar saja, sekarang Hazel perlahan membuka kedua bola matanya, dan langsung menautkan keningnya ketika melihat Zain berada di sisi tempat tidur.
"Sedang apa kamu disini?"
"Apa kamu lupa, kamu menyuruh aku untuk membeli rujak, dan aku sudah membawakannya," Zain pun menunjukkan kantong yang berada di satu tangannya.
"Oh, lupakan saja, aku tidak menginginkannya lagi,"
Entah mengapa mendengar perkataan Hazel, membuat Zain tidak marah, karena sudah bersusah payah mencari rujak tersebut yang memakan waktu dan juga tanaganya. Yang ada ia merasa lega, karena sang istri tidak akan makan rujak yang di bawahnya, dengan buah seadanya.
"Baiklah, tidak masalah, tidurlah kembali,"
Hazel pun kembali tertidur tanpa mengatakan apa pun lagi, mungkin karena seharian kondisinya tidak baik.
__ADS_1
Seperti malam-malam sebelumnya, Zain kini juga tidur di tempat tidur bersama sang istri, seperti biasanya, dan hanya ada guling untuk pembatasan kedua.
Namun, Zain tidak langsung memejamkan matanya, kala mengingat lagi, saat mendiang sang istri sedang hamil Zi, pasti setiap malam mendiang sang istri, tidur sambil memeluknya.
Dan saat melamun, lamunan itu terhenti, ketika melihat Hazel, kini mendekat dan langsung memeluk tubuhnya.
"Ijinkan aku tidur memelukmu Zain, ini akan membuat rasa yang sedang aku rasakan ini jauh lebih baik," pinta Hazel, mengingat saat awal-awal mengandung Ev, ia akan tidur sambil memeluk mendiang sang suami, seperti apa yang dia lakukan pada Zain saat ini.
Tentu saja Zain tidak menolak, yang ada ia balik memeluk Hazel.
Tak terasa keduanya tidur sambil berpelukan hingga pagi menjelang. Dan keduanya terbangun ketika mendengar suara Ev dan juga Zi masuk ke dalam kamarnya.
Deheman Ev, membuat Zain dan juga Hazel yang baru saja membuka kedua bola matanya, langsung saling melepas pelukan, dan beranjak dari tidurnya.
"Hayo habis ngapain semalam main peluk pelukan?" tanya Ev yang kini sudah mendekati ranjang kedua orang tuanya.
"Tentu saja tidur, malam kan, waktunya untuk tidur, Ev," sambung Zi yang berada di sampingnya. "Kamu kadang-kadang ya, pintar tapi bodoh, sudah tahu malam itu waktunya istirahat tidur, kamu masih nanya,"
"Kamu yang bodoh, Zi. Buat pasangan suami istri itu, malam juga di gunakan untuk bercocok tanam,"
"Idih, mana bisa malam-malam bercocok tanam, kamu itu ya Ev,"
__ADS_1
"Bukan bercocok tanam benih padi atau pun yang lainnya, tapi bercocok tanam benih kecebong!" kesal Ev, tidak tahu mengapa otak sahabatnya tersebut sangat lemot.
"Kecobong tidak di tanam, tapi dari telur katak, makanya kalau sekolah jangan bolos mata pelajaran,"
"Sakarepmu!" kesal Ev. Dan langsung menatap pada sang mama yang tiba-tiba mual-mual. "Ma, Mama baik-baik saja?"
Namun, tidak di jawab oleh Hazel yang langsung turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
Dan sekarang Ev menatap pada sang papa yang juga turun dari atas ranjang. "Pa, ada apa? Apa mama belum sembuh,"
"Belum,"
"Oh, semalam kan, Papa dan juga Mama pergi ke dokter, kata dokter kenapa?"
"Mama kamu hamil," jawab Zain dan membekap mulutnya, karena sudah keceplosan, padahal ia dan juga sang istri sudah sepakat untuk tidak memberi tahu dulu kehamilannya pada kedua putrinya.
"Apa, Mama hamil?!"
"Ev, kita akan punya dedek bayi,"
Bersambung.............
__ADS_1