HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Kelainan


__ADS_3

Zain bisa bernafas lega, karena tibanya di rumah, sang istri masih terlelap, dan kebetulan asisten rumah tangganya belum selesai membuat bubur kacang hijau yang Hazel inginkan tadi. Coba saja jika Hazel sudah bangun, pasti Zain sangat malu karena tadi sudah berbohong.


Dan Zain pun langsung menuju ke kamarnya sambil membopong tubuh sang istri yang masih terlelap, dan tidak ada niat untuk membangunkannya.


Setelah merebahkan tubuh sang istri diatas kasur dan juga menyelimutinya, kini Zain mengecup keningnya beberapa kali, tak lupa mengelus perut sang istri dari balik selimut yang menutupi tubuhnya.


Kemudian ia turun dari atas kasur, dan ia keluar kamar, ingin menemui kedua putrinya yang pasti sudah pulang sekolah. Hal rutin yang selalu Zain lakukan, ketika baru sampai rumah.


Dan Zain kini menautkan keningnya, ketika mendengar suara tangisan sang putri dari dalam kamarnya, lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar, dan melihat Zi sedang menangis sambil duduk di pinggiran tempat tidurnya, sedangkan Ev, berdiri tepat di hadapannya sambil melipat kedua tangannya.


"Ev, apa yang terjadi pada Zi?" tanya Zain yang sudah mendekati putrinya tersebut.


"Nah, kebetulan ada Papa disini, ini nih, Pa. Masa hanya di cium pipinya oleh cowok, dari tadi Zi nangis, aku rasa Zi punya kelainan deh,"


"Ev, pipi aku sudah ternoda,"


"Idih, bisa begitu, dasar tidak waras kamu Zi!"


"Sudah, sudah," kini Zain duduk di dekat sang putri dan memeluk bahunya. "Apa kamu tidak ingin menceritakan apa yang kamu alami, pada papa, Zi?"


"Pa, cowok itu tiba-tiba mencium aku, kan jijik aku, dan pipiku juga sudah ternoda,"


"Jijik dari mana, kamu ini benar-benar tidak tahu kenikmatan yang sesungguhnya," sahut Ev.

__ADS_1


"Jijik tahu, dan itu karena video yang kamu..."


Zi tidak jadi meneruskan ucapannya, karena mulutnya langsung di bekap oleh Ev, karena ia yakin Zi akan mengatakan tentang vidio biru yang pernah ia tunjukkan padanya, dan Ev tidak mau sampai Zi mengatakan pada sang papa.


"Jangan katakan, kamu sudah berjanji padaku untuk merahasiakan, jika aku menyimpan vidio itu," bisik Ev tepat ditelinga Zi.


"Ev, lepaskan tangan kamu, nanti Zi tidak bisa bernafas," ujar Zain dengan lembut, dan terus mencoba untuk menjadi papa yang baik untuk Ev, dan juga tidak membeda bedakan antara keduanya.


"Maaf, Pa," kini Ev melepas bekapan tangannya dan melotot pada Zi, mengisyaratkan untuk tidak mengatakan yang baru saja ia bisikan.


"Zi, katakan pada papa, yang tadi ingin kamu katakan, papa tahu kamu jijik di cium cowok, tapi, video yang tadi kamu bilang, vidio apa?"


Zi menoleh pada Ev mendengar pertanyaan dari sang papa, tentu saja Ev langsung mengepalkan satu tangannya untuk mengisyaratkan agar sang sahabat tidak mengatakan sejujurnya.


Kemudian Zain kini kembali menatap pada Zi. "Zi, papa yang bertanya padamu, kenapa kamu malah menatap pada Ev, katakan pada papa, vidio apa?" tanya Zain, lebih penasaran dengan vidio yang di ucapan sang putri, dari pada ciuman yang membuat sang putri menangis.


"Itu Pa, Ev memberi tahu aku vidio cewek cowok tanpa mengenakan pakaian, dan itu membuat aku mual dan jijik hingga saat ini,"


"Dasar, harusnya aku tahu, anak bodoh itu, tidak akan pernah bisa merahasiakan apa pun," batin Ev sambil menepuk jidatnya.


"Ev," panggil Zain. "Papa lihat vidio itu,"


"Sudah aku hapus Pa," sambung Ev sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Boleh papa Cek ponsel kamu,"


"Em anu itu Pa, baterai ponsel aku habis,"


"Ev bohong Pa, tadi dia memainkan ponselnya," sahut Zi.


Tentu saja membuat Ev langsung melotot kearahnya.


"Ev, berikan pada Papa,"


"Pa tapi..."


"Ev, kamu sudah bilang pada mama dan juga papa, jika kamu akan jadi anak yang baik," sambung Zain memotong perkataan sang putri. "Sekarang berikan ponsel kamu,"


Ev pun terpaksa memberikan ponsel miliknya pada Zain.


Dan Zain langsung menghembuskan nafasnya kasar, ketika menemukan satu vidio biru di ponsel Ev, ia pun kini menatap pada putri sambungan tersebut. "Ev,"


"Maaf Pa," kata Ev yang merasa bersalah.


"Duduklah," kini Zain berdiri dari duduknya, dan mempersilakan Ev untuk duduk bersama dengan Zi. "Baiklah, sekarang papa akan bicara pada kalian berdua," ucap Zain dan langsung menasihati Ev, bukan hanya padanya saja, tapi juga pada sang putri.


Bersambung............

__ADS_1


__ADS_2