
Kegembiraan tak bisa di tutupi lagi oleh Ev dan juga Zi, ketika mengetahui sang mama sedang hamil, yang artinya mereka akan menjadi seorang kakak, sesuatu yang sangat keduanya dambakan.
Ev pun langsung menghubungi opa dan juga omanya yang berada di luar negeri, untuk memberi tahu kabar gembira tersebut, tak lupa akun sosial medianya ia unggul foto sang mama yang sedang ia cium, dengan caption otw dedek bayi.
Begitupun dengan Zi, yang juga melakukan hal yang sama di akun media sosialnya, tak lupa ia menghubungi tante Jane dan juga suaminya, yang ia anggap saudaraku sendiri, untuk memberi tahu betapa ia sangat bahagia saat mengetahui sang mama sedang hamil.
Sedangkan Hazel dan juga Zain, hanya bisa saling pandang satu sama lain, melihat Kegembiraan dari kedua putrinya.
Dan saat ini keduanya hanya pasrah, ketika kedua putrinya menarik tangan keduanya untung mendekat dan memeluknya bersamaan.
Setelah Ev dan juga Zi melepas pelukannya, keduanya kini pergi meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan bahagia.
"Aku mau punya adik Ev,"
"Aku juga," sambung Ev dan terus berjalan menuju kamarnya.
"Aku harap adik bayi yang sedang di kandung mama, cewek,"
"Tidak bisa, harus cowok,"
"Tidak bisa Ev, harus cewek, lucu tahu punya adik cewek, pasti imut dan menggemaskan," ujar Zi yang menginginkan adik perempuan.
"Tidak bisa, pokoknya harus cowok, males aku punya adik cewek, nanti seperti kamu lagi, dodol, ini itu tidak tahu, bikin pusing,"
"Kamu pusing? Minum obat, Ev,"
"Tuh kan, belum apa-apa sudah kambuh dodolnya,"
"Dodol enak loh Ev,"
"Iya in aja lah,"
__ADS_1
"Ev,"
"Apa lagi," sahut Ev yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Mama bisa hamil itu prosesnya bagaimana sih?"
Ev kini menatap pada sang sahabat sekaligus saudara barunya.
"Apa kamu lupa pelajaran yang Mr. Fahmi beri tahu?" tanya Ev menyebut guru biologinya.
"Yang mana? Aku tidak mengingatnya,"
"Ya ampun, untuk apa kamu sekolah, jika hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri, semua pelajaran di sekolah,"
"Tentu saja ingin pintar," sambung Zi, menanggapi ucapan dari Ev.
"Pintar tidak, bodoh iya,"
"Iya, iya. Dan diamlah, jangan bicara lagi,"
"Eh nanti dulu, pertanyaan aku belum di jawab, proses kenapa Mama bisa hamil itu gimana?"
"Minum minyak tanah," sahut Ev kesal, karena apa pun yang akan ia jelaskan, Ev yakin, Zi tidak akan paham.
"Boleh di coba, aku juga pingin hamil,"
"Gih sana coba, abis minum minyak tanah langsung bakar tuh mulut,"
"Untuk apa?"
"Pikir saja sendiri," sahut Ev kesal, yang langsung beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Ev, mau ke mana?" tanya Zi, ketika Ev kini membuka pintu kamarnya.
"Lihat terong, dan kamu tidak usah ikut,"
Brak!
Ev membanting pintu kamarnya, merasa kesel dengan sang sahabat.
"Eh, aku nyari minyak tanah ke mana ya," ucap Zi, setelah kepergian Ev.
*
*
*
"Maafkan aku Zel, tadi aku keceplosan, mengatakan kamu hamil pada mereka," ucap Zain setelah kepergian kedua putrinya.
"Tak masalah, cepat atau lambat mereka akan tahu, hanya saja..."
Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, membuat Zain yang berdiri di sampingnya, kini menatap wajah sang istri.
"Hanya saja apa Zel? Tentang perceraian kita?"
Hazel pun langsung mengangguk, karena ia yakin, tidak mudah untuk segera bercerai dengan Zain, saat ia sedang berbadan dua.
Zain kini pun meraih satu tangan Hazel dan menepuknya.
"Aku rasa untuk saat ini, kita tidak usah membahas tentang perceraian, dan fokus saja pada kehamilan kamu, dan putri kita yang harus mendapat pengawasan ekstra," ucap Zain, padahal awalnya ia lah yang pertama kali membahas tentang perceraian.
Bersambung............
__ADS_1