HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Bubur Kacang Hijau


__ADS_3

Bugh!


Zain menendang kursi yang di duduki oleh sang asisten, setelah mendengar apa yang dikatakannya.


Tantu saja Hazel langsung menautkan keningnya, dengan tingkah Zain seperti itu, seolah-olah ada yang sedang ia tutup tutupi.


"Zain, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa Zel,"


"Eleh jujur kacang ijo bisa kan, pakai malu-malu meong," sahut Ziu memotong perkataan sang bos dengan istrinya.


"Maksud kamu apa ya?" sekarang Hazel yang bertanya pada Ziu.


"Itu, Bos Sexy, Bos Zain..."


"Diam, atau bulan ini kamu tidak dapat gaji!" ancam Zain, memotong perkataan sang asisten.


"Ah Bos ini ya, mainnya ancam mengancam,"


"Diam! Aku bilang,"


"Iya, iya,"


Ziu pun tidak mengatakan apa pun lagi, setelah mendengar ancaman dari sang Bos.


Dan Hazel yang duduk tetap di samping Zain, kini menoleh padanya.


"Zain, sebenarnya ada apa, kenapa Ziu bilang ada bubur kacang hijau segala,"


Zain kini juga menoleh pada sang istri, sambil memicingkan makanya. "Kenapa lari ke bubur kacang ijo sih, jangan bilang istri aku... ah ngaco," batin Zain berpikir, Hazel jadi telmi alias telat mikir karena hamil.

__ADS_1


"Iya di rumah kata dia, mbak bikin bubur kacang hijau, begitu,"


"Oh ya?"


"Iya,"


"Aku menginginkan bubur itu, Zain,"


"Apa?!"


"Mampos," ucap pelan Ziu sambil menahan tawa, tapi masih terdengar ditelinga Zain yang duduk tepat di belakangnya, membuatnya kembali menendang kursi yang di duduki oleh Ziu.


"Zain, apa apaan? Sudah dua kali kamu menendang kursi Ziu,"


"Sengaja, aku sedang mengecek seberapa kuat jok mobil ini,"


"Oh," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Hazel, yang langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang dudukinya.


Dan hanya mendapat anggukkan kepala dari Hazel.


Zain yang duduk berjarak dari sang istri, kini duduk mendekati Hazel hingga tidak ada jarak antara dirinya dan juga sang istri. "Aku akan memijat keningmu, siapa tahu bisa menetralisir pusing yang kamu rasakan,"


Zain pun langsung memijat kening sang istri, tanpa mendapat penolakan dari Hazel, yang kini memejamkan matanya.


"Jika kamu ingin tidur, lebih baik tidur di pangkuan aku, Zel. Agar kepala kamu tetap tenang, karena ada perbaikan jalan raya di depan sana, dan juga banyak polisi tidur,"


Hazel membuka kedua bola matanya setelah mendengar tawaran dari sang suami, yang menawarkannya untuk tidur di pangkuannya, dan ia langsung menatap pada Zain.


"Tidak apa-apa, kalau aku tidak di pangkuan kamu?"


"Tentu saja tidak," jawab Zain sambil mengukir senyum, lalu ia menggesar duduknya, kemudian menepuk kedua pahanya, untuk sang istri tidur.

__ADS_1


Dan benar saja, tanpa ragu Hazel tidur di kedua paha sang suami, berharap pusing yang sedang ia rasakan segera pergi menjauh.


Tangan Zain kini mengelus kepala sang istri, setelah memastikan Hazel tidur. Dan senyum terukir dari kedua sudut bibirnya, sambil menatap sang istri yang terlihat begitu cantik di matanya, ketika sedang tertidur.


Puas dengan mengelus kepalanya, kini Zain meraih tangan sang istri dan menggenggamnya, tak lupa mencium punggung tangannya. "Aku akan mencintaimu Zel," batinnya, dan satu tangan yang lain mengelus pipinya.


"Eleh, beraninya jika orangnya sedang tidur, coba kalau orangnya sadar, mlempem kau Bos, seperti kerupuk kelamaan, dasar cemen," ujar Ziu, setelah melihat apa yang di lalukan sang bos.


"Diam! Jangan berisik, nanti istriku bangun,"


"Cie istriku," ledek Ziu.


"Ziu!"


"Iya Bos,"


"Diam!


"Iya,"


"Dan hubungi mbak, suruh dia buat bubur kacang hijau, pokoknya kita sampai rumah bubur itu sudah siap,"


"Mana bisa Bos, tidak sampai setengah jam lagi kita sampai rumah, sedangkan bikin bubur kacang hijau itu tidak semudah bikin telor dadar,"


"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita sampai rumah, itu bubur sudah siap, paham!"


"Bagaimana jika Mbak suruh saja beli yang matang,"


"Tidak, aku tidak mau istriku memakan makanan dari luar, yang tidak tahu cara buatnya higienis atau tidak,"


"Cie perhatian nih ye,"

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2