HOT DUDA VS HOT JANDA

HOT DUDA VS HOT JANDA
Terong


__ADS_3

Satu bulan berlalu, dan hari ini adalah, hari yang di tunggu oleh Ev dan juga Zi, bukan karena mereka selesai dengan ujian semester, dengan nilai yang sangat memuaskan, tapi khusus untuk Ev, tidak bagi Zi yang hanya mendapat nilai rata-rata, tapi meskipun mendapat nilai rata-rata, Zain selaku orang taunya tetap bangga pada sang putri, karena memang kecerdasan anak berbeda beda.


Meninggalkan tentang nilai dan kecerdasan, kembali lagi pada Ev dan juga Zi, yang sangat senang menunggu hari ini tiba, dimana hari ini mereka akan pergi berlibur bersama, seperti janji Hazel pada sang putri, tentu bersama dengan Zain.


"Kamu sudah siap Zi?" tanya Ev, saat keduanya sedang berkemas, karena nanti siang mereka akan melakukan penerbangan ke pulau bali, tempat wisata yang Ev inginkan.


"Sebentar lagi,"


"Ya elah, lelat amat sih, sini aku bantu," Ev pun langsung membantu Zi memasukan beberapa perlengkapan yang akan di bawanya ke dalam koper. "Aku sungguh tidak sabar ke pulau bali, berjemur di salah satu pantai, dengan pemandangan terong yang... ahhh, mataku akan di manjakan dengan pemandangan itu, aku sungguh tidak sabar," ucap Ev penuh dengan antusias.


"Ev,"


"Apa?"


"Memang di pantai ada yang jual terong?"


Ev melirik pada Zi, mendengar apa yang dikatakannya. "Salah bicara kan," gerutunya.

__ADS_1


"Kalau kamu ke pulau bali hanya ingin melihat terong, kenapa tidak pergi ke supermarket atau pasar, disana pasti banyak terong, iya kan?"


"Bukan terong itu, oneng. Tapi terong hidup,"


"Oh tanaman terong, baru tahu terong bisa di tanam di pantai, bukannya di pantai jika ada tumbuhan yang tumbuh pohon bakau ya?"


"Kamu ketinggalan jaman, sudahlah jangan di bahas lagi, bicara sama kamu bikin aku pusing," gerutu Ev yang langsung meraih ponselnya, lalu mengambil foto dirinya, untuk di unggah ke akun media sosial miliknya dengan caption go to bali.


Sementara itu, Hazel dan juga Zain juga sedang bersiap di dalam kamar, tepatnya sih, hanya Zain, karena sekarang Hazel berada di rumah sang suami, dan ia sudah bersiap dari beberapa hari lalu, sebelum menginap di rumah Zain, karena sebulan ini Hazel maupun Zain, mondar-mandir menginap di rumah Hazel dan juga Zain.


"Zain," panggil Hazel ketika Zain sedang menarik koper miliknya, keluar dari ruang ganti.


"Iya,"


"Iya," hanya itu tanggapan dari Zain, yang kini keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Hazel yang masih duduk di pinggiran tempat tidur yang belakangan ini sering ia tiduri. Dan memorinya mengingat beberapa kali, ia tidur di dalam pelukan Zain, tanpa menolaknya, saat merasakan kenyamanan tidur di peluk oleh sang suami, dan hubungan keduanya selama sebulan ini, biasa saja, tanpa ada pertengkaran seperti pertemuan awal-awal mereka.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Hazel yang kini baranjak dari duduknya, dan meninggalkan kamar sang suami, tapi baru saja ia berada di depan pintu, tubuhnya bertabrakan dengan Zain yang ingin masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Untung saja Hazel yang terkejut tidak terjatuh, karena dengan sigap Zain menahan tubuhnya, hingga kini Hazel berada di dalam pelukannya, dengan kedua mata saling bertemu.


"Cie, cie," suara Ev yang mendekati keduanya, membuat Zain langsung melepas pelukannya, dan Hazel dengan segera menjauh dari sang suami. "Gih sana terusin di dalam kamar," masih lama kok, kita ke bandara,"


"Terusin, apa yang di terusin Ev?" tanya Zi yang berada di sampingnya.


"Anak kecil tidak boleh tahu, lebih baik kita turun ke bawah," Ev pun langsung menarik tangan Zi untuk turun dari lantai dua, tidak ingin banyak bicara, yang pasti bicaranya akan melantur, karena ia ingin menunjukan pada Zain dan Hazel, jika ia sudah berubah, meskipun sebenarnya belum.


Selepas kepergian kedua putri mereka, Zain dan juga Hazel saling tatap.


"Maaf,"


"Maaf," ucap Zain dan juga Hazel berbarengan.


"Tidak masalah,"


"Tidak masalah," kembali kedua begitu kompak mengatakan perkataan yang sama.

__ADS_1


Bersambung...................


__ADS_2