
Ev yang baru masuk ke dalam kelas begitu bingung, tidak biasanya kelas pagi-pagi sudah riuh, entah apa yang para siswa bahas.
Brak!
"Woy, berisik! Kalau ada gosip terbaru, kasih tahu lah," Ev menggebrak meja, membuat seluruh murid yang sedang riuh di dalam kelas, langsung menatap pada Ev.
"Makanya datang tuh pagian, biar tahu gosip terbaru,"
"Buka gosip kali, ini fakta," sambung murid lainnya.
"Lagian datang telat mulu, tidak sekalian nanti siang datangnya," sahut murid yang lainnya, menyindir Ev yang selalu telat datang ke sekolah.
"Biarpun aku selalu telat, tapi nilai ulangan aku di atas kalian weh," Ev membela dirinya sendiri.
"Iya Ev, heran kita sama kamu, padahal kamu salah satu murid yang bandel, tapi tetep saja nilai kamu paling bagus," sambung murid lainnya, yang mengakui kecerdasan Ev.
"Eleh paling kalau ulangan nyontek kau Ev,"
"Matamu! Memang kamu!" seru Ev pada murid laki-laki tersebut "Meskipun aku tidak mengikuti pelajaran, aku bisa dapat nilai bukan seratus, seribu pun aku bisa, kampret!"
"Eleh sombong,"
"Kalau iya kenapa, masalah buat dirimu!"
"Sudah, sudah, Ev memang yang terbaik," Zi mendekati Ev yang masih berdiri di tempatnya.
"Anak pintar," Ev tersenyum lebar, lalu memeluk bahu Zi yang sudah mendekatinya.
__ADS_1
"Ev, kamu harus lihat ini," Zi menyodorkan sebuah kartu undangan kehadapannya.
Membuat Ev langsung menautkan keningnya, lalu tertawa kencang, ketika sudah membaca surat undang yang sekarang berada di tangannya.
"Jadi bujang lapuk mau menikah?" tanya Ev, ketika melihat kartu undangan tersebut, tertulis nama Mr. Joni dengan seorang wanita.
"Iya Ev," sambung salah satu murid laki-laki.
"Bagus, siapa tahu dengan dia menikah, tidak kejam lagi," ujar Ev, mengingat lagi Mr. Joni termasuk guru BP yang tidak segan-segan memberi hukuman berat pada murid yang melakukan kesalahan.
"Biar kau tidak dapat hukuman lagi ya, Ev?"
"Kamu juga kali," sahut Ev sambil melirik murid laki-laki tersebut.
"Merdeka Ev,"
"Cie, cie mau kawin," ucap Ev pada Mr, Joni saat dia yang ingin menuju ke kantin berpapasan dengan Mr. Joni.
"Ev, ini masih pelajaran sekolah, mau ke mana kamu?"
"Kantin Mr."
"Kembali ke kelas!" perintahnya, karena memang belum waktunya jam istirahat.
"Lapar Mr,"
"Ev!"
__ADS_1
"Ish, aku kira Mr. Bakal berubah karena akan menikah, kok malah tambah galak, jangan seperti itu Mr. Nanti calon istri Mr. Kabur loh,"
"Ev masuk! Buruan!"
"Ish..."
"Ev!" teriak Mr. Joni lagi sambil mendorong tubuh Ev.
Membuat Ev begitu bingung dengan sikap Mr. Joni padanya, karena selama ini, seberat apa pun kesalahan Ev, tidak pernah Mr. Joni kasar padanya seperti barusan.
"Masuk ke kelasmu, sekarang!" teriaknya lagi dengan nada yang dua kali lebih tinggi dari sebelumnya.
Tentu saja membuat Ev langsung berlari menuju kelasnya. "Ada apa dengan Mr. Joni?" tanya Ev pada dirinya sendiri, setelah menjauh darinya.
*
*
*
Vano begitu terkejut, mendengar kabar, jika Hazel wanita yang selama ini dia kejar cintanya, ternyata akan menikah. Dan alangkah terkejutnya dia, saat tahu pria yang akan menikahinya adalah Zain, yang dia tahu profesinya sama seperti dia seorang aktor dan juga model.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak ingin melihat Hazel menikah dengan pria lain, apa lagi pria sok baik dan pria aneh seperti Zain," ucap Vano yang merasa Zain adalah pria aneh, pasalnya dia yang pernah syuting dan pemotretan bersama dengan Zain, selalu melihatnya menyendiri di lokasi syuting, tanpa mau berbicara dengan rekan artis dan model lainnya, apalagi perempuan, dan berbicara hanya saat ada scane saja.
Vano yang sedang berada di ruang ganti saat dia akan melakukan pemotretan, kini beranjak dari duduknya untuk menemui Zain yang kebetulan berada di ruang sebelah, karena keduanya ada pemotretan bersama.
Bersambung.............
__ADS_1