
Setelah menghadiri acara realiti show, Zain langsung pulang ke rumah, padahal ia harus melakukan pemotretan, tapi ia urungkan, entah mengapa Zain ingin segera pulang ke rumah dan bertemu dengan Hazel.
Senyum terus terukir dari kedua sudut bibirnya, ketika ia mengingat, Hazel memanggilnya dengan panggilan sayang, ketika tadi ia menghubungi sang istri.
"Senyum terus, nanti di sangka orang gila Bos," kata Ziu, yang baru masuk ke dalam mobil, setelah membeli rujak atas perintah Zain, dan ia melihat sang Bos, sedang tersenyum senyum sendiri.
"Sialan, kau Ziu!"
"Lagian ngapain juga begitu, lebih baik Bos katakan langsung pada si sexy, perasaan yang sedang Bos rasakan,"
"Bicara apa sih kamu,"
"Eleh pura-pura tidak tahu, Bos senang bukan, saat tadi si sexy memanggil Bos dengan panggilan sayang," sambung Ziu karena memang tadi, saat Zain menghubungi Hazel, sang bos menekan pengeras suara membuat ia mendengar apa yang dikatakan Hazel dari balik sambungan ponsel sang bos.
"Tentu saja aku..." Zain tidak jadi meneruskan ucapannya, membuat Ziu kini menoleh pada sang Bos.
"Kenapa Bos, jangan gengsi kali, bila suka katakan suka, gampang kok, ngomongnya, apa perlu aku ajarin?"
"Jangan banyak bicara, lebih baik kamu turun,"
"Heh, Bos. Tega sekali anda mau menurunkan aku disini, lihat tuh, sudah mendung, kalau aku sakit karena air hujan, Bos sendiri yang susah,"
__ADS_1
"Bicara apa sih, buruan turun dan beli beberapa potong Cake," pinta Zain, ketika mengingat tadi pagi Hazel menghabiskan satu potong lebih cake. Dan Zain ingin membeli lagi cake tersebut untuk sang istri.
"Oh itu, oke Bos," Tanpa mengatakan apa pun lagi, Ziu segera turun dari dalam mobil, untuk pergi ke toko kue tidak jauh dari mobil sang bos berada. Dan membiarkan sang Bos larut dalam pikirannya, yang Ziu yakini sang bos sudah memiliki rasa untuk Hazel, hanya saja belum berani mengungkapkannya.
*
*
*
Tidak butuh lama mobil Zain yang dikendarai oleh Ziu berhenti di halaman parkir rumah sang Bos.
Membuat Zain segera turun dari dalam mobilnya, dan bergegas masuk ke dalam rumah dengan menentang kantong berisi rujak, dan paperbag berisi macam-macam cake untuk sang istri, inisiatif Zain sendiri membeli rujak, karena ia pikir semua wanita yang sedang hamil pasti menginginkan rujak.
"Ibu belum lama keluar, Pak,
"Keluar rumah, maksudnya?"
"Iya Pak, tadi ada yang menjemput ibu,"
"Siapa? Cewek apa cowok?" tanya Zain penasaran.
__ADS_1
"Cewek Pak, katanya teman dekat ibu,"
"Oh begitu," ujar Zain yang kini menyodorkan bawaannya pada asisten rumah tangganya. "Simpan semua ini di lemari pendingin," baik Pak.
Dan Zain pun langsung menghubungi ponsel sang istri, dan merasa lega ketika Hazel memberi tahunya dimana dia sekarang berada.
Setelah berada di dalam kamarnya, mata Zain langsung tertuju pada foto dirinya dan juga mendiang sang istri, kemudian mendekati foto tersebut.
"Maafkan aku sayang, aku akan selalu mencintaimu, mengingat kamu dan menempatkan kamu di dalam relung hatiku yang paling dalam. Dan maafkan aku, jika sekarang bukan hanya ada kamu di dalam hatiku, tapi juga ada Hazel," ucap Zain yang kini menurunkan foto tersebut. "Sekali lagi, maafkan aku, sayang," Zain mencium foto mendiang sang istri, lalu membawanya keluar dari dalam kamarnya.
"Bos, apa..."
"Bantu aku mengeluarkan semua foto dari dalam kamarku," pinta Zain memotong perkataan sang asisten.
"Baik Bos," dengan senang hati Ziu langsung mengikuti perintahnya, dan ikut senang dengan perubahan sang majikan, padahal selama ini ia tahu, sang Bos melarang siapa pun menyentuh foto mendiang istrinya.
*
*
*
__ADS_1
"Dasar bebel, lolto kau, kapan punya otak buat mikir, dasar bodoh!"
Bersambung.................