HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Menyesal


__ADS_3

Setelah kepergian Aca dan juga Ziu, Hazel kini berbincang dengan Ana sang sahabat yang masih berada di rumahnya, dimana ia datang bersama sang suami.


Sedangkan Zain berbincang dengan suami Ana dan juga Vano, yang menghadiri pesta tersebut.


Dan Vano yang dulu tidak menyukai jika Zain menikah dengan Hazel, lamban laun mulai menerima pernikahan tersebut, karena ia menyadari, sejauh apa pun seseorang menginginkan sesuatu, jika Tuhan tidak menghendaki, apa yang kita inginkan tidak akan pernah kita dapatkan.


Jadi Vano puas tetap hanya menjalin persahabatan dengan Hazel. Dan membuang jauh perasaan yang dulu sempat ada untuk Hazel.


Elusan lembut di perut Hazel dari Ana sang sahabat, yang sampai sekarang belum memiliki buah hati, mungkin efek obat obatan yang masa mudanya ia minum.


"Aku iri padamu Zel," ucap Ana yang masih terus mengelus perut sang sahabat. "Di usia kamu yang sudah tidak muda lagi, kamu masih bisa mengandung, dan bayi yang kamu kandung kembar, kapan aku bisa merasakan apa yang harusnya seorang wanita rasakan, yaitu hamil,"


Hazel meraih tangan Ana yang masih mengelus perutnya, lalu menggenggamnya.


"Suatu saat nanti pasti kamu akan hamil, An,"


"Sampai kapan, aku sudah tidak muda lagi, Zel,"


"Nanti, tunggu saja, pasti Tuhan akan menitipkan bayi di rahim kamu,"


"Dari dulu kamu terus mengatakan hal itu, tapi apa nyatanya, aku tidak hamil, dan dokter juga sudah mengatakan aku susah untuk hamil, Zel," tutur Ana tak bisa ia tutupi merasa sedih dengan hal itu. "Aku menyesal, dulu minum obat obatan itu,"


"Bicara apa kamu, yang sudah biarlah berlalu. Tapi meskipun kamu belum bisa mengandung, kamu sudah memiliki anak bukan, dan fokuslah pada anak-anak kamu itu," ujar Hazel yang tahu sang sahabat dan juga suaminya, mengadopsi beberapa bayi dari panti asuhan.


"Tapi aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan,"

__ADS_1


"Tidak enak An, sungguh. Lebih enak bikinnya,"


"Uh dasar, aku sedang serius kamu malah mengajak bercanda,"


"Lagian kamu galau mulu kalau sudah membicarakan seorang anak, tinggal kamu fokus pada anak adopsi kamu, mungkin bayi itu titipan dari Tuhan untukmu, rawatlah sebaik mungkin, dan anggap saja bayi itu anak kamu,"


"Aku sudah menganggap mereka sebagai anak aku sendiri,"


"Bagus," sambung Hazel, dan kini menautkan keningnya melihat sang putri kini berjalan mendekat dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi Ev pakai saat pesta. "Ev, mau ke mana kamu?"


Namun, bukannya menjawab pertanyaan sang mama, ev malah menciumi perut sang mama.


"Ev, jawab mama, kamu mau ke mana?" tanya Hazel lagi.


"Mau main, Ma. Aku pergi dulu ya,"


"Siapa juga yang mau bawa mobil, aku akan pergi bersama om Vano,"


"Apa?"


"Maksud aku mau minta antar Om Vano, soalnya aku mau pergi ke mall yang dekat dengan tempat tinggal Om Vano," ralat Ev.


"Oh, kirain mama apa," sambung Hazel yang berpikir, sang putri akan pergi dengan Vano sang sahabat.


"Aku pergi dulu ya Ma, teman-teman aku sudah menunggu di mall,"

__ADS_1


"Oke, pulang jangan malam-malam, ya,"


"Sip Ma," Ev pun langsung mencium pipi sang mama, dan pergi menghampiri Vano yang sudah berdiri di depan pintu, karena memang tadi ia sudah berpamitan ingin pulang pada Zain.


"Zel," panggil Ana setelah Ev pergi dengan Vano.


"Iya, ada apa,"


"Kamu masih ingat kisah kamu dengan Om Jimi, ayah Ev?" tanya Ana.


"Kenapa?"


"Jangan-jangan Ev akan mengikuti jejak kamu, menikah dengan pria yang sudah matang."


"Kamu ngomong apa sih, An?"


"Entahlah, pikiran aku sedang tidak beres, dan aku memiliki pikiran jika Ev ada hubungan dengan Vano,"


"Gila! Itu tidak mungkin," sahut Hazel.


"Zel, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bisa saja apa yang aku pikirkan benar,"


"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi,"


Bersambung...............

__ADS_1


Pasti pare reader pikirannya sama dengan Ana, yakin aku mah wkwkwkwk 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭


__ADS_2