
...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...
Sya mulai melihat korban kecelakaan tersebut. Dan benar saja, korban kecelakaan tersebut adalah Bapak Hakim tadi. Sya langsung menghubungi Ambulance. Meskipun dia musuhnya, bukan berarti Sya tidak mempunyai hati nurani.
Bapak Hakim tersebut segera di bawa ke Rumah Sakit. Sya ikut pergi ke Rumah Sakit karena Bapak Hakim akan dibawa ke Rumah Sakit milik Mendiang Mamanya. Hanya saja, Sya menggunakan mobilnya sendiri untuk menuju ke tempat tersebut.
Tidak lama kemudian, Sya sampai lebih dulu. Ia segera memanggil beberapa Dokter spesialis bedah. Usai memanggil, Sya menuju ke ruangannya untuk menghubungi Hakim lainnya.
“Masalah besar seperti ini tidak boleh terus dibiarkan! Jika dibiarkan saja, maka akibatnya bisa fatal!” gumamnya dalam hati.
“Aku harus menyiapkan rencana dengan matang! Tidak bisa sembarangan dalam membuat rencana! Apalagi dalam masalah besar seperti ini!” gumamnya lagi dalam hati.
“Tapi ada anehnya! Mengapa Bapak Hakim tadi, wajahnya tidak asing? Apa aku salah melihat? Tidak mungkin aku salah lihat!“ gumam Sya pelan.
Sya mulai berpikir.
“Sebaiknya, agar masalah Identitas bapak Hakim yang sebenarnya cepat kelar.. Aku harus segera mencarinya! Apakah di Rumah Sakit, ada komputer milikku?” tanyanya. Sya mencari komputer ataupun laptop miliknya di ruangannya.
Bagi Sya, laptop maupun komputer adalah perangkat yang sama. Namun, tidak bagi kita semua. Komputer dan laptop itu sangat berbeda.
“Akhirnya ketemu juga!“ ucap Sya.
Sya mulai mencari identitas si bapak Hakim dengan kemampuan hackernya. Semua orang tahu apabila Putri tunggal Tuan Andrean sangatlah pintar dalam bidang IT. Hanya saja, hingga saat ini, tidak ada yang bisa mengetahui keberadaan putri tunggal Tuan Andrean setelah kejadian kecelakaan saat itu.
Ada beberapa orang yang mengira apabila putri tunggal Tuan Andrean meninggal. Tapi, hal tersebut tidak terbukti sangat jelas.
Beberapa menit kemudian.
“Akhirnya selesai! Aku tidak menyangka apabila Bapak Hakim itu adalah Tuan Eric wakil direktur di Rumah Sakit milik Mendiang Mamaku! Pantesan saja dari awal aku curiga dengannya!“ batin Sya.
"Aku harus lakukan apa ya?” bingungnya.
“Ahh.. Sepertinya aku harus bertemu dengan tiga sejoli itu sekarang!” ucap Sya.
Sya membereskan peralatan komputernya. Lalu, ia menyimpan komputernya di tempat yang aman. Usai menyimpan, Sya keluar dari ruangannya dan menuju ke suatu tempat yang pastinya tempat tersebut adalah tempat di mana tiga sejoli itu berada sekarang juga.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Sya sampai di tempat lokasi tiga sejoli tersebut. Ternyata tempat tersebut adalah Restoran milik Mendiang papa Sya yang dekat dengan Rumah Sakit Melati. Mengingat Restoran ini, Sya masuk tanpa aba-aba dan menuju ke meja tiga sejoli tersebut. Ternyata tiga sejoli tersebut tidak memesan ruangan VVIP.
Sya langsung mengebrak meja yang ditempati tiga sejoli tersebut. Pengunjung Restoran, pelayan, serta tiga sejoli tersebut terkejut dengan aksi Sya.
“Heyy! Apa yang kau lakukan? Datang tiba-tiba dan langsung mengebrak meja kami! Apa kau menginginkan meja ini sehingga menganggu kegiatan kami?” ucap Deshita tanpa ragu apalagi setelah mengetahui sang pelaku yang mengebor meja mereka.
Semua pengunjung Restoran setuju dengan ucapan Desgita barusan. Ria dan juga Clara juga demikian.
“Buat apa aku menginginkan meja kalian? Toh, meja nya masih banyak!“ ucap Sya tidak terima.
“Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Ria.
“Mengapa kalian langsung mengeklaim Restoran ini milik kalian, Hah? Apa karena kalian orang kaya sehingga bebas melakukan apa saja!” tanya Sya.
“Tapi 'kan ini memang milik kami!” ucap Clara tak mau kalah.
