
Sebulan berlalu akhirnya Ziu dan juga Aca menikah dengan terpaksa, karena Zain dan juga Hazel mengancam keduanya akan melaporkan ke polisi atas tuduhan perzinaan, karena ke duanya kembali kepergok melakukan hubungan suami istri untuk yang kesekian kalinya.
"Nah begini baru betul, jadi kalian mau melakukan kuda kudaan dimana saja pun bisa," ucap Hazel setelah acara
pernikahan Ziu dan juga Aca yang diadakan dengan sederhana telah selesai, dan berkata pada pasangan pengantin baru yang kini sedang berkumpul di sebuah meja untuk menikmati makan malam bersama, setelah acara pernikahan selesai.
"Tidak harus menikah juga bisa Zel," sahut Aca yang memang menganut pergaulan bebas, begitu pun dengan Ziu.
"Hooh itu," Ziu membenarkan ucapan dari Aca yang sekarang menyandang status sebagai istrinya.
"Heh, kalian pikir, kalian tinggal dimana, hah! Kalian tinggal di negara yang punya undang-undang, dasar blekok!"
"Kan mainnya di dalam kamar, buka di pinggir jalan,"
"Aku tanya sebenarnya kalian ini serius atau tidak sih, sudah menikah?" tanya Zain yang sedikit kesal dengan Aca dan juga Ziu sang asisten yang seperti tidak serius dengan pernikahan yang baru saja keduanya jalani, padahal semua biaya pernikahan Ziu, semua dari Zain, yang tidak ingin sang asisten terus berzina dengan sahabat sang istri.
"Ya begi..."
"Uwek, uwek, uwek,"
Ziu tidak jadi meneruskan ucapannya, dan sekarang tatapannya tertuju pada Aca, yang ingin muntah.
Begitupun dengan Hazel dan juga Ana yang kini langsung menatap pada sang sahabat.
"Kamu kenapa Ca?"
"Masuk angin?" tanya Hazel dan juga Ana bergantian.
__ADS_1
Namun, tidak di jawab oleh Aca yang kini memegang keningnya sendiri.
"Ca, kamu kenapa?" tanya Ziu yang duduk tepat di sampingnya.
"Mungkin dia hamil," ucap spontan Zain, membuat sang istri, Ana dan juga Ziu kini menoleh kearahnya. "Ada apa kalian semua menatap aku? Apa ucapan aku salah?" tanya Zain pada ketiganya yang masih menatap kearahnya. "Istriku tercinta aja sekali kena tembakan langsung tek dung, apa lagi Aca. Ziu berapa kali kamu menembak?" tanya Zain langsung pada sang asisten.
"Entahlah Bos, aku lupa,"
"Tuh kan, pasti berkali-kali, tentu saja pasti cebong Ziu sudah berkembang biak di dalam perut Aca,"
Hazel, Ana dan juga Ziu kini beralih menatap pada Aca, setelah mendengar apa yang Zain katakan.
"Ca, kamu tidak minum pil pencegah kehamilan?" tanya Hazel.
"Tidak,"
"Ya pasti kamu sedang hamil,"
Tentu saja membuat Aca yang berada di sampingnya kini menatap pada Ziu yang hari ini menyandang status sebagai suaminya.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Aca sambil memicingkan matanya. "Kamu selalu nembak di dalam, giliran suruh keluar di luar, kamu bilangnya nanggung, tentu saja kalau aku hamil juga anak kamu brengsek!" seru Aca setelah mendengar reaksi sang suami.
"Yakin, bukan anak dari pria lain?"
"Kamu menuduh aku, juga melakukan hubungan dengan orang lain begitu,"
"Ya bukan menuduh, kamu..."
__ADS_1
"Apa hah?!" kesal Aca memotong perkataan dari Ziu. "Dulu memang aku suka main dengan banyak pria, tapi tidak lagi, sebelum aku mengenal kamu. Dan kamu mengajak aku untuk melakukan hal itu, tentu saja aku mau, karena memang sudah sangat lama aku tidak melakukannya," jelas Aca benar adanya, kemudian ia memicingkan matanya menatap pada Ziu. "Jangan-Jangan kamu berkata seperti itu, karena tidak mau bertanggung jawab, atau kamu sudah menghamili anak orang?"
"Heh tentu saja tidak, hanya..."
"Heh, kalian berdua untuk apa kalian bertengkar," ucap Zain memotong perkataan keduanya. "Makanya itu, jadi orang tuh jangan suka keluar masuk ke lubang paralon, dan juga sering di masukin banyak lele, agar kalian tidak salah paham begini, lagian apa enaknya sih keluar masuk paralon dan di masuki banyak jenis lele? Jawab coba,"
"Pa, Papa mau ternak lele?" tanya Zi yang baru saja menghampiri sang papa, dan mendengar apa yang di katakannya.
"Bukan lele itu, Zi,"
"Terus?"
"Lele berkumis,"
"Bukannya semua lele berkumis Pa,"
"Iya juga ya," ucap Zain membenarkan ucapan sang putri.
"Terus lele yang bagaimana Pa"
"Lele yang bisa buat orang hamil Zi,"
"Oh ya, aku mau beli lele ah, biar bisa hamil, karena mama tidak mau memberikan aku adik cewek. Om Ziu belikan aku lele dong di pasar," perintah Zi.
Membuat semua yang ada di meja tersebut, menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Zi katakan, tapi tidak dengan Zain.
"Zel, Zi agak lain ya oonnya," bisik Ana di telinga sang sahabat.
__ADS_1
"Hus, ingat kamu sedang hamil,"
"Oh ya, amit-amit jabang bayi," ucap Ana sambil mengelus perutnya.