
Setelah melepas tautan bibirnya, Hazel maupun Zain sama-sama melepas pelukannya, dan beranjak dari tidurnya saat Zi kini sudah mendekat.
"Zi, tadi kamu bilang apa?" tanya Zain untuk memastikan yang di dengarnya tidak salah, saat sang putri ingin memintanya tidur bersama, pasalnya selama ia menikah dengan Hazel, Zi tidak pernah tidur bersama. Dan saat ia dan juga sang istri sedang bermesraan, setelah mengungkapkan perasannya masing-masing, sang putri ingin tidur bersama, tanpa tahu situasi dan kondisi.
"Aku ingin tidur bersama Papa dan juga Mama," jawab Zi yang kini naik keatas tempat tidur, dan duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Zi, lebih baik kamu kembali ke kamar dan tidur bersama Ev, kasihan Mama kamu, jika kamu harus tidur disini, kamu tahu mama sedang hamil, dan butuh ruang yang lega untuk bergerak," usir Zain dengan cara halus, karena malam ini ia yang sangat merindukan sang istri hanya ingin berdua bersamanya, tanpa ada yang mengganggu.
"Aku tidak mau tidur dengan Ev, dia sangat menyebalkan," sahut Zi yang masih tetap berada di tempatnya.
"Menyebalkan? Kenapa Ev menyebalkan?" tanya Hazel penasaran.
"Itu Ma. Dia memaksa aku untuk dekat dengan Albert, aku kan tidak mau," jawab Zi jujur, karena Ev terus memaksanya untuk dekat dengan Albert, tentu saja Ev melakukan hal itu hanya untuk kepentingannya semata.
"Albert, yang kemarin mencium pipi kamu?"
"Iya Ma, aku kan jijik padanya, rasanya ingin muntah saat melihat Albert itu, malam ini aku tidur dengan Mama, Papa dan juga dede bayi ya," ucap Zi yang kini merebahkan tubuhnya sambil mengelus perut Hazel.
"Zi, lebih baik kamu kembali ke kamar kamu," pinta Zain lagi.
"Tidak mau, aku ingin tidur disini, dan Papa jangan bicara lagi, aku sudah mengantuk, oke! Dan selamat malam," sambung Zi, yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, kemudian memejamkan matanya, karena rasa kantuk yang sedang tadi rasanya.
"Zi, papa mo..."
"Sstt," sahut Hazel memotong perkataan sang suami. "Biarkan saja dia tidur disini," ucap Hazel.
Dan Zain langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan niatnya ingin bermesraan dengan sang istri, gagal sudah, karena sang putri.
__ADS_1
Kemudian Zain meraih satu tangan Hazel yang sudah merebahkan tubuhnya, dan mencium punggung tangannya.
"Selamat malam,"
"Malam," sahut Hazel sambil mengukir senyum, dengan tangan yang masih di genggaman oleh sang suami.
Dan keduanya malam ini hanya bisa tidur saling menggenggam tangan.
*
*
*
Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi hari ini Hazel juga mengalami morning sicknes.
Zain dengan sigap langsung memijat belakang leher sang istri yang masih mengeluarkan isi perutnya, yang baru terisi segelas susu hamil.
Setelah Hazel selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya Zain langsung mengelap keringat yang ada di wajahnya, kemudian memapah sang istri keluar dari dalam kamar mandi.
"Zain," panggil Hazel yang sudah duduk diatas kasur sambil menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur.
"Iya, Zel,"
"Kamu mau pergi syuting?"
"Iya,"
__ADS_1
"Jangan ya, aku butuh kamu,"
Zain yang duduk dipinggiran tempat tidur langsung mengukir senyum kearah sang istri. "Baiklah, sesuai keinginan kamu,"
"Peluk," pinta Hazel sambil merentangkan kedua tangannya. "Pelukan kamu membuat aku jauh lebih baik,"
Tentu saja tanpa mengatakan apa pun, Zain segera naik keatas tempat tidur, dan duduk disamping sang istri lalu membawanya kedalam pelukannya.
"Seperti ini?"
"Iya," jawab Hazel, dan balik memeluk Zain lalu mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami, yang begitu tampan. "Zain,"
"Iya, kamu menginginkan sesuatu?"
"Iya,"
"Apa?"
"Bibir kamu,"
Mendengar jawaban sang istri membuat Zain tersenyum, dan langsung menempelkan bibirnya dibibir sang istri.
Namun, setelahnya langsung menjauhkan bibirnya, saat pintu kamarnya di buka dari luar oleh Ev.
"Sory mengganggu," ucap Ev, yang ada di depan pintu, karena ia melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya. "Hanya ingin bilang, Oma menyuruh Mama menghubunginya, itu saja," Ev pun menutup pintu, tapi sejurus kemudian membuka pintu kembali. "Pa, jangan hanya senam bibir, sekalian juga bercocok tanam, adik aku butuh nutrisi, dan selamat bersenang-senang, aku pergi ke sekolah dulu. Eh bentar, jangan lupa kunci pintunya, dadah Mama, dadah Papa," Ev pun langsung menutup pintu kembali.
Bersambung.............
__ADS_1