HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
SABAR MENUNGGU


__ADS_3

Bita yang terkejut karena bibirnya sekarang berada tepat diatas bibir Vano, segera menjauhkan bibirnya tersebut.


Namun, Vano menarik belakang kepalanya hingga bibir keduanya kembali saling menempel.


Bukan hanya menempel tapi Vano kini menciumnya. Tentu saja membuat Bita kesal, dan melepaskan diri dari Vano dengan cara mencubit perutnya dengan kencang.


Hingga Vano mengaduh kesakitan, dan menatap pada Bita yang sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" seru Vano.


"Harusnya aku yang bertanya papa Pak Vano, apa yang Pak Vano lalukan hah?!" kesal Bita karena ia yakin tadi Vano memang sengaja mencium bibirnya.


"Mencium bibirmu, eh ternyata rasanya tidak enak. Menyesal aku mencium bibirmu, pahit!"


"Enak saja, Pak Vano pikir brotowali pahit. Wong pacarku selalu bilang bibirku manis,"


Vano menautkan keningnya mendengar ucapan Bita, bukan karena perkataannya terakhir, karena wajar bagi Bita yang sudah dewasa berciuman dengan pasangannya.


Tapi tentang kata brotowali yang baru saja di ucapkannya.


Kemudian Vano menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, mengenai pembicaraannya tadi tentang brotowali, dan dari kata pahit yang Bita ucapkan, Vano yakin jika perawat sang ibu akan merencanakan sesuatu padanya.


"Jadi brotowali itu pahit?" tanya Vano.


"Iya," jawab Bita yang langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan, mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan, karena niatnya ingin memberi pelajaran pada Vano dengan brotowali. "Maksud aku tidak Pak, rasanya manis," ralat Bita.


"Oh ya?" tanya Vano yang kini beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati Bita. "Kamu kira aku bisa dibohongi? Tidak!"


"Kabur!!!!" Bita pun langsung berlari ketika Vano akan menarik tangannya.


***


Pagi harinya, tidak biasanya ibu Vivi mengajak Bita untuk jalan-jalan di taman rumahnya yang begitu besar.

__ADS_1


Tentu saja sampai saat ini Bita masih bertanya tanya, padahal tulang punggung di rumah yang sangat mewah dan besar tersebut adalah Vano.


Tapi dia hanya seorang model dan juga aktor, masa sih penghasilannya sangat besar hingga kekayaannya tidak pernah habis, yang ada semakin hari semakin melimpah, tentu saja Bita tahu. Karena Vano baru saja membeli sebuah vila mewah dan juga beberapa properti lainnya.


"Bu," panggil Bita yang berjalan bergandengan tangan dengan ibu Vivi mengelilingi tamat tersebut, dengan hamparan berbagai bunga yang sangat indah.


"Iya,"


"Pak Vano selain sebagai model dan juga aktor, apa dia juga memiliki pekerjaan lain?" tanya bita penasaran.


"Ada,"


"Apa?"


"Dia memiliki saham di beberapa perusahaan properti," jawab ibu Vivi.


"Oh pantes saja, Pak Vano kaya raya,"


"Untuk apa kaya raya, kalau tidak punya istri," kata Ibu Vivi yang sangat ingin melihat sang putra menikah.


Membuat ibu Vivi dan juga bita segera menghentikan langkah kakinya, dan menatap pada Vano.


"Dasar jaelangkung, datang tak di jemput pulang tidak diantar," kata Bita sambil melirik tidak suka pada Vano, yang semalam menciumnya.


Namun, tidak mendapat tanggapan dari Vano yang kini tersenyum pada sang ibu, dan melepas tangan Bita yang masih menggandeng tangan ibu Vivi. "Minggir!" perintah Vano yang langsung memeluk bahu sang ibu, kemudian melangkahkan kakinya. "Hari ini aku tidak bekerja Bu, Ibu mau pergi ke mana? Aku akan mengantar ibu, ke mana pun ibu mau pergi,"


"Ke sebuah butik," jawab ibu Vivi.


"Baiklah, ibu boleh membeli pakaian yang ibu inginkan,"


"Ibu tidak mau beli pakaian, pakaian ibu masih banyak yang belum ibu pakai,"


"Terus, ibu ke butik mau apa jika bukan beli pakaian,"

__ADS_1


"Mungkin mau beli bahan bangunan Pak," sahut Bita memotong perkataan keduanya.


"Tidak lucu!" kata Vano sambil melirik pada Bita, dan menghentikan langkahnya mengikuti sang ibu.


"Kamu bisa saja Bita," ucap ibu Vivi, kemudian menarik tangan Bita untuk mendekat. "Nanti ikut ibu ke butik, dan kamu boleh memilih baju pengantin yang kamu inginkan untuk pernikahan kamu nanti,"


"Aku Bu?"


"Iya,"


"Tapi aku tidak punya uang Bu, untuk membeli baju pengantin. Paling nanti aku akan menyewa saja,"


"Ibu yang akan membayar, dan itu hadiah untuk kamu," ujar ibu Vivi sambil mengukir senyum.


"Benarkah Bu?"


"Iya,"


"Terima kasih," Bita pun langsung memeluk ibu Vivi.


Sedangkan itu Vano hanya menggelengkan kepalanya, baru sadar untuk apa sang ibu ingin pergi ke butik.


*


*


*


Perhatian semuanya! Mari merapat. Ada info yang sangat penting untuk kalian.


Mulai hari ini aku stop kisah mereka berdua.


Tapi jangan marah-marah dulu ya, karena awal bulan ada kabar menggembirakan untuk kalian semua, aku akan kembali dengan novel baru tetap dengan Vano dan juga Bita.

__ADS_1


Yang pantengin ig aku pasti tahu judul novelnya apa, karena aku sudah spill beberapa hari lalu disana.


Semoga kalian sabar menunggu, sampai ketemu awal bulan nanti!


__ADS_2