
Happy Reading...
Ternyata Calvin menarik Devan masuk ke dalam lift. Saat berada di dalam lift, Calvin terlihat begitu gelisah. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu sehingga membuat dirinya sendiri gelisah. Devan juga merasa heran dengan atasannya itu. Bahkan atasannya itu sampai mengigit kukunya sendiri saking gelisahnya, hal yang tidak pernah dilakukan oleh pria itu.
“Apa yang membuat Tuan gelisah?“ tanya Devan memberanikan dirinya untuk bertanya hal tersebut kepada atasannya. Meskipun sempat timbul rasa keraguan di benaknya, Devan tetap memberanikan diri untuk mencobanya.
Ternyata sesuai dengan dugaan, atasannya itu hanya diam. Seolah pertanyaan Devan barusan hanyalah angin yang lewat. Membuat Devan semakin heran dengan tingkah atasannya ini.
Devan dibuat berpikir terus-menerus. Setelah mengerjakan berkas perusahaan yang membuatnya pusing, kini ia harus dihadapi dengan atasannya yang tiba-tiba gelisah. Membuat kepalanya semakin pusing. Sepertinya ia harus pergi ke apotik untuk membeli obat pereda sakit kepala.
“Tuan ini sebenarnya kenapa sih? Suka banget ya buat orang sakit kepala mikirinnya,“ gerutu Devan dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar atasannya itu mendengar suaranya barusan.
Namun, tidak sesuai dengan harapan, atasannya itu justru tetap cuek.
Devan yang merasa dicuekin terus merasa bosan dan memilih untuk diam.
Setelah menaiki mobil, Devan pun menjalankan mobilnya. Calvin duduk di sebelah kursi kemudi. Kursi kemudi diduduki oleh Devan.
Entah apa yang merasuki tubuh Calvin, Calvin langsung bersuara. “Kita ke Perusahaan Tuan Andrean!“
Suara Calvin yang dinanti-nanyi akhirnya terdengar. Namun, anehnya, pria itu malah meminta untuk pergi ke Perusahaan Tuan Andrean. Membuat Devan semakin heran, namun menurut akan perintah atasannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di Perusahaan Tuan Andrean.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam Perusahaan yang langsung disambut oleh para karyawan yang bekerja lembur malam ini. Para karyawan yang bekerja lembur malam ini sedikit merasa heran dengan kedatangan Tuan Calvin di malam hari begini.
“Selamat malam, Tuan Calvin, Tuan Devan.“ sambut para karyawan dengan sopan.
“Selamat malam. Nona Diva di mana?“ tanya Calvin langsung to the point, tanpa basa-basi.
“Nona Diva baru saja pulang. Apa Tuan Calvin memiliki urusan dengan Nona Diva? Jika iya, maka Tuan Calvin bisa datang kembali esok hari,“ jelas salah satu karyawan.
Mendengar bahwa gadis yang dicintainya sedang dalam perjalanan pulang, Calvin langsung kembali ke mobilnya dengan diikuti oleh asistennya.
Di tengah perjalanan, Calvin semakin gelisah. Hatinya gelisah takut gadis yang dicintainya kenapa-kenapa. Tidak seperti biasanya. Apakah ada hal buruk yang akan terjadi?
Di perjalanan, baik Devan dan Calvin merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Jalanan malam minggu ini sangat sepi sekali. Heran, itulah yang mereka berdua rasakan. Terutama Calvin, ia semakin gelisah.
“Tuan. Jalanan saat ini sangat sepi. Bukankah terlihat sangat menyeramkan? Apa sebaiknya, kita putar balik saja?“ tanya Devan dengan mimik wajah takut apabila sosok menyeramkan tiba-tiba muncul saat ini. Devan tidak ingin hal itu terjadi.
“Jangan!“ tolak Calvin dengan tegas.
“Kenapa jangan, Tuan?“ heran Devan.
__ADS_1
“Sebenarnya, Tuan ingin mencari siapa? Mengapa tiba-tiba dari perusahaan langsung menuju perusahaan Tuan Andrean. Lalu, tiba-tiba ingin ke Mansion yang ditempati oleh Nona Diva?“ tanya Devan mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya penasaran sekaligus sakit kepala sejak tadi karena memikirkan hal tersebut.
“Aku merasa gelisah. Perasaan ku tidak enak, Van! Aku merasa akan terjadi sesuatu pada Diva!“ jawab Calvin mengeluarkan semua yang membuat dirinya begitu gelisah. Ia sudah tidak kuat lagi menahan itu semua. Berharap dengan mengeluarkan semuanya, bisa menemukan jalan keluarnya.
“Nona Diva?“ Wajah Devan tiba-tiba berubah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Iya!“ jawab Calvin tanpa menoleh ke sebelahnya.
“Bukankah Tuan meletakkan sebuah benda di tubuh Nona Diva saat Tuan memeluknya?“ tanya Devan.
Calvin terdiam. Pikirannya melayang kembali pada saat siang hari. Pria itu memang memeluk Diva. Namun, sepertinya ada yang terlupakan.
Calvin memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya. Mencari benda kecil yang sepertinya tertinggal di dalam. Namun, pada saat mencari, tidak ada satupun benda di dalam saku jasnya.
“Ada?“ tanya Devan. Berharap tidak ada benda kecil di dalam saku jas atasannya itu. Jika ada, maka harapan besar mereka yang bergantung dengan benda tersebut hilang begitu saja.
Calvin kembali mencari di saku celananya. Barangkali terselip di sana. Saat mencari, tiba-tiba ia mendapatkan satu benda kecil di saku celananya itu. Apakah itu artinya benda kecil itu ditemukan? Apakah Calvin tidak memasang benda itu ke tubuh Diva?
To be continued...
Haii ... Hari ini Author sudah triple update. Jangan lupa bunganya ya, mana tahu besok Author kasih triple update lagi wkwk 🤣🤣
__ADS_1