
Sudah dua jam setelah tiba di sebuah kamar hotel bintang lima yang sangat terkenal di pulau bali, tempatnya selama seminggu Hazel, Zain dan juga kedua putrinya menginap.
Hazel sama sekali tidak turun dari atas ranjang, setelah tadi mengalami jetlag selama penetbangan, yang hanya kurang lebih satu jam Lebih dari kota tempatnya tinggal. Dan ini untuk pertama kalinya, selama seringnya ia bepergian ke luar kota maupun luar negeri, Hazel mengalami jetleg, dan itu membuat ia sendiri heran.
"Ma, bagaimana. Mama sudah baikkan?" tanya Ev yang baru masuk ke dalam kamar hotel di mana sang mama berada, dari pintu khusus yang menyambung antara kamarnya dan Zi berada, karena memang Zain memesan kamar tipe tersebut, agar mudah mengawasi keduanya selama berlibur di pulau tersebut.
"Mama masih sedikit pusing Ev,"
"Yah, padahal aku ingin melihat matahari terbenam, lagian mama tidak pernah mengalami jetlag, kenapa sekarang mengalaminya, norak banget, seperti tidak pernah naik pesawat," cibir Ev. "Pa," sekarang Ev menatap pada Zain yang sedang duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang dimana Hazel berada. "Aku ingin melihat matahari terbenam, apa Papa mau menemani aku dan juga Zi?"
Namun, Zain tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ev, yang ada, sekarang ia menatap pada sang istri, yang langsung menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan agar menuruti perintah Ev, dan sekarang Zain menoleh pada Ev.
"Baiklah, papa akan pergi menemani kalian,"
"Terima kasih Pa, kita ke kamar dulu untuk berganti pakaian," kata Ev yang langsung menarik tangan Zi menuju kamarnya.
Selepas kepergian kedua putrinya, Zain kini beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya mendekati ranjang sang istri.
"Zel, tidak apa-apa, aku tinggal?" tanya Zain, yang sedikit kuatir pada istrinya tersebut.
"Tidak masalah, kamu pergi saja bersama dengan anak-anak. Mungkin aku hanya butuh istirahat, efek kemarin malam begadang, untuk menyelesaikan pekerjaan,"
"Baiklah, jika ada apa-apa langsung hubungi aku,"
Hazel langsung mengangguk sambil tersenyum.
*
*
*
__ADS_1
Zi menggelengkan kepalanya melihat Ev berganti kostum hanya menggunakan bikini.
"Ev, jangan gila, apa kamu ingin pergi hanya menggunakan pakaian seperti ini?"
"Iya, memang ada masalah?"
"Tentu saja masalah, kamu akan menjadi pusat perhatian orang-orang, nantinya. Dan jika ada orang yang nakal padamu gimana?"
"Ya ampun Ev, di pulau ini aman, jangan norak deh, disini banyak juga yang tidak menggunakan sehelai benangpun, dan mereka aman,"
"Tapi kamu..."
"Sudah jangan di bahas," sambung Ev memotong perkataan Zi. "Jika kamu mau pakaian seperti aku, tidak masalah,"
"Sorry, aku masih normal, tahu yang baik ataupun yang tidak,"
"Pret," sambung Ev.
"Ev, ganti pakaian kamu. Atau papa tidak mau mengantar kamu!" tegas Zain, yang tidak menyukai cara berpakaian sang putri.
"Pa, jangan norak juga lah, pakaian seperti ini wajar di sini," bela Ev.
"Ev, ganti. Atau..."
"Iya, aku akan menggantinya," sambung Ev memotong perkataan Zain, dan terpaksa harus mengikuti perintah sang papa.
*
*
*
__ADS_1
Setelah menemani kedua putrinya pergi ke pantai untuk melihat matahari terbenam, Zain segera bergegas menuju kamarnya, dan meninggalkan kedua putrinya di kafe yang ada di hotel tempatnya menginap, untuk menikmati makan malam.
Dan baru saja masuk ke dalam kamarnya Zain langsung menautkan keningnya, ketika mendengar suara seseorang sedang muntah di dalam kamar mandi.
Membuatnya langsung menuju kamar mandi ketika tidak melihat sang istri di atas ranjang hotel.
"Hazel," ucap Zain yang sudah berada di dalam kamar mandi, dan melihat sang istri, sedang muntah, di wastafel yang ada di dalam kamar mandi. "Zel, kamu baik-baik saja?" tanya Zain ketika sudah mendekati sang istri.
"Aku..." Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, karena merasa sangat lemas, untung Zain langsung menahan tubuhnya, yang kehilangan keseimbangan. "Kita harus ke dokter,"
*
*
*
Dan benar saja, Zain langsung membawa sang istri ke rumah sakit terdekat, dan sekarang ia duduk menunggu saat dokter sedang memeriksa sang istri, di dalam ruangannya.
Ia kini menautkan keningnya, bingung dengan dokter yang kini berjalan mendekatinya, karena terus mengukir senyum kearahnya.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Zain, pada dokter tersebut yang sudah duduk di kursi kerjanya, tepat di hadapannya.
"Anda suaminya?" tanya balik dokter tersebut.
"Iya, Dok,"
"Selamat, istri anda sedang hamil,"
"Apa?!"
Bersambung...................
__ADS_1