
...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...
“Antara makan atau tidak, sih.” jawab suster tersebut.
“Semoga mereka berdua makan lalu nanti mati aja sekalian!” seru teman suster tersebut.
“Aku sih juga berharap seperti itu,” sahut suster tersebut.
“Oh ya, kita berdua kan tadi menyamar. Ayolah kita pergi dari sini dan menemui Clara!” ajak teman suster tersebut yang ternyata adalah Deshita.
“Okey...” sahut suster tersebut yang ternyata adalah dokter Ria.
Dokter Ria dan juga Deshita menyamar menjadi suster di rumah sakit. Mereka berdua tadi sengaja berjalan di dekat ruangan Sya karena mereka berdua yakin jika Sya tidak akan meninggalkan Eca sendirian di ruangannya. Dan pasti Sya akan meminta seseorang untuk membantunya.
Clara, Deshita, dan juga Ria sudah merencanakan hal ini dengan sangat matang. Mereka membahas ini dan merencanakannya pada saat mereka selesai berpelukan. Oleh sebab itulah mengapa mereka begitu serius saat berbicara.
Tanpa menunggu lama-lama, Ria dan Deshita pun langsung pergi menemui Clara dan melepaskan pakaian suster mereka.
Mereka berdua ingin mengabari kepada Clara jika rencana mereka kali ini berhasil.
Namun, pada saat ingin menghampiri Clara. Ria berhenti sebentar.
Hal tersebut membuat Deshita bingung kenapa Ria diam di tempatnya. Deshita mulai bertanya kepada Ria, “Ria, kenapa kamu diam?”
Ria menjawab, “Sepertinya kita melupakan sesuatu, deh!”
Mendengar jawaban dari Ria, Deshita mengernyitkan keningnya.
“Apanya yang kita lupakan?” tanya Deshita kepada Ria.
Ria pun menggaruk tenguknya yang tidak gatal. Ria pun menjawab, “Kita berdua belum cek ruangannya.”
Deshita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ria barusan yaitu menggaruk tenguk mereka yang sama sekali tidak gatal itu.
Deshita dan juga Ria kembali ke rumah sakit seperti biasa dan langsung ke ruangan Eca tanpa dicurigai orang lain.
Dan betapa terkejutnya saat mereka berdua melihat jika kedua orang tadi hilang. Bahkan juga tidak ada sama sekali jejaknya.
Ria bingung, “Aneh! Perasaan tadi mereka berdua ada di sini. Lalu, mengapa tiba-tiba menghilang tanpa jejak? Tiang infus itu saja bahkan juga tidak ada!”
Deshita juga bingung ditambah dengan ucapan Ria yang membuat dirinya semakin bingung. Otaknya mulai berputar mencari jawaban, namun yang muncul hanyalah rumus matematika dan fisika. Sayangnya, kedua rumus tersebut sama sekali tidak berguna dalam keadaan saat ini.
“Iya.. masa tiang infus nya jalan sendiri, sih!” sahut Deshita.
Ria merasakan bulu kuduknya berdiri, “Suasana nya horor sekali! Deshita, kita pergi aja!”
Deshita juga merasa merinding dengan suasana yang ada di ruangan ini. Deshita menyusul Ria yang sudah pergi jauh dari ruangan Eca.
Tanpa Deshita dan juga Ria sadari, seseorang menatap mereka berdua dengan aneh.
“Aneh! Itu juga Ria, ngapain dia sama temannya itu ke ruangan nya Eca?” gumam orang tersebut dalam hati yang ternyata adalah dokter Rosetta.
Dokter Rosetta yang heran dengan kedatangan kedua orang tadi ke ruangan Eca pun berniat untuk menyelidikinya.
⚘⚘⚘
__ADS_1
Sementara di Christine alias Sya dan juga Eca..
Setelah menunggu sekian lama, makanan mereka sudah selesai dimasak dan diantar ke meja mereka.
Mereka berdua hanya memesan bubur ayam untuk sarapan pagi mereka berdua.
Selain bubur ayam, mereka juga memesan teh hangat seperti sebelumnya.
Sya mulai mendeteksi bubur ayam dan juga teh hangat tersebut. Sya tidak mau nanti jika mereka berdua langsung makan, mereka akan mati hanya karena keracunan. Itu sangat konyol bagi Sya.
Bubur ayam khas Betawi itu terlihat sangat lezat. Ya, jika dilihat dari luarnya sangat lezat. Sya yang sedang mendeteksinya pun harus menahan rasa ingin menyantap bubur ayam tersebut.
Dengan beberapa potongan kecil daging ayam, irisan halus seledri, bawang goreng secukupnya, potongan kecil daun bawang, dan beberapa kerupuk udang.
