
Hazel membuka kedua bola matanya dengan perlahan, lalu menautkan kedua alisnya, saat ia baru menyadari tidak berada di dalam mobil sang suami, karena yang ia ingat. Ia tidur di dalam mobil sang suami, dan tidur di pangkuannya.
Kemudian ia beranjak dari tidurnya, dengan pusing yang sudah mulai mereda, dan merasa bingung dengan kamar dimana ia berada, pasalnya pemandangan di kamar tersebut berbeda dengan sebelumnya.
Dan untuk memastikan jika kamar tersebut adalah kamar milik sang suami, membuat Hazel langsung mengalihkan tatapannya keseluruhan penjuru ruangan tersebut, tapi memang benar ia sedang berada di dalam kamar sang suami, tapi mengapa terasa berbeda di mata Hazel. Ia pun terus mencari apa yang beda dengan kamar sang suami.
Lalu fokus tatapan Hazel kini tertuju pada tembok tepat di atas sandaran tempat tidur dimana ada foto Zain dan mendiang sang istri, tapi saat ini foto tersebut tidak ada.
Dan Hazel baru menyadari, jika semua foto Zain dan juga mendiang istrinya tidak ada lagi di dalam kamar tersebut. Kemudian tatapan Hazel kini tertuju pada pintu kamar dimana ia berada, dimana baru saja di buka dari luar oleh Zain, yang kini tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekatinya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Zain, yang baru saja kembali dari kamar kedua putrinya, setelah menasihati keduanya, dan ia tidak ingin menceritakan pada sang istri, tentang vidio yang ia temukan di dalam ponsel Ev, tidak ingin Hazel marah kembali pada sang putri, bukan hanya itu saja, Ev juga sudah berjanji tidak akan pernah mengunduh vidio ilegal itu. "Baguslah, bubur kacang hijau yang kamu inginkan sudah matang, kamu mau makan di meja makan, atau makan disini? Kalau kamu mau makan disini, aku akan membawakannya untuk kamu, kamu tunggu disini,"
"Zain, tunggu," ucap Hazel, ketika Zain membalik tubuhnya ingin keluar kembali dari dalam kamar untuk mengambil bubur kacang hijau.
Tentu saja mendengar ucapan sang istri, Zain mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam kamar, dan kini membalik tubuhnya kembali, dan menatap sang istri sambil mengukir senyum.
"Ada apa Zel?"
"Kenapa foto kamu dan juga mendiang istri kamu tidak ada lagi di kamar ini?" tanya Hazel yang begitu penasaran.
__ADS_1
"Oh itu, aku hanya ingin menyimpannya,"
"Tidak ada alasan lain?"
"Tidak," jawab Zain. "Baiklah, aku ambil bubur kacang hijau dulu,"
Hazel menatap kepergian sang suami dari dalam kamar, dengan perasaan kecewa, entah mengapa jawab yang Zain katakan membuatnya tidak senang. Padahal ia ingin mendengar jawaban Zain, jika dia menyimpan foto-foto yang ada di kamar itu karena dirinya.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Hazel. "Apa perasaan yang aku rasakan untuknya akan bertepuk sebelah tangan? Tapi, kenapa dia mempublikasikan jika dia sudah menikah, apa hanya demi bayi yang sedang aku kandung?" Hazel bertanya tanya sendiri.
Namun, setelahnya ia tersenyum, lalu mengelus perutnya yang masih rata.
"Oke, karena kamu juga, mama yakin perasaan mama tidak akan bertepuk sebelah tangan," ucap Hazel, yang memiliki ide, agar perasaannya pada Zain terbalas.
Keesokan harinya, Ev mengajak Zi untuk berbincang di depan kelas, tentu saja ia sedang memiliki rencana dengan mengajak saudara sambungnya tersebut ke depan kelas.
"Ev, masuk yuk, ngapain juga harus berbincang di depan kelas seperti ini," ujar Zi, karena tidak biasanya Ev mengajaknya berbincang di depan kelas, terlebih lagi ia masih trauma dengan kejadian kemarin.
Namun, Ev tidak menanggapi ucapan dari Zi, dan terus mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru arah.
__ADS_1
"Ev, kamu sedang mencari apa sih,"
"Albert,"
"Apa? Untuk apa kamu mencari cowok sialan itu?" tanya Zi penasaran.
"Tentu saja memberi pelajaran, padanya, setelah apa yang dia lakukan padamu, kemarin aku belum puas menghajarnya," bohong Ev, padahal ia ingin melihat Albert, cowok yang sekarang menjadi destinasi selanjutnya, dengan melibatkan Zi, karena jika Albert melihat Zi, pasti dia akan datang dan menghampirinya, dan dari situ Ev memiliki ide cemerlang.
Dan sekarang Ev tersenyum senang, sesuai ekspektasinya, sekarang Albert berjalan mendekati dimana dirinya dan juga Zi berada.
"Ev, itu orangnya, aku takut," bisik Zi yang sekarang berlindung di belakang tubuh Ev.
"Tenang saja, kamu tunggu disini," pinta Ev, dan kini berjalan mendekati Albert untuk melaksanakan ide yang sudah tersusun rapi di otaknya demi mendapatkan Albert.
Dan saat jarak diantara Ev dan juga Albert sudah dekat, ia pura-pura tersandung, hingga tubuhnya kini memeluk Albert.
Bruk!
"Awww,"
__ADS_1
Bersambung...........