Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 80 : ACARA PERNIKAHAN


__ADS_3

Happy Reading...


“Aku akan hubungi Tuan Calvin saja langsung!“ ucap Pengawal tersebut yang ditanggapi oleh Bapak Sopir tersebut dengan anggukan kepala.


“Jangan!“ ucap seseorang melarang.


Mendengar suara yang tidak begitu asing, Bapak Sopir tersebut dan pengawal tersebut pun segera menoleh ke sumber suara untuk memastikan indra pendengaran mereka tidak salah.


“Nona Diva?“ pekik keduanya dengan tatapan tidak percaya yang dilemparkan.


“Ya. Aku Diva. Jangan hubungi atasan kalian karena aku sudah di sini!“ ucap Diva lagi.


“Nona sedang tidak bercanda bukan?“ Bapak Sopir tersebut masih tidak percaya. Bahkan tiba-tiba setelah beberapa saat Diva kembali, pengawal yang bersamanya tadi di dalam mobil juga kembali. Sangat membuatnya bingung dengan yang baru saja terjadi.


“Aku akan jelaskan semuanya nanti di mobil. Ayo kita berangkat lagi!“ ajak Diva lalu langsung masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Eca dan Dokter Rosetta yang baru saja sadar dari pingsannya, tentu merasa terkejut. Namun, mereka memilih tidak bertanya dan menunggu Diva menjelaskan semuanya kepada mereka.


“Baiklah kalau begitu.“ Meskipun penasaran, namun yang menjadi paling penting di sini adalah berangkat terlebih dahulu. Apalagi sekarang sudah hampir pukul sembilan, tidak terasa, acara pernikahan Diva dan Calvin sudah mau dimulai. Sedangkan perjalanan mereka baru menempuh sekitar setengah jam. Akankah mereka bisa sampai dengan tepat waktu?


Mereka langsung kembali masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai sekarang. Waktu terus berjalan hingga tidak terasa, padahal baru terasa lima menit berlalu, namun tidak disangkanya, sudah hampir satu jam berlalu.


Di dalam mobil, Diva menjelaskan kronologi kejadian tadi seluruhannya tanpa menambah hal-hal yang menang seharusnya tidak ada dan mengurangi beberapa kejadian yang seharusnya ada.


Diva menjelaskan cara dirinya meloloskan diri dari jeratan sekelompok penjahat serba hitam tersebut. Tentunya dengan menggunakan rencana dan strategi yang bagus.


Flashback on. ☘️


Saat itu, Diva di dalam mobil sekelompok penjahat tersebut. Beruntung mobil sekelompok penjahat tersebut berhenti. Tanpa sengaja, Diva pun melihat ponsel dari salah satu anggota sekelompok penjahat tersebut.


Diam-diam sembari mengintip dari luar yang dilakukan anggota sekelompok penjahat tersebut, Diva mengambil ponsel tersebut dan mulai menghubungi pihak kepolisian.

__ADS_1


Diva tentu berbicara dengan suara yang sangat pelan, saling pelannya, membuat pihak kepolisian yang dihubungi Diva meminta Diva mengulang ucapannya beberapa kali. Diva juga menurunkan volume suara ponsel tersebut.


Setelah menelepon dan mengirimkan lokasi kepada pihak kepolisian, Diva diam-diam kabur. Tentunya tidak muda bagi seorang Diva yang menggunakan gaun pengantin berlari hanya untuk kabur. Bagaimana jika nantinya gaun pengantin yang dikenakan Diva saat ini terinjak saat Diva berlari?


Hingga akhirnya, Diva memiliki ide cemerlang untuk melarikan diri tanpa ketahuan oleh anggota sekelompok penjahat tersebut. Terlebih lagi, Diva melihat mereka semua, ada yang sedang menelepon, ada yang sedang mendengarkan sebuah lagu, ada juga yang sedang berolahraga.


Diva melemparkan beberapa batu yang kebetulan di dalam mobil sekelompok penjahat tersebut. Heran? Tentu saja, Diva merasa heran, mengapa sekelompok penjahat ini membawa batu? Dan ini lagi … sebuah balok es? Untuk apa sekelompok penjahat ini membawa batu dan balok es dengan jumlah yang tidak terhitung? Entahlah, Diva sedang tidak ingin memikirkan hal tersebut, saat ini Diva harus melarikan diri secepatnya.


