
Setelah sang putri menutup pintu kamar, Hazel langsung menggelengkan kepalanya. "Maafkan putriku, Zain. Diusianya, sudah bisa mengatakan hal seperti itu," ucap Hazel merasa tidak enak pada sang suami atas ucapan Ev.
"Ev tidak salah, untuk apa kamu berkata seperti itu,"
"Tapi kamu mendengar sendiri apa yang dia katakan, seharusnya tidak di katakan oleh gadis yang masih duduk di kelas dua SMA,"
"Tidak masalah, sekarang tugas kita untuk mengarahkan dia mana yang baik dan juga tidak,"
"Tapi aku merasa, tidak becus mengurus anakku,"
Zain yang melihat raut wajah sang istri berubah, kini meraih dagunya, agar Hazel menatap kearahnya.
"Jangan bersedih Zel, setiap anak berbeda beda, jadi Ev yang sekarang bukanlah salah kamu, hanya saja diusianya sekarang, dia sedang mencari jati diri dan mudah di pengaruhi oleh lingkungan sekitar, dan peran kita sebagai orang tua, mengawasi dan menasihatinya, itu saja, pokoknya kamu jangan bersedih, aku akan membantu kamu mendidik Ev, karena dia sekarang adalah putriku,"
"Terima kasih, Zain,"
"Sama-sama," balasnya dan kini menbawa sang istri ke dalam pelukannya. "Zel, kamu belum sarapan, bagaimana jika kamu sarapan dulu,"
"Aku tidak ingin sarapan,"
__ADS_1
"Tapi kamu butuh nutrisi, anak kita juga membutuhkan nutrisi juga, loh. Kalau kamu tidak makan bagaimana anak kita mendapat nutrisi," ujar Zain yang kini melepas pelukannya, lalu turun dari tempat tidur. "Aku akan mengambil sarapan. Kamu tetap disini,"
"Tapi..."
"Tidak ada tapi tapian," Zain memotong perkataan Hazel dan langsung keluar dari dalam kamarnya.
Tak berselang lama, Zain kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
Tentu saja Hazel langsung menutup hidungnya, karena ia pasti akan mual ketika mencium bau makanan.
"Zain, singkirkan itu,"
"Iya aku memang butuh nutrisi, tapi bukan nutrisi itu, tapi nutrisi yang lainnya," sambung Hazel.
"Yang lain? Apa itu?"
"Burung kamu," Hazel langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan, mengatakan yang seharusnya tidak ia katakan. Karena memang ia merindukan sarangnya kedatangan tamu, pasalnya selama menikah dengan Zain, ia tidak lagi menggunakan benda mainannya yang bisa memuaskannya.
Membuat Zain yang mendengar perkataan sang istri, tahu arah ucapan Hazel, dan setelahnya entah mengapa detak jantungnya berdetak tidak seirama, dan memacun hasratnya timbul, karena begitupun dengan Zain, sudah sangat lama ia tidak bemain dengan miss soap.
__ADS_1
Kemudian Zain menaruh nampan yang ia bawa diatas meja nakas, lalu naik keatas tempat tidur dan duduk tepat di hadapan Hazel.
"Yakin kamu menginginkan itu?"
"Iya. Eh tidak, eh iya au ah gelap," jawab Hazel yang langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leher sang suami, lalu mencium bibir Zain, dan tidak mendapat penolakan dari pemilik bibir, dimana Zain kini balik memeluk tubuh Hazel, dan perlahan merebahkan tubuhnya.
Hazel yang asik dengan bibir sang suami, baru sadar jika ia sekarang sudah berada di bawah kungkungan Zain.
"Zain," ucapnya, setelah melepas tautan bibirnya.
"Jika kamu menginginkannya, aku akan melakukannya, jika kamu tidak menginginkannya, aku tidak akan memaksa, Zel," sambung Zain. Tentu ia akan merasa kecewa jika sang istri tidak menginginkannya, karena ia sudah terpancing dengan apa yang sang istri lakukan. Tidak seperti saat beradegan mesra dengan lawan mainnya dalam sebuah film, yang sama sekali tidak terpancing, meskipun sering berciuman, seperti ciuman yang baru saja Hazel lakukan.
Dan kini Zain tersenyum senang ketika sang istri menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan ingin melakukannya. Tanpa basa basi lagi, ia kini yang mencium bibir sang istri, dengan kedua tangan bergerak melepas pakaian milik Hazel, dan juga pakaian yang ia kenakan.
Bersambung..............
"Ish Gantung kan," reader said.
Author "Praktek sendiri bisa kan, kebetulan cuaca mendukung, aku ngantuk mau bobo dulu, dadah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,"
__ADS_1