“Buktinya?” tantang Sya.
“Aku memang tidak punya bukti! Tapi percayalah, Restoran ini diberikan oleh Tuan Andrean untukku karena Nona Diva putrinya tidak mau mengurus usahanya!“ ucap Clara.
“Aku tidak akan percaya apabila tidak ada bukti sama sekali!“ ujar Sya tegas.
Pelayan tersebut kembali datang dengan membawakan sertifikat Restoran ini. Dan benar saja, tertulis di sana atas nama Clara Adelya.
“Huhhh!! Main labrak - labrak aja! Malu sendiri!!” seru Pengunjung Restoran. Namun, Sya tidak mengubris soal itu.
“Apa kamu yakin apabila ini asli?“ tanya Sya sembari membolak-balik sertifikat tersebut.
“Ten- Tentu saja!” jawab Clara gugup.
“Tapi aku tidak percaya apabila ini asli! Lihat saja, mengapa tandatangan Tuan Andrean seperti ini? Sama sekali tidak mirip, Nona Clara Adelya yang terhormat! Sepertinya Anda salah mencari lawan!” seru Sya. Semua pengunjung Restoran mulai melihat sertifikat tersebut.
Dan ucapan Sya benar apa adanya. Tandatangan Tuan Andrean tidak seperti itu.
“Huhhh!!” sorak Pengunjung Restoran kepada Clara.
__ADS_1
“Sebaiknya, Nona Clara Adelya yang terhormat ini beserta Nona Ria Erika dan Nona Deshita Sinta yang terhormat untuk tidak mencari lawan dengan melihat dari penampilannya! Don't judge a book by its cover! Jangan menilai buku dari sampulnya! Peribahasa yang cocok untuk kalian!” ucap Sya.
“Huuuhhh!! Nona Clara, Nona Ria, dan Nona Deshita mencari lawan salah!! Membuat sertifikat palsu!“ sorak Pengunjung.
Clara, Ria, dan Deshita malu dengan sorakan Pengunjung Restoran. Mereka tidak menyangka apabila rencana mereka akan berantakan seperti ini. Padahal rencana mereka sudah di atur dengan baik untuk menguasai Restoran ini. Sangat disayangkan, mereka sama sekali tidak bisa menguasainya.
Mereka bertiga langsung pergi dari Restoran tersebut karena malu.
Seorang Pelayan menghampiri Sya.
“Nona! Maafkan kami! Kami terlalu percaya dengan omong kosong Nona Clara!“ ucap Pelayan tersebut mewakili teman-temannya.
“Tidak masalah! Hati-hatilah! Sekarang banyak musuh dalam selimut! Jaga baik-baik Restoran ini dengan permintaan Tuan Andrean. Tuan Andrean sudah mempercayai kalian semua untuk membantunya mengelola Restoran ini! Jangan sia-siakan kepercayaan Beliau yang besar untuk kalian semua!” ucap Sya bijak.
“Baik, Nona! Terima kasih sudah membantu kami agar kami sadar apabila selama ini tiga orang tadi bukanlah pemilik Restoran ini! Kami akan tetap menjaga amanat dari Tuan Andrean dengan sebaik-baiknya!” sahut Pelayan tersebut dengan teman-temannya.
Sya hanya menanggapi ucapan Pelayan tersebut dan teman-temannya dengan senyuman. Usai menyelesaikan masalah satu, Sya pamit pergi.
“Saya tidak menyangka apabila Nona Clara dan dua temannya telah menipu kita semua!“ seru Pelayan.
“Iya, sama. Aku juga tidak menyangka nya!” sahut pelayan lain.
“Ingat dengan ucapan Nona cantik tadi. Sepertinya Nona tadi masih sangat muda usianya, namun dia sangat bijak daripada kita yang sudah bekeluarga!“
“Tentu saja, aku akan mengingat ucapan Nona tadi!”
“Semoga hidup Nona cantik tadi selalu bahagia! Sangat disayangkan, aku lupa untuk menanyakan nama Nona cantik tadi!“
“Tidak masalah untuk nama! Kita bisa memanggilnya dengan Nona cantik! Karena wajahnya sangatlah cantik!”
“Ya, kau benar! Nona tadi sangatlah cantik!“
“Iya, aku sampai iri dengan kecantikannya!”
“Tidak perlu iri! Seharusnya, kita bersyukur. Masih bisa bekerja, bekerjanya tidak sulit lagi! Gajinya tinggi lagi! Kehidupan kita walaupun hanya sederhana, kita bahagia!“
__ADS_1
“Iya!"
...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳... ...