
Happy Reading...
Calvin tampak sedang berpikir lalu membuka suara. “Oke. Mungkin lebih baik, proyek ini dipercepat saja. Sesuai dengan ucapanmu, semakin cepat dilakukan, semakin cepat pula selesainya,“
“Tuan Calvin ingin proyeknya dipercepat hari apa? Besok? Lusa?“ tanya Sya.
“Besok saja, Nona.“ jawab Calvin.
“Baik. Itu artinya, besok kita akan ke Bali.“ ujar Sya.
“Iya. Saya akan ikut bersama Anda, Nona. Saya akan meminta pada asisten saya untuk memesankan tiket pesawat untukku dan Anda, Nona.“ ucap Calvin.
“Sepertinya tidak perlu, Tuan Calvin. Lagipula, saya bisa memesannya kok. Uang saya juga cukup.“ tolak Sya dengan halus.
“Sekalian saja, Nona. Biar jadwal penerbangan kita sama. Sama-sama berangkat, sama-sama sampai. Jadi, tidak perlu saling menunggu nantinya.“ paksa Calvin dengan halus.
“Tidak apa, Tuan Calvin. Jika saya memesan tiket dengan jadwal yang berbeda dengan Anda, yang pada akhirnya apabila saya sudah sampai, lalu saya menunggu Anda. Itu tidak menjadi masalah untuk saya. Lagipula saya bisa sambil istirahat menunggu Tuan Calvin.“ tolak Sya lagi.
“Nona. Tidak apalah untuk kali ini saja. Agar proyek bisa kita laksanakan dengan cepat. Jika kita pergi berdua di hari yang sama namun dengan jam yang berbeda, maka pasti ujung-ujungnya, kita akan ke lokasi pembangunan proyek esok harinya atau bahkan lusa harinya.“ ucap Calvin membujuk Sya.
“Hemm … Baiklah. Uang tiketnya akan saya bayar ke rekening Tuan.“ ucap Sya sembari mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya.
“Ti- Tidak perlu, Nona!“ tolak Calvin.
“Saya sudah mengirimkannya.“ jawab Sya.
Calvin segera mengambil ponselnya. Betapa terkejutnya saat melihat notifikasi dari ponsel pintar nya itu. Notifikasi yang berisikan atas nama Christine mengirimkan sejumlah uang kepadanya. Uang yang dikirimkan oleh Christine kepadanya sebanyak seratus juta.
Calvin mengernyitkan alisnya. “Apa kamu sudah tidak waras? Harga tiket tidak sampai seratus juta! Ataukah kamu salah mengetik?“
“Aku masih waras. Jika aku sudah tidak waras, tempatku bukan lagi di sini. Aku memang mengirimkan uang seratus juta padamu. Apa yang masalah?“ tanya Sya dengan nada datar dan dingin.
“Masalahnya, harga tiket tidak sampai segini, Nona! Ini bisa membayar tiket untuk penumpang lainnya sekitar dua puluh orang!“ tegas Calvin.
“Ya sudah bayar saja. Anggap itu sebagai traktiran dariku.“ jawab Sya singkat dan jelas.
“Hufft! Baik!“ ucap Calvin pasrah.
...☘️☘️☘️...
Rumah Sakit milik mendiang Mama Sya.
“Ayo makan dulu, Cla!“ ucap Rivan sembari menyodorkan sendok yang berisi bubur hangat pada Clara.
“Tidak usah! Biar aku saja yang makan sendiri!“ tegas Clara menolak untuk disuapi oleh Rivan.
“Aku tidak menyuapimu, Clara! Tapi, aku hanya memberikanmu sendok ini!“ ucap Rivan memutar bola matanya malas. Wanita ini benar-benar besar kepala.
“Aku juga mau makan, Cla! Sudah siang sekarang!“ tambah Rivan mengambil mangkok bubur miliknya. Sedangkan mangkok bubur milik Clara sudah ia berikan pada Clara.
__ADS_1
Clara yang mendengarnya menjadi malu. Dengan cepat, ia memutar pandangannya pada bubur yang masih hangat ini. Bubur ini terlihat sangat lezat. Clara meneguk salivanya dengan sulit melihat bubur yang menggiurkan ini.
“Mau?“ Angguk Clara.
“Makan saja, Cla! Lagipula itu untukmu!“ ucap Rivan.
Lagi-lagi, Clara malu. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Clara langsung menyantap makanan tersebut. Rasa malunya lenyap seketika. Rivan yang melihat Clara makan dengan buru-buru hanya bisa geleng-geleng kepala. Saat melihat Clara makan dengan begitu rakusnya seolah sudah tidak makan lebih dua hari, membuat Rivan melihat Clara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Melihat bibir Clara yang basah membuat Rivan tergoda. Ingin sekali menciumnya. Namun, ketika mengingat di mana saat ini ia berada membuat Rivan menghentikan aksinya yang hampir ingin mencium Clara. Beruntung, aksinya barusan tidak dilihat oleh Clara karena Clara sibuk dengan makanannya.
Rivan kembali melanjutkan makannya.
...☘️☘️☘️...
Keesokan harinya pun tiba. Calvin sudah meminta Devan untuk membeli tiket untuknya dan Sya. Devan yang ingin ikut pun sekalian membeli tiket pesawat untuknya sendiri.
