
Happy Reading...
Waktu terus berlalu hingga sudah tidak terasa, sudah satu minggu, Sya, Calvin, dan juga Devan berada di Bali. Setelah satu minggu di Bali, mereka bertiga berniat kembali untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sudah tertunda akibat kepergian mereka ke Bali ini. Pastinya pekerjaan mereka menumpuk di atas meja. Bersiaplah untuk lembur tiap malam berturut-turut seminggu untuk menyelesaikan semuanya.
Mereka berniat kembali pada saat pukul sepuluh pagi. Sebelum berangkat, mereka pergi sarapan pagi.
...☘️☘️☘️...
Di pesawat.
Saat berada di dalam pesawat, Sya menyadari apabila ada kedua wanita yang tidak asing mengikutinya. Sya sendiri tidak mengetahui apa Calvin dan Devan juga menyadarinya.
Ya, dua wanita itu ialah Ria dan Deshita. Kedua wanita itu menyamarkan diri menjadi wanita sederhana. Sya menahan tawanya ketika melihat kedua wanita itu terlihat terpaksa menggunakan pakaian sederhana demi penyamaran mereka berhasil. Namun, sepertinya penyamaran kedua wanita itu tidak berhasil.
__ADS_1
“Kalian berdua pikir, aku tidak akan tahu siapa kalian? Sudah terlihat jelas dari wajah kalian. Sepertinya kalian harus kembali belajar menghias diri.“ batin Sya.
Namun, saat ingin melakukan sesuatu, terbesit ide cemerlang di pikirannya. “Ah … Bukankah nanti aku juga akan balas dendam? Tidak ada gunanya juga jika berdebat di dalam pesawat,“
Sya duduk mencari salah satu kursi yang kosong. Setelah mencari sekian lama, akhirnya ia menemukannya. Sayangnya, kursi kosong tersebut di duduk oleh Ria. Mengingat dirinya sedang berada di dalam pesawat, Sya pergi mencari kursi kosong lainnya.
Namun, dirinya malah menemukan kursi kosong yang sebelahnya adalah seorang pria. Pria itu ialah Calvin. Asisten Calvin yang bernama Devan duduk di belakang pria itu.
Tanpa disadari oleh Sya, Calvin yang duduk di sebelahnya menahan napasnya saat Sya duduk di sebelahnya. Tiba-tiba, Calvin merasakan panas. Padahal suhu pendingin di pesawat ini sudah sangat dingin.
Sedangkan Sya yang duduk di sebelahnya merasakan gelisah. Lagi-lagi, dirinya tidak bisa membuka ponselnya karena duduk di sebelah pria itu. Seandainya dirinya bisa memilih untuk duduk di sendiri, pasti pekerjaannya di perusahaan sudah diselesaikan sebagian.
Pesawat sudah lepas landas. Sya yang sudah terbiasa akan tidur di pesawat jika tidak melakukan apapun, langsung tertidur. Kepalanya bersandar di bidang da da pria sebelahnya tanpa disengajai.
__ADS_1
Tanpa sadar, Calvin mengelus rambut gadis yang tidur bersandar di da da nya. Calvin juga tidak memedulikan soal itu. Hal tersebut membuat asistennya yang duduk di belakang heran, namun rasa heran tersebut langsung ditepis oleh Devan mengingat atasannya mencintai Christine.
“Rambutmu harum sekali,“ batin Calvin mencium rambut Sya.
Saat ingin berbuat lebih, tindakannya itu langsung dihentikan oleh asistennya yang sedari tadi menonton yang dilakukan Calvin.
“Tuan. Jangan berbuat lebih. Nona Christine bukanlah istri Tuan. Bukankah Tuan sangat mencintainya? Janganlah merusak orang yang dicintai Tuan,“ nasehat Devan. Sepertinya Devan harus berganti profesi. Profesinya menjadi penasehat untuk Calvin.
Mendengar nasehat dari Devan, Calvin langsung menghentikan tindakannya dan memilih memejamkan mata. Beruntung asistennya segera menghentikan tindakannya barusan, hampir saja ia ingin berbuat lebih pada gadis ini. Hasratnya tiba-tiba muncul begitu saja. Daripada ia nantinya berbuat lebih, Calvin memilih tidur.
To be continued...
Maaf sedikit nih. Jangan lupa dukungannya ya. Terimakasih
__ADS_1