
Seminggu berlalu, akhirnya Hazel dan kedua bayi kembarnya di perbolehkan untuk pulang, ketika berat badan kedua bayi kembarnya sudah ideal.
Baru semalam si kembar berada di rumah, dan baru semalam juga Zain tidak tidur untuk mengurus kedua bayinya, karena saat masih berada di rumah sakit, perawatannya lah yang mengurus si kembar dua puluh empat jam.
Zain yang benar-benar mengantuk, kini menuju tempat tidur miliknya dan juga Hazel, tidak jauh dari dua box bayi, dimana si kembar berada.
"Sayang, aku mengantuk," ucap Zain manja dan kini menyandarkan kepalanya, di bahu dang istri, ketika Hazel sedang duduk diatas kasur sambil memompa asi untuk kedua bayi kembarnya.
"Lagian, siapa suruh tidak mau menyewa baby sitter," sambung Hazel, karena Zain tidak ingin menyewa baby sitter untuk si kembar.
"Biar si kembar dekat dengan kita, sayang,"
"Eleh, memangnya jika kita menyewa baby sitter si kembar tidak akan dekat dengan kita begitu? Ada-ada saja, kita orang tuanya tentu saja si kembar akan dekat dengan kita,"
"Tapi..." Zain tidak jadi meneruskan ucapannya, karena salah satu bayi kembarnya kini menangis. "Kok nangis sayang,"
"Mungkin haus, nih beri dia susu," ujar Hazel sambil menyodorkan satu botol asi yang baru saja ia pompa.
"Harus aku, sayang?"
"Iya lah, kamu sendiri yang kekeh mengurus si kembarnya tanpa baby sitter,"
"Ya sudah," Zain pun beranjak dari duduknya, lalu menghampiri salah satu bayi kembarnya yang sedang menangis.
Setelah satu anak kembarnya tidak menangis lagi, setelah di beri susu, Zain kini kembali menuju tempat tidur dimana sang istri berada, lalu menjatuhkan tubuhnya kasar di samping Hazel, kemudian memeluk pinggangnya ketika sang istri masih duduk di tempatnya.
"Sayang,"
"Apa lagi?"
"Oke, kita sewa baby sitter,"
"Nah begitu dong, kamu pikir mengurus bayi mudah, tidak sayang, apa lagi bayi kita ada dua,"
"Hooh, benar apa yang kamu katakan, kalau tidak menyewa baby sitter, tentu saja waktu kita berduaan jadi semakin dikit,"
"Dasar," Hazel menimpali ucapan sang suami.
__ADS_1
"Sayang,"
"Apa lagi sih?"
"Pengin,"
Hazel menautkan keningnya mendengar apa yang sang suami katakan. "Pengin? Pengin apa?"
"Masuk, gatel nih sayang," kini Hazel mencubit lengan sang suami.
Membuat Zain langsung meringis kesakitan. "Sayang, ada yang kamu lakukan sih,"
"Tidak punya otak kamu ya,"
"Kenapa memangnya sayang?" tanya Zain yang kini sudah beranjak dari tempatnya, lalu menatap pada sang istri.
"Masih tanya kenapa, dasar! Baru seminggu lebih aku melahirkan, dan rasa sakit itu masih terbayang di otakku, kamu sudah minta jatah, dasar tidak berkeprimanusiaan,"
"Terus kapan?"
"Dua bulan lagi,"
"Tentu,"
"Mana tahan sayang,"
"Eleh, mana tahan, tujuh belas tahun kamu menduda, masa dua bulan bilang lama,"
"Tentu dong sayang, nanti tidak ada yang memijat milikkku, apa ya harus pijat dengan batuan miss lux, kan tidak enak,"
"Deritamu!"
"Ah kamu jahat sayang,"
"Biarin,"
"Ya sudah cium boleh ya," pinta Zain yang kini mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri.
__ADS_1
Namun, baru saja menempelkan bibirnya di bibir Hazel, Zain segera menjauhkan bibirnya tersebut, ketika ada yang masuk ke dalam kamar dimana keduanya berada.
"Ya ampun! Ada saja cobaan," keluh Zain, dan kini tersenyum melihat Zi sang putrilah yang masuk ke dalam kamar.
"Selamat pagi Ma, Pa," sapa Zi, dan Hazel hanya tersenyum untuk menyapa sapaan putrinya tersebut.
"Pagi Zi, papa sudah bilang padamu, kalau mau masuk ke kamar ketuk pintu dulu,"
"Maaf Pa, tidak sempat, aku ingin melihat Tukiman dan Tukimin," sahut Zi yang kini menuju dimana kedua adik bayinya berada.
"Zi, Ed dan En,"
"Tidak, aku mau Tukiman dan juga Tukimin," sambung Zi dan langsung mencium pipi kedua adiknya yang sangat menggemaskan.
Membuat Zain kini menoleh pada sang istri. "Sudah benar di kasih nama yang bagus, dia malah nyeleneh,"
"Putrimu," sahut Hazel, dan ingin turun dari atas kasur.
Namun, ia urungkan ketika Zi kini mendekatinya.
"Papa,"
"Apa lagi,"
"Pengin adik cewek, buatin ya,"
"Kamu kira kue, buatin," sahut Zain.
"Ya bukan, Papa dan juga Mama main kuda kudaan, nanti dapat adik cewek,"
Zain menatap pada sang putri, setelah mendengar apa yang dikatakannya, tentu saja sambil memicingkan matanya.
"Kamu tahu dari mana, kata-kata yang baru saja kamu ucapkan?" tanya Zain penuh selidik.
"Oma Camel, Pa," jawab Zi polos, karena memang mami Camel dan juga papi Santos sudah tiga hari lebih, berkunjung.
Membuat Zain langsung menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban dari sang putri.
__ADS_1
Yang mau Ekstra part lagi komen ya, oke oke oke!