HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Wanita Yang Lemah


__ADS_3

Zain mendengarkan semua yang Hazel ceritakan, dari dirinya yang jarang berbincang dengan sang putri karena kesibukannnya mengurus perusahaan sang mami yang jatuh ke tangannya, hingga pergi meninggalkannya berminggu minggu, ketika ia ada proyek baru di luar kota dan luar negeri, dan juga menuruti semua yang sang putri inginkan, tanpa berpikir ada manfaatnya atau tidak, apa yang sang putri inginkan.


"Apa Ev seperti ini, itu semua karena aku, Zain?" tanya Hazel lagi setelah selesai bercerita.


Dan Zain yang masih duduk di sampingnya, langsung menepuk punggung sang istri.


"Mulai sekarang, sering-sering bercengkrama dengan Ev, tanyakan segalanya, meskipun itu tidak penting, hanya itu yang dia butuhkan saat ini, Zel, tidak lebih, dan jadilah sahabat untuk putrimu sendiri, dan tidak pernah menyalahkan apa yang sudah dia lalukan, tapi bicara layaknya dengan teman,


dan memberi tahunya, apa yang sudah dia lakukan adalah sebuah kesalahan," ujar Zain, untuk menasihati sang istri.


"Aku akan mencobanya,"


"Dan, aku yakin kamu bisa,"


"Terima kasih Zain, kamu sudah mau mendengarkan aku,"


"Sama-sama, sekarang tidurlah, besok kamu harus ke sekolah Ev,"

__ADS_1


"Aku belum mengantuk,"


"Baikah, aku akan melihat Ev lagi," Zain pun langsung bangkit dari duduknya, lalu keluar dari dalam kamarnya meninggalkan sang istri.


Zain bisa bernafas lega, mengetahui Ev dan Zi sudah kembali ke kamarnya, dan keduanya sedang bercerita.


Membuat Zain mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar sang putri, padahal ia sudah membuka pintu, ia pun menutup pintu tersebut, dan meninggalkan kamar sang putri.


"Ini semua gara-gara bujang lapuk itu, jika dia tidak memberi tahu mama, tentu saja ini semua tidak akan pernah terjadi, awas saja besok, aku akan memberi pelajaran padanya," ucap kesal Ev.


"Ogah aku seperti kamu, yang bodoh!"


"Setidaknya aku tidak pernah di marahi papa," sambung Zi. "Oh ya Ev, apa mama sering marah-marah?"


"Sering banget, ingin rasanya aku tenggelamkan mama ke laut,"


"Ish bicara apa sih kamu, Ev. Tidak boleh seperti itu pada orang tua kita, mereka marah juga ada alasannya kali,"

__ADS_1


"Ah sudahlah, aku mengantuk dan jangan bicara lagi," sambung Ev, yang langsung merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Sementara itu, Zain memutuskan untuk kembali ke kamar, dan saat sudah berada di dalam kamar, matanya langsung fokus pada Hazel yang sudah terlelap di atas sofa, membuatnya langsung mendekati di mana sang istri berada.


"Ternyata di balik sikapmu yang tidak karuan, kamu tetaplah wanita yang lemah dan butuh seseorang untuk menghiburmu, ucap Zain sambil menatap pada Hazel.


Kemudian Zain mengangat tubuh Hazel, untuk memindahkannya di kasur miliknya, tidak mungkin membiarkan seorang wanita tidur di atas sofa.


Dan itu artinya, tempat tidurnya akan di tiduri oleh orang lain, selain dirinya dan juga mendiang sang istri.


Hazel membuka kedua bola matanya tepat pukul enam pagi, dan ia harus menyudahi tidurnya yang begitu nyenyak, dan baru kali ini ia tidur sangat nyenyak dan juga nyaman. Hazel yang tidur miring, langsung menatap sebuah tangan yang berada diatas tubuhnya.


Kemudian menepuk pipinya sendiri, untuk memastikan jika dia sedang tidak bermimpi tidur di peluk oleh mendiang suaminya, yang sering menghiasi mimpinya. Sakit, itu yang Hazel rasakan saat menepuk pipinya sendiri, dan itu artinya ia sedang tidak bermimpi, dan dengan segera ia membalik tubuhnya untuk mengetahui siapa pemilik tangan tersebut.


"Zain?"


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2