
Setelah tidak berhasil membujuk Hazel untuk mengurungkan niatnya menikah dengan Zain.
Vano kini mendatangi papi Santos, untuk membujuknya agar membatalkan pernikahan Hazel, dengan menceritakan jika Zain tidak normal.
"Tos, kamu harus membatalkan pernikahan Hazel, kamu tidak mau kan, mempunyai menantu tidak normal seperti dia," Vano terus mendesak papi Santos.
"Van, aku tidak percaya, jika Zain tidak normal. Dia punya anak, loh,"
"Bisa saja pria tidak normal punya anak, Tos,"
"Tapi dia sudah pernah menghabiskan malam bersama dengan Hazel, jika dia tidak normal, tentu saja itu tidak akan pernah terjadi,"
"Apa? Menghabiskan malam dengan Hazel?" tanya Vano, tidak percaya dengan apa yang baru saja papi Santos katakan.
"Ya, Van. Makanya itu, aku ingin Hazel menikah dengannya, secepatnya,"
"Ah, kenapa kamu tidak menyuruh Hazel menikah denganku saja sih, Tos,"
"Aku sudah pernah memberi tahu kamu, berubahlah jika ingin mendekati Hazel, tapi apa? Kamu tidak pernah berubah,"
"Kata siapa aku tidak berubah, aku sudah berubah,"
"Iya, tapi seperti bunglon,"
"Itu karena..."
__ADS_1
"Jangan banyak alasan Van," sambung papi Santos memotong perkataan Vano. "Lebih baik kamu nikahi wanita itu, yang sedang mengandung anak kamu, jadilah pria yang bertanggung jawab,"
Vano menautkan kedua alisnya mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut.
"Aku tahu semuanya Van, meskipun aku tidak tinggal disini lagi, dan itu mengapa aku tidak mengatakan iya, ketika kamu ingin melamar Hazel, karena aku tahu, kamu sedang ada masalah,"
Vano mengacak acak rambutnya sendiri, karena sang sahabat mengetahui masalah dirinya yang sudah dia tutup rapat.
"Tos, dia bukan anakku,"
"Tapi wanita itu bilang, kamu ayah anak yang sedang di kandungnya, kamu pernah menghabiskan malam dengannya kan?"
"Iya, tapi bukan dengan aku saja, Tos. Dia tidur,"
"Selamat malam," sapa Zain yang baru masuk ke dalam rumah.
"Malam," sahut papi Santos, yang kini baranjak dari duduknya, dan menghampiri Zain. "Zain,"
"Iya Om," ujar Zain yang umurnya hampir sama dengan papi Santos.
"Kenapa tidak memberi tahu, jika ingin datang, atau sudah ada janji dengan Hazel?"
"Tidak Om, aku datang ke sini untuk bertemu dengan Om,"
"Oh begitu, silakan duduk," perintah Papi Santos.
__ADS_1
Sedangkan itu, Vano yang juga berada di ruang tamu, beranjak dari duduknya sambil menatap tidak suka pada Zain, yang hanya di balas dengan senyuman oleh Zain, kemudian Vano berpamitan pulang.
"Om, aku ingin hari pernikahan aku dan juga Hazel di majukan," Zain langsung pada intinya, kenapa dia datang malam-malam ke rumah calon istrinya.
"Iya Pi, sebenarnya aku juga ingin mengatakan hal yang sama, seperti yang calon suamiku katakan," sambung Hazel, yang tiba-tiba datang ke ruang tamu, lalu duduk di samping Zain. "Kenapa kita sehati ya," kini Hazel berbicara pada Zain sambil mengukir senyum.
Tentu saja hal tersebut membuat papi Santos bingung.
"Besok saja Pi, kita menikahinya," usul Hazel, lalu menoleh pada Zain yang berada di sampingnya. "Iya kan, sayang?"
Zain begitu terkejut, Hazel memanggilnya sayang, membuatnya sedikit grogi.
"Sayang, kenapa tidak di jawab. Jawab dong," Hazel kini memeluk lengan Zain.
"I... iya Om, benar apa yang Hazel katakan,"
"Kok, masih panggil Hazel. Panggil sayang dong, kamu gimana sih, sayang,"
Zain benar-benar tidak mengerti dengan sikap Hazel, yang menurutnya sangat aneh.
"Cih, sory lah yah, aku panggil sayang, pada pria tidak normal seperti kamu, aku melakukan ini, agar kedua orang tuaku cepat kembali, dan tidak lagi ada yang mengatur-atur aku," batin Hazel sambil mengukir senyum.
"Iya, sayang," ucap Zain, yang juga mengukir senyum. "Uwek, sayang, amit-amit, aku harus panggil sayang pada wanita sepertimu," batin Zain juga, sambil membalas senyum Hazel.
Bersambung.................
__ADS_1