HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Perceraian


__ADS_3

"Sekali lagi maafkan, aku. Tadi aku sedang bermimpi dengan suamiku," ucap Hazel lagi, dengan jujur, karena memang dia sedang bermimpi bermesraan dengan sang suami.


Dengan segera ia pun turun dari tempat tidur Zain, dan karena lantai tempatnya berpijak juga licin, ia pun kehilangan keseimbangan, membuatnya jatuh, tepat diatas tubuh Zain, dengan kedua bibir bertemu, membuat keduanya sejenak diam mematung, sebelum akhirnya Hazel beranjak dari atas tubuh sang suami, diikuti oleh Zain.


"Maaf aku tidak sengaja,"


"Tidak apa-apa" sambung Zain sambil menahan sakit, diarea pinggangnya.


Bruk!


Hazel pun kembali jatuh, saat ingin melangkahkan kakinya. Karena memang lantai yang dia injak masih sangat licin, tentu dengan berpegang handuk yang Zain kenakan, satu satunya yang dekat dengan jangkauan tangan Hazel.


Membuat Handuk yang melilit di pinggang Zain terlepas dari tempatnya.


Hazel yang melihat tubuh polos sang suami, langsung memalingkan wajahnya.


Sedangkan Zain langsung mengambil handuknya kembali, dan memilitkan di pinggangnya, sebelum meninggalkan sang istri menuju ruang ganti.


Hazel yang sudah beranjak dari tempatnya langsung duduk di pinggiran tempat tidur sambil menggelengkan kepalanya, ketika melihat dengan jelas tubuh Zain yang polos, apa lagi melihat juniornya.


"Ya ampun, aku menginginkan itu," ucap Hazel yang langsung membekap mulutnya dan memukul kepalanya sendiri. "Ini tidak benar, Zel. Meskipun dia normal, Lupakan hal itu, " ucapnya lagi pada dirinya sendiri, yang baru percaya jika Zain normal, dari pembicaraannya tadi di dalam mobil.


Kemudian ia beranjak dari duduknya, dan berjalan dengan perlahan melewati lantai yang licin. "Dia punya pembantu tidak sih, masa lantai licin seperti ini," gerutu Hazel, dan menautkan keningnya, saat sudah berada di pintu kamar tersebut. Pasalnya, ia tidak bisa membukanya.

__ADS_1


"Zain!" teriak Hazel. "Ke mana dia, apa jangan-jangan dia yang sengaja mengunci pintu ini," Hazel dengan pikirannya, dan berteriak lebih kencang lagi untuk memanggil sang suami.


Dan tak berselang lama, Zain pun keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya.


"Kamu sengaja mengunci kamar ini? Apa maksudku? Kamu bilang akan selalu setia pada istri kamu, tapi kamu sudah berpikir tidak benar, dengan mengunci aku disini!"


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah mengunci pintu,"


"Ini buktinya, pintu terkunci,"


"Tidak mungkin," Zain pun langsung menuju pintu, dan benar, ia mendapati pintu kamarnya terkunci, dan baru sadar tidak ada kunci menggelantung di lubang kunci, dan itu artinya pintu tersebut di kunci dari luar. "Ziu!" teriak Zain dengan kencang sambil menendang daun pintu, karena ia yakin, Ziu lah yang mengunci pintu tersebut.


"Katakan untuk apa kamu mengunci aku, hah?"


"Aku tidak mengunci kamu,"


"Ini ulah asisten aku," jawab Zain yang langsung berjalan menuju sebuah sofa yang berada di dalam kamar tersebut, diikuti oleh Hazel dari belakang.


Zain menoleh pada Hazel yang ikut duduk di sofa panjang yang ia duduki.


"Kamu tunggu saja sampai Ziu membuka pintu,"


"Baikah, dan ini saatnya kita membicarakan perceraian kita," sambung Hazel, mengingat lagi, tadi dirinya dan juga Zain, sudah membicarakan tentang perceraian di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku ikut denganmu saja,"


"Tapi jangan sampai Ev dan juga Zi mengetahui rencana kita, karena merekalah yang begitu bahagia dengan pernikahan kita,"


"Baiklah, oh ya bagaimana jika dia curiga karena kita tidak tinggal bersama?"


"Kita ikuti mau Ev dan juga Zi, jika Ev ingin aku tinggal di sini beberapa hari, aku akan mengikutinya, dan juga sebaliknya,"


"Oke, aku paham,"


"Dan kita tetap berada di dalam kamar yang sama..." Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, karena ponselnya berdering, dan dia pun langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, lalu mengangkatnya, karena dari pihak sekolah sang putri, yang menghubunginya. "Tidak mungkin," ucap Hazel sambil menutup mulutnya, ketika sudah mengangkat sambungan ponselnya. "Baiklah, saya akan datang,"


"Zel, ada apa?" tanya Zain ketika melihat raut wajah sang istri berubah drastis dan sekarang penuh dengan kemarahan.


"Ev,"


"Ada apa dengan Ev?"


"Dia melakukan kesalahan di sekolah, dan itu benar-benar di luar nalarku, dan pihak sekolah memanggilku untuk datang besok,"


"Aku akan menemanimu,"


Mendengar ucapan Zain, membuat Hazel langsung menoleh kearahnya sambil menautkan kedua alisnya. "Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk saat ini, dia juga putriku,"


Bersambung...........


__ADS_2