
Happy Reading...
Calvin kembali mencari di saku celananya. Barangkali terselip di sana. Saat mencari, tiba-tiba ia mendapatkan satu benda kecil di saku celananya itu. Apakah itu artinya benda kecil itu ditemukan? Apakah Calvin tidak memasang benda itu ke tubuh Diva?
“Ada!“ jawab Calvin dengan wajah lesu sembari mengeluarkan benda kecil itu dari sakunya.
Mendengar jawaban dari atasannya bahwa benda itu ada membuat Devan juga lesu. Harapan mereka yang awalnya bergantung dengan benda tersebut sepertinya pupus sudah.
Namun, tiba-tiba saat Calvin sudah mengeluarkannya, ternyata benda tersebut bukanlah sebuah chip. Melainkan sebuah anting kecil.
“Ternyata ini hanya sebuah anting saja!“ ujar Calvin dengan wajah kesalnya. Harapan mereka yang bergantung ringan chip kecil itu tidak pupus.
“Apa itu anting yang digunakan oleh Nona Diva?“ tanya Devan sembari terus menatap anting kecil yang dipegang oleh Calvin. Devan hanya merasa anting itu adalah milik Nona Diva selaku gadis pujaan atasannya itu.
Mendengar pertanyaan Devan, sontak Calvin menoleh arah benda yang sedang dipegangnya saat ini. Yang dikatakan Devan barusan, sepertinya benar. Anting tersebut mirip dengan anting yang biasanya digunakan oleh Nona Diva.
“Apa Tuan memasang chip kecil itu dekat dengan telinga Nona Diva?“ tanya Devan lagi.
“Iya,“ jawab Calvin sembari mengangguk kecil.
“Ayo, Tuan! Sebaiknya kita harus memeriksa rekaman dari chip tersebut untuk mengetahui keberadaan Nona Diva saat ini!“ ajak asistennya dengan semangat.
“Kita ke Perusahaan lagi?“ tanya Calvin.
“Tidak perlu, Tuan! Bukankah Tuan membawa laptop Tuan ke mana saja? Atau Tuan meninggalkannya di Perusahaan?“ ujar Devan.
“Aku membawanya tadi di dalam tas kantorku!“ jawab Calvin sembari menarik tas kantornya yang diletakkan di kursi penumpang.
“Baguslah! Itu artinya, kita tidak perlu kembali ke Perusahaan!“ seru Devan dengan wajah bersemangat. Karena dirinya tidak perlu membawa mobil atasannya bolak-balik ke Perusahaan lalu ke sini situ. Rasanya lelah sekali.
Mereka pun mulai membuka rekaman dari chip tersebut. Ternyata Diva saat ini sedang di jalan. Namun, baik Calvin maupun Devan tidak mengenali jalan tersebut. Yang pada akhirnya, mereka berdua berusaha mencari tahu jalan apa itu.
...☘️☘️☘️...
__ADS_1
Ternyata Diva memutar balik arah jalan menuju ke suatu tempat. Dengan menggunakan jalan yang sama sekali belum pernah disentuh orang-orang. Selain itu, belum pernah satupun orang selain Diva yang menggunakan jalan ini.
Diva sadar betul, apabila Calvin memasang sebuah chip di telinganya. Saat memasangnya, Diva merasakan sedikit geli di telinganya. Setelah pertemuan dirinya dengan pria itu, Diva berniat melepaskan chip tersebut, merasa chip tersebut tidak ada gunanya bila di pasang. Namun, entah apa yang merasuki tubuh Diva, Diva tidak jadi melakukan hal tersebut. Ia justru membiarkan benda chip tersebut.
Diva menghentikan mobilnya saat sampai di tempat tujuannya.
...☘️☘️☘️...
Calvin dan Devan merasa heran karena Diva tiba-tiba menghentikan mobilnya tiba-tiba. Tidak mengerti akan situasi keadaan sebenarnya.
“Mengapa ia berhenti?“ tanya Calvin dengan satu alis yang terangkat. Merasa heran tentunya sekaligus bingung.
“Lebih baik, kita melihat dulu. Tidak ada gunanya bertanya kepadaku, sedangkan diriku tidak tahu apa yang akan terjadi sebenarnya,“ pungkas Devan.
...☘️☘️☘️...
Diva langsung turun dari mobilnya. Lalu, bertemu dengan seseorang yang sepertinya seorang pria.
“Selamat malam.“ jawab Diva sembari tersenyum manis.
