
"Ya Tuhan," keluh Zain, saat tahu pintu kamar dimana dia berada di kunci dari luar, dan dengan bodohnya, sudah beberapa kali Zain coba membuka pintu tersebut. "Heh, kamu punya kunci cadangan tidak? Mana, sini berikan padaku," pinta Zain.
Namun, tidak dihiraukan oleh Hazel yang langsung menuju ke tempat tidur.
"Heh, aku sedang bicara denganmu!" seru Zain dari tempatnya.
Kembali lagi, Hazel acuh tak acuh dengan ucapan sang suami. Dam hal itu membuat Zain langsung melangkahkan kakinya mendekati dimana Hazel berada.
Kali ini Zain tidak lagi bersusah payah mengatakan apa pun, yang ada menarik dengan kencang kedua kaki Hazel, hingga kedua kakinya kini menyentuh lantai.
"Kurang ajar!" kesal Hazel. "Apa yang kamu lakukan, dasar tidak normal!"
"Aku sedang bicara padamu!" tidak kalah dengan Hazel, Zain juga meninggikan suaranya.
"Kapan kamu bicara padaku, hah?!"
"Tadi, saat aku mengatakan, kamu punya kunci cadangan atau tidak,"
"Oh ya, aku merasa kamu tidak sedang bicara denganku,"
"Ah, masa bodoh, sekarang berikan kunci cadangan kamar ini padaku,"
__ADS_1
"Tidak ada," sahut Hazel yang kembali lagi naik ke atas kasur. "Sudahlah tidur aja tuh di sofa, aku ngantuk, malas untuk berdebat denganmu,"
"Aku tidak terbiasa tidur satu kamar dengan wanita, apa lagi wanita sepertimu, sudah macam macan betina,"
"Iya aku tahu, kamu memang tidak normal, tentu saja tidak pernah tidur dengan wanita. Jangan bahas hal itu lagi, aku mau tidur. Tidur saja di sofa, kalau mau tidur di sini juga tidak masalah, lagian tidak bakal nyetrum ini,"
Tanpa pikir lagi, Zain langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur bersamaan dengan Hazel yang juga merebahkan tubuhnya.
"Tapi ya jangan menguasai tempat tidurku juga kali!" kesal Hazel dan coba menyingkirkan tangan Zain yang tidur sambil menelentangkan kedua tangan dan juga kakinya.
Namun, bukannya menyingkir, yang ada, Zain sengaja menelentangkan tangan dan kakinya kembali, membuat Hazel geram, dan sekarang beranjak dari tidurnya, dan sengaja naik keatas tubuh Zain
Tentu saja membuat Zain terkejut, karena juniornya tertindih tubuh sang istri yang aduhai, membuat Zain langsung menyingkirkan tubuh sang istri dari atas tubuhnya, dan beringsut menjauhi dari Hazel kesisi kasur.
Dan Hazel kini melirik pada Zain, sambil mengukir senyum.
"Heh, apa yang kamu lakukan!" seru Zain, saat Hazel tiba-tiba memeluk tubuhnya.
"Ssttt, aku butuh bantuanmu, jadi diamlah," pinta Hazel dan semakin erat memeluk Zain dari belakang.
Dan seperti tadi siang, Hazel mengelabuhi Doni yang sedang melakukan vidio call, dengan melakukan adegan mesra bersama Zain.
__ADS_1
"Oke, dua sudah kabur," ucap Hazel setelah menutup sambungan vidio Call, tanpa menyadari dirinya masih memeluk tubuh Zain dari belakang.
"Singkirkan tanganmu, jangan membuat aku alergi di peluk oleh macan betina,"
"Oh ya, maaf," Hazel nyengir kuda dan melepas pelukannya.
Beberapa saat tidak ada lagi suara dari keduanya, meskipun Zain dan juga Hazel belum memejamkan matanya, karena sama-sama tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan lawan jenis, secara sadar.
"Kamu sudah tidur?" tanya Hazel.
"Belum," jawab Zain yang terus membelakangi Hazel.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
"Kalau tidak penting, tidak usah,"
"Tentu saja ini penting,"
"Katakan,"
"Kamu kan, tidak normal, kenapa kamu bisa punya anak?" pertanyaan Hazel membuat Zain membalik tubuhnya untuk menatap pada sang istri. "Aku juga bisa membuat anak denganmu,"
__ADS_1
Bersambung...............