Jadwal penerbangan mereka bertiga pada pukul sembilan pagi. Dengan cepat, Sya membereskan semua pakaiannya untuk dibawa ke Bali.
Melihat hal tersebut membuat Eca sangat sahabat terheran.
“Sya? Mau pergi mana?“ tanya Eca.
“Ehh … Iya. Aku lupa kasih tahu, hari ini aku ada proyek di Bali.“ jelas Sya.
“Iya. Proyek pembangunan Hotel di Bali.“ jawab Sya.
“Ya sudah. Hati-hati di jalan, Sya!“
“Iya, terima kasih, Ca!“ sahut Sya.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Sya berangkat dengan menggunakan mobilnya ke Bandara.
Beberapa saat kemudian, Sya sampai di Bandara. Sya melihat Calvin dan asistennya Devan menunggu dirinya. Sya melihat jam tangannya. Sekarang baru pukul delapan lewat tiga puluh menit.
Sya menghampiri kedua pria tersebut. “Tuan Calvin! Tuan Devan!“ panggilnya.
“Akhirnya Nona datang juga! Kami sudah menunggu setengah jam di sini!“ celetuk Devan melirik sang atasan. Siapa lagi jika bukan Calvin.
“Setengah jam?“ Sya mengernyitkan alisnya.
“Iya, Nona! Kamii-“ Belum lagi melanjutkan ucapannya, mulut Devan dibekap oleh atasannya. Devan menatap kesal pada atasannya. Main bekap-bekap segala.
“Kami apa?“ tanya Sya dengan penasaran.
“Ti- Tidak ada, Nona.“ jawab Devan setelah bekapan mulutnya dilepas oleh atasannya.
“Hem,“ Deheman yang sengaja Calvin keluarkan agar kedua orang ini tidak kembali melanjutkan percakapan.
__ADS_1
“Oh ya … Kalian sudah sarapan?“ tanya Sya mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Belum.“ jawab Calvin dan Devan serempak.
“Kok kalian belum sarapan?“ tanya Sya.
““Ini sudah jam delapan pagi, lho. Hampir jam sembilan.” tambahnya.
“Itu kare-“ Belum melanjutkan ucapannya lagi, Devan mendapatkan tatapan tajam dari sang atasan. Hal tersebut membuat Devan tidak melanjutkan ucapannya lagi.
“Karena apa?“
“Saya pikir, akan ada makan sarapan gratis di pesawat. Jadi, saya memilih untuk tidak sarapan di pagi ini,“ kilah Devan memilih ke jalur aman daripada jalur yang amat berbahaya.
“Ya sudah. Saya tadi barusan melihat pedagang yang menjual makanan. Apakah kalian ingin ikut untuk pergi makan di sana?“ tanya Sya.
“Bukankah sudah mau jam sembilan? Kita sudah harus naik pesawat.“ ucap Calvin yang sedari tadi diam menyimak percakapan kedua orang ini.
“Oh iya … Hampir saja melupakannya. Pergi beli dan meminta untuk dibungkus kan saja, kita bisa makan di pesawat nanti.“ sahut Sya.
“Ya, itu ide bagus!“ ucap Calvin.
Sya bersama Calvin dan Devan pergi ke tempat pedagang yang menjual makanan. Di sini banyak pedagang yang menjual makanan mereka. Ada yang menjual nasi goreng, nasi padang, nasi lemak atau nasi uduk, nasi ayam, bakso, seblak, salad, gorengan, sate, kue-kue, dan sebagainya. Devan dan Calvin mengernyitkan alis mereka melihat makanan yang belum pernah mereka lihat.
“Ini makanan apa?“ tanya Calvin.
“Ini gorengan.“ jawab Sya.
“Apa itu enak?“ tanya Calvin.
“Tentu saja enak. Ini makanan asli dari Indonesia.“ jelas Sya.
“Aku mau mencobanya.“ ucap Calvin mengambil dompet di saku celana nya. Ia mengambil beberapa lembar uang merah. Apa ia mengira apabila gorengan ini harganya sangat mahal sehingga harus mengeluarkan sebanyak itu? Sya yang melihat Calvin mengeluarkan uang merah ingin tertawa.
“Aku mau beli ini lima.“ ucap Calvin membayar uang yang diambilnya tadi dari dompetnya.
“Maaf, Tuan. Gorengan ini harganya tidak sampai seratus ribu per biji. Satu biji harganya hanya seribu.“ ujar pedagang tersebut.
“Apa? Kamu tidak sedang bercanda bukan?“ Calvin tampak terkejut mendengarnya. Sedangkan Devan sudah berkeliaran di tempat ini.
“Tidak, Tuan. Tapi jika Tuan ingin membeli semuanya, saya pastikan baru harganya seratus ribu.“ jawab pedagang tersebut.
“Baiklah. Kalau begitu, aku beli semuanya.“ ucap Calvin.
“Tuan Calvin. Gorengan ini sangat banyak. Apa anda sudah tidak waras sehingga membeli semuanya?“ bisik Sya tepat di telinga Calvin yang membuat sang pendengar merasakan sengatan listrik di tubuhnya.
To be continued..
Maaf nulisnya blum smpai 1000 kata, bsok akan dilanjutkan kembali nulisnya. Mohon maaf. Jangan lupa dukungannya ya. Terima kasih.
__ADS_1