HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Ekstra Part 7


__ADS_3

Pasangan pengantin baru tidak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, yang terlihat begitu mesra dimana pun dan kapanpun, berbeda dengan Ziu dan juga Aca, ketika keduanya sudah di percaya untuk memiliki buah hati yang sekarang masih berada di kandungan Aca.


"Terus saja acuh, aku ini istri kamu sekarang, dan bayi yang sedang aku kandung juga anak kamu," ujar Aca pada Ziu sang suami, yang sedang menyiapkan sarapan.


"Iya aku tahu, jangan di ingatkan terus,"


"Iya, iya, saja terus,"


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Ziu yang sudah selesai membuat nasi goreng, dan kini meletakkan satu piring nasi goreng tersebut di atas meja tepat dihadapan sang istri, yang sedari tadi duduk di salah satu kursi meja makan. "Makanlah,"


"Terima kasih," ucap Aca. Dan sekarang menatap pada Ziu yang sudah duduk di kursi tidak jauh darinya. "Kenapa kamu sekarang sangat dingin padaku hah? Tidak seperti saat kita belum menikah. Apa kamu masih tidak percaya, jika bayi yang aku kandung adalah anak kamu?"


"Aku percaya?"


"Kalau percaya, kenapa setelah sebulan kita menikah, kamu berubah seperti ini?"


"Aku tetap seperti biasa,"


"Bohong, jika masih seperti biasa, kenapa kamu menghindar hah? Apa karena ada wanita lain?"


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja tidak lah?"


"Terus, kenapa kamu tidak ingin menyentuh aku lagi, bosan?" tanya Aca penasaran, karena memang setelah menikah dan mengetahui jika ia sedang hamil, Ziu tidak pernah meminta melakukan hubungan suami istri, padahal sebelum menikah, mereka sudah seperti suami istri yang kapan pun mereka mau pasti akan melakukannya.


"Apa kamu tidak ingat, apa yang dokter katakan, saat pertama kali memeriksakan kandungan kamu?"


"Tidak, memang bicara apa?" tanya Aca yang tidak mengingat.


"Katanya jangan berhubungan badan, ketika kamu sedang mengandung dan usia kandungannya baru di trimester satu, yang bisa membahayakan janin di dalam perut, begitu,"


Aca menghembuskan nafasnya kasar mendengar apa yang sang suami katakan.

__ADS_1


"Ya ampun, jadi karena itu kamu dingin padaku?"


Tentu saja Ziu menganggukkan kepalanya, merasa apa yang dokter katakan itu benar, mengingat lagi, dulu Hazel pernah masuk rumah sakit setelah berhubungan badan, pada awal kehamilannya, dan Ziu tidak mau itu terjadi pada sang istri.


"Tergantung mainnya lah, kalau mainnya sarkass tentu saja itu tidak akan terjadi,"


"Nah itu, kamu kan mainnya sarkass," sambung Ziu, tahu betapa ganasnya sang istri jika berada di atas kasur.


"Tapi kalau sedang hamil bisa di kondisikan," ucap Aca yang kini beranjak dari duduknya lalu mendekati dimana Ziu duduk dan meraih satu tangannya. "Yuk kalau tidak percaya buktikan saja, pokoknya aman, dan kebetulan aku sedang gatel,"


"Benar nih aman?"


"Tentu, makanya kita buktikan sekarang," ajak Aca sambil menarik tangan Ziu untuk beranjak dari duduknya.


"Baiklah sebenarnya, sudah lama aku juga gatel," sambung Ziu yang memiliki angin segar untuk menikmati dunianya, setelah sebulan menahannya hanya takut terjadi sesuatu pada sang istri dan juga calon buah hatinya. "Sebentar Bos telepon," ucap Ziu saat mengambil ponselnya yang berdering di dalam kantong celananya, dan yang menghubunginya adalah Zain sang Bos.


Namun, ketika ia ingin mengangkat sambungan ponselnya, Aca mengambil ponsel tersebut, dan ia yang mengangkatnya.


*


*


*


Dan di tempat lain, Zi menautkan keningnya, ketika menghubungi om Ziu menggunakan ponsel sang papa, istrinya lah yang mengangkat sambungan ponselnya, dan mengatakan kata lele, sebelum mematikan ponselnya, padahal ia belum mengatakan apa pun.


"Bagaimana Zi, Ziu bisa di hubungi?" tanya Zain pada sang putri, yang ingin meminta Ziu untuk mengantarnya pergi.


"Pa," panggil Zi tanpa menjawab pertanyaan sang papa.


"Iya ada apa?"

__ADS_1


"Lele kan hidupnya di air?"


"Iya, kenapa?"


"Ke mana lele akan mencari kehangatan?"


"Ke lubangnya lah," jawab Ev, karena semua anggota keluarga sedang berada di meja makan.


"Lubang? Lubang apa?" tanya Zi yang kini menatap pada Ev.


"Lubang donat,"


Mendengar jawaban dari Ev, kini Zi menoleh pada sang mama, karena ia tidak percaya dengan jawaban saudaranya tersebut. "Emang iya Ma?"


"Iya in aja Ma, otak dia tuh tidak sampai," sahut Ev. "Perasaan kamu berapa kali pergi sama Om Vano, apa dia tidak memberikan pelajaran untuk kamu hah?"


Mendengar pertanyaan Ev, membuat Zain dan juga Hazel menatap pada Zi.


"Zi, kamu pergi bersama Vano?" tanya Zain pada sang putri.


"Iya Pa,"


"Gawat," sambung Hazel yang tahu bagaimana Vano.


*


*


*


Pasti di part ini banyak yang akan komen, Zi jangan sama Vano, yang suka celup sana celup sini, aku tidak setuju, wkwkwkwk 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2