“Maaf, Nona. Saya hampir saja mencelakai Nona malam ini,“ ujar pria tersebut dengan rasa bersalah di hatinya.
“Tidak masalah. Aku tidak terluka sama sekali,“ jawab Diva.
“Seandainya saat itu aku tolak saja permintaan pria itu. Mungkin Nona Diva bisa pulang dengan aman. Hampir saja aku mencelakai Nona,“ ucap pria tersebut lagi dengan rasa bersalah di hatinya.
Ternyata pembunuh bayaran itu adalah anak buah Papa Diva. Awalnya, dia tidak melihat jelas foto gadis yang diminta oleh Eric. Namun, pada saat Eric mengirimkannya, pria tersebut langsung terkejut. Awalnya ia berniat untuk tidak melakukan misi pembunuhan itu, namun saat ia ingin menolak, Diva sudah lebih dulu mengetahuinya. Dan mereka berdua mulai menyusun rencana sebagua mungkin.
Rencana yang dibuat hampir membuat Diva celaka. Karena pada saat perjalanan pulang, Diva sengaja memutar balik arah jalan. Lalu, pria tersebut yang merupakan pembunuh bayaran itu mulai menembak mobil Diva dari kaca depan mobil Diva dengan peluru, namun tidak berbahaya.
Pria tersebut sengaja merekam kejadian itu agar Eric percaya dengannya. Oleh sebab itu, ia menembak mobil Diva dengan peluru yang tidak berbahaya.
Namun, hal yang tidak terduga justru terjadi, saat itu tubuh Diva yang benar-benar lelah yang harus membutuhkan istirahat, membawa mobilnya dengan sedikit oleng. Sehingga mobil Diva hampir saja tertabrak pembatas jalan, jika Diva tidak secepatnya mengerem mobilnya.
__ADS_1
Pria tersebut sontak merasa bersalah dengan kejadian tersebut. Ia langsung menghentikan rekaman saat mobil Diva oleng. Dan mengirimkannya kepada Eric. Rencana yang disusun rapi berhasil. Eric percaya begitu saja dengan video tersebut lalu mengirimkan sejumlah uang yang telah dijanjikan kepada pria tersebut.
Alhasil setelah kejadian itu, pria tersebut meminta Diva untuk bertemu di suatu tempat. Tujuannya agar Eric tidak mengetahuinya. Karena Diva yakin apabila Eric akan mengawasi dirinya dan pria tersebut.
“Aku tidak terluka parah kok. Tenang saja. Ini hanya luka goresan. Sama sekali tidak parah,“ jawab Diva berusaha menenangkan pria tersebut agar tidak merasa bersalah padanya. Padahal rencana ini disusun dengan baik olehnya, tapi malah pria tersebut yang memohon maaf padanya.
...☘️☘️☘️...
Devan dan Calvin saling bertatapan saat melihat rekaman tersebut.
“Apa Nona Diva sudah memiliki kekasih?“ Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Devan. Tanpa disadari olehnya, pertanyaannya barusan membuat Calvin langsung emosi.
“Kita harus segera ke sana!“ seru Calvin berusaha menahan emosinya. Tidak ingin gadis pujaannya itu malah tidak ingin menikah dengannya. Hal tersebut tidak bolehlah terjadi.
Mendengar perintah dari atasannya, membuat Devan baru menyadari apabila pertanyaannya barusan malah membuat atasannya emosi. Tanpa basa-basi, Devan pun langsung menuju tempat saat ini Diva berada berkat hasil mencari tahu tempat tersebut.
Calvin mengepalkan tangannya dengan emosi.
...☘️☘️☘️...
“Maafkan aku, Nona.“ Pria tersebut sampai bersimpuh kaki di hadapan Diva.
“Tidak masalah, Pak! Jangan bersimpuh di depanku. Anda lebih tua daripada saya. Tidak ada baiknya jika Anda bersimpuh di depanku. Goresan yang ada di tubuhku ini karena kelalaian aku sendiri. Bukan salah Bapak!“ jawab Diva tegas. Pria tersebut pun kembali berdiri.
“Goresan di tubuh Nona? Apa Nona terluka parah?“ Wajah pria tersebut tiba-tiba cemas akan keadaan Diva.
Belum lagi Diva menjawab, dua pria yang tidak diundang kemari datang.
“Goresan apa?“
To be continued...
Maaf yaa, nggak bisa crazy up.. Jangan lupa dukungannya ya. Terima kasih~
__ADS_1