Diva melemparkannya ke arah kaca belakang mobil. Kaca mobil ini sangat mudah dipecahkan hanya dengan melemparkan batu yang sangat berat ini. Diva merasa kesusahan untuk mengangkatnya, tetapi demi bisa meloloskan diri, tentu gadis sepertinya harus melakukannya.


Diva berusaha melemparkan batu dan balok es tersebut semaksimal mungkin agar jauh. Dan yang dilakukan Diva berhasil menarik perhatian para anggota kelompok penjahat tersebut. Mereka merasa heran, batu-batu dan balok es tiba-tiba dilemparkan yang entah asalnya dari mana.


Setelah memastikan mereka semua menuju tempat lokasi yang menjadi tempat yang sudah di penuhi dengan batu-batu dan balok es, Diva diam-diam melarikan diri kembali ke tempat tadi dirinya berada.


Flashback off. ☘️


Waktu tidak terasa berjalan dengan cepat, mereka akhirnya sampai di lokasi acara pernikahan Diva dan Calvin dilaksanakan. Meskipun Diva sang calon pengantin mempelai wanita telat satu jam, itu tidak membuat pesona kecantikannya menghilang. Semua tamu yang menunggu sejak tadi tentu merasa terkesima dengan kecantikan Diva.


Ya, gadis yang membuat dirinya memikirkan gadis tersebut adalah sahabat Diva. Siapa lagi jika bukan Eca?


“Sayang.“ panggil Calvin dengan senyuman manis di wajahnya. Senyuman manis yang jarang diperlihatkan di depan umum. Beberapa orang yang melihat Calvin tersenyum langsung mengabdikan momen tersebut untuk menaruhnya di media sosial.


Calvin langsung mendekati Diva. Merengkuh erat calon istrinya.


Calvin berniat mengecup bibir calon istrinya, namun hal tersebut tiba-tiba dihentikan oleh seseorang? Tentu yang menghentikan hal tersebut adalah Eca, sahabat Diva.


“Hei! Jangan main cium-cium sahabat aku!” tegas Eca sembari merengkuh erat lengan sahabatnya.


Sontak membuat Calvin hanya bisa bersabar hingga dirinya dan Diva menjadi pasangan sah di depan semua orang.

__ADS_1


“Sabar, hanya sebentar lagi.“ batin Calvin.


Yang melihat momen tersebut, hanya bisa tertawa.


...☘️☘️☘️...


Diva dan Calvin pun mengucapkan janji suci di hadapan semua orang.


Setelah mengucapkan janji suci, Calvin pun mencium kening Diva dengan waktu yg cukup lama.


Diva memejamkan matanya ketika benda kenyal tersebut mulai menempel di keningnya.


Setelah mencium kening gadis yang dihadapannya saat ini yang telah menjadi istrinya, Calvin langsung mencium bibir Diva di hadapan semua orang.


Eca langsung memalingkan wajahnya ketika Calvin melakukan hal tersebut dengan sahabatnya. Matanya yang belum pernah melihat hal tersebut, tiba-tiba saja melihatnya.


Seorang pria pun tiba-tiba menghampiri Eca.


“Nona cantik. Apa kau ingin berdansa dengan-ku??“ tawar pria tersebut sembari mengulurkan tangannya.


Devan yang melihat pria lain mengajak Eca untuk berdansa tiba-tiba merasa panas di hatinya. Dengan cepat, Devan langsung menghampiri Eca.


“Nona Eca. Anda dipanggil Dokter Rosetta.“ Devan dengan sengaja menyebutkan Dokter Rosetta yang memanggil Eca, padahal dirinya yang ingin memanggil Eca.


“Hah! Benarkah? Baiklah. Maaf, Tuan, saya permisi dulu, maaf saya tidak bisa menerima tawaran Tuan tadi.“ pamit Eca lalu bergegas pergi.


Devan pun langsung menyusul gadis-nya. Eh, gadis-nya? Devan saja belum membuat Eca menjadi pasangannya.


To be continued...

__ADS_1


Maaf yaa, Author baru revisi dikit2 di bab ini, soalnya kemarin tulisnya belum selesai🙏🏻.


__ADS_2