
Mami Camel mendengus kesal, pasalnya papi Santos sang suami, mengajaknya untuk kembali ke luar negeri.
Tentu saja papi Santos akan mengajak sang istri untuk segera pulang dari rumah sang putri, pasalnya sudah lebih dari dua minggu di rumah Hazel. Ucapan dan juga tingkah laku sang istri tidak pernah berubah, yang tentu saja bisa mencemari otak kedua cucunya, terutama Zi, yang masih sangat polos, dan papi Santos tidak ingin kedua cucunya tercemari olah sang istri yang super mesum.
"Ah sayang, aku masih ingin bersama dengan Ed dan juga En cucu kita," tolak mami Camel, yang enggan untuk kembali ke luar negeri.
"Ya sudah, jika kamu mau disini, aku yang akan pulang sendiri, anak-anak di sana juga membutuhkan kita," ujar papi Santos karena anak kembar mereka sudah kembali ke luar negeri terlebih dahulu.
"Ahhh sayang, padahal aku masih ingin bersama dengan Ed dan En,"
"Gampang, kapan-kapan datang kesini lagi,"
"Oke lah, tapi ini dulu," ujar mami Camel sambil memajukan bibirnya, mengisyaratkan agar sang suami mencium bibirnya.
"Tidak, kan puasa,"
"Heh, ini sudah lebih dari seminggu,"
"Apa kamu lupa, beberapa hari lalu kamu mengatakan apa pada Ev dan juga Zi," ujar papi Santos mengingatkan sang istri, karena sudah bicara hal purnomo pada kedua cucunya. "Dan itu artinya, puasa kamu lebih lama,"
"Ah kok begitu sih,"
"Lagian mu..." papi Santos tidak jadi meneruskan ucapannya, karena mami Camel yang masih berada di atas tempat tidur, menarik tangannya, lalu mencium sang suami dengan paksa, bukan hanya menciumnya, tapi juga melumattnya.
__ADS_1
Dan setelah beberapa saat mencium bibir sang suami, mami Camel kini melepas tautan bibirnya sambil memegang terong milik sang suami.
"Eleh, puasa apaan. Begitu saja sudah tegang,"
Namun, papi Santos tidak menanggapi ucapan sang istri, karena ia sekarang tersenyum sambil menggaruk belakang kepadanya yang tidak gatal.
"Tapi nanti nguleknya, sayang. Sekarang aku mau menemui Ev, ada yang ingin aku bicarakan dengannya,"
"Jangan bicara macam-macam,"
"Tenang saja, aman," sambung mami Camel yang langsung keluar dari dalam kamar yang ia tempati ketika menginap di rumah sang putri untuk menemui sang cucu.
Ev seolah tidak peduli dengan apa yang sang Oma bicarakan padanya, dimana mami Camel ingin Ev menjadi penerus bisnisnya dan juga bisnis Hazel, dan memintanya, jika sudah lulus dari SMA, mengikuti perintahnya untuk sekolah bisnis di luar negeri.
"Kamu paham Ev?"
"Tapi..."
"Oma sudahlah, aku tetap ingin menjadi dokter oke!" sambung Ev memotong perkataan dari mami Camel. "Lebih baik Oma keluar dari dalam kamar, aku menggantuk dan ingin tidur,"
Mami Camel menghembuskan nafasnya dengan kasar, benar apa yang Hazel katakan, tidak mudah untuk mengubah keinginan sang cucu, mengingat lagi, Hazel sudah berapa kali bercerita, jika ia meminta sang putri untuk menjadi pembisnis, tapi tetap di tolak mentah-mentah oleh Ev.
"Baiklah, tidak masalah, jika itu keinginan kamu, oma tidak akan memaksa lagi," mami Camel akhirnya tidak akan memaksa lagi dengan keinginannya sang cucu, seperti Hazel yang sudah terlebih dulu mengiyakan keinginan putrinya, padahal sebenarnya ia ingin Ev meneruskan perusahaan keluarga.
__ADS_1
Sementara itu di kamar lain, Zain terus melihat gunung kembar sang istri yang terlihat sangat menggiurkan, mungkin karena ukurannya sekarang lebih besar.
Tak terasa ia menelan ludahnya sendiri, tentu saja Hazel yang sedang memompa asi untuk kedua putranya yang berada di kamar sebelah dengan pengasuh keduanya langsung menutup wajah sang suami dengan selimut, karena memang ia sedang memeras asi diatas kasur.
"Mata di jaga," ujar Hazel, tahu tatapan mata suami tertuju ke arah mana.
"Kangen, pingin ini," Zain menunjuk salah satu gunung kembar sang istri.
"Ini punya Ed dan En, enak saja,"
"Kangen sayang, boleh ya,"
"Tidak!"
"Ish, ya udah deh, kalau begitu yang ini," Zain kini beralih menunjuk juniornya.
"Apa lagi itu, tidak mau!"
"Tapi sayang, di bawah sudah tegak, tapi bukan keadilan, yuk ah gas, kelamaan harus nunggu dua bulan lagi,"
"Ya sudah, bukan dua bulan,"
"Yes," sahut Zain senang. "Terus, satu bulan setengah, oke! Tak masalah, aku bisa main arisan untuk saat ini,"
__ADS_1
"Tiga bulan lah,"
"OH NO!!!!!!"