Siapa yang tidak akan ngiler dengan bubur ayam khas suku Betawi ini? Dilihat saja sudah terlihat lezat, bagaimana dengan rasanya di lidah?
Hasilnya, di bubur ini tidak terdeteksi racun sama sekali.
Eca dan Sya langsung melahap bubur ayam tersebut yang masih hangat.
Dan rasanya sangat lezat di lidah mereka berdua.
Inilah alasannya mengapa mereka berdua begitu suka dengan bubur ayam khas Betawi ini.
Rasanya sangat lezat. Selain itu, meskipun dibuat oleh orang yang berbeda, namun, rasanya masih tetap lezat. Dan kenangan mereka banyak di bubur ayam khas Betawi ini.
Bubur ayam khas Betawi ini berasal dari Betawi, Jakarta.
Hanya butuh beberapa menit, mereka berdua sudah menghabiskan bubur ayam khas Betawi ini tanpa tersisa sedikitpun.
Setelah selesai makan, mereka berdua pun mulai berbincang.
“Sya.. menurut kamu, siapa pelaku nya kali ini?” tanya Eca kepada Sya dengan antusias sekaligus penasaran.
Sya menjawab, “Bisa jadi ketiga sejoli itu.”
“Tiga sejoli itu lagi?” ujar Eca.
Sya pun menyahut, “Antara iya dan tidak.”
Eca juga menyahut, “Iya sih.”
Mereka berdua mulai mendiskusikan hal tersebut sembari meminum teh hangat yang mereka pesan.
Eca mulai bertanya, “Sya.. kamu bawa laptop ke sini, gak?”
Sya menjawabnya, “Bawa.”
Eca tersenyum dan menyahut, “Kamu pasti bawa ke mana-mana aja, 'kan?”
Sya ikut tersenyum, “Iya, dong.”
“Aku heran, kamu bawa laptop gak berat?” tanya Eca.
“Tidak, soalnya udah biasa.” jawab Sya.
__ADS_1
Eca menyahut, “Iya juga sih. Dulu kita pas kuliah sering disuruh bawa laptop ke kampus.”
Sya pun hanya mengangguk.
Eca mulai bertanya lagi kepada Sya, “Pasti kamu simpan laptopnya di tas kamu itu?” sembari menunjuk tote bag yang digunakan Sya.
Sya melihat ke arah mana Eca menunjuk dan mulai menjawab pertanyaan Eca, “Iya, aku masukkin laptopnya ke dalam tote bag ini.”
(Bentuk tote bag yang digunakan Sya).
Eca mulai menyahut, “Aku gak nyangka kamu masih saja pakai tote bag yang aku berikan ke kamu pas ulang tahun kamu yang ke sepuluh.”
Sya hanya tersenyum lalu menjawab, “Iya, hehe. Soalnya dulu juga gak digunakan, daripada dianggurin gitu saja, mending aku pakai aja.”
Eca berujar, “Aku pikir tas itu tidak berguna untukmu, Sya. Tapi ternyata berguna juga.”
Sya menyahut kembali, “Iya, dong.. hehe. Aku juga awalnya pikir begitu.”
Mereka berdua meminum teh hangatnya hingga habis tak tersisa setetes pun.
Eca bertanya, “Kamu gak langsung cari aja pelakunya?”
Sya menjawab, “Dari tadi mau cari, cuma lagi lihat situasi dan keadaan dulu. Takut ada beberapa orang yang mengintip nanti.”
Eca memberikan saran kepada Sya, “Iya.. sih. Gimana kalau carinya di mobil aja?”
Sya tersenyum senang mendengar saran dari sahabatnya, “Ide bagus!”
Sya pun membayar total nya. Lalu, Sya dan juga Eca keluar dari restoran tersebut dan menuju ke mobil.
Sya mulai menyalakan laptopnya.
Setelah itu, barulah ia membuka aplikasi yang biasanya ia gunakan untuk mengali informasi dengan kemampuan hackernya.
Beberapa menit kemudian.
Setelah beberapa menit berpetualang dengan laptopnya, Sya menemukan informasi yang terkait dengan pelaku.
Sya mulai berseru, “Eca, aku sudah menemukan siapa pelakunya!”
Eca mulai menyahut, “Wah.. hebat! Siapa pelakunya?”
Sya menarik nafasnya lalu mulai menjawab, “Pelakunya adalah....
...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......
Hai kakak semua!
Maaf gantung nih, hehe..
Tapi yang pasti, kalian udah tahu 'kan?
Oh ya, jangan lupa dukungannya yaa buat Author.
__ADS_1
Thank's All. 🙏🏻💞