Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 42 : BEBAS


__ADS_3

Happy Reading...


Tiba-tiba terdengar suara hewan buas di ruangan ini. Mereka semua yang berada di ruangan ini mulai merasakan panik.


“Apakah ada hewan buas di sini?“ Deshita mulai was-was.


“Oh tidak … Jangan sampai hal tersebut terjadi! Itu sangat menakutkan! Ruangan gelap ini sudah menakutkan, jika ditambah dengan hewan buas, maka ruangan ini akan semakin menakutkan!“ ucap Ria.


Lalu, suara hewan buas terhenti dan terdengar suara manusia yang tidak asing bagi mereka yang ada di ruangan ini.


“Halo! Pasti kalian semua sudah mengetahui diriku dari suara khas ku ini!“ ucap Sya.


“Apa kalian tahu? Jika aku membuat ruangan ini khusus untuk kalian! Bahkan memerlukan biaya sebesar lima triliun! Namun, kalian masih beruntung karena aku tidak memungut biaya dari kalian! Coba bayangkan saja apabila aku menagih soal itu kepada kalian! Seharusnya, kalian semua bersyukur karena sudah diberikan tempat yang dibangun dengan biaya besar!“


Semua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut dengan biaya yang diucapkan oleh Sya. Mereka tidak bisa membayangkan ruangan ini sebesar apa. Rumah mewah saja masih ratusan juta. Namun, ruangan ini membutuhkan lima triliun.


Jangankan lima triliun, satu triliun saja mereka tidak punya.


“Heii! Apa kamu sudah gila? Tidak mungkin ruangan ini memungut biaya sebesar itu! Jangan pura-pura jadi orang kaya, deh! Asal kamu tahu, aku juga bisa membuat ruangan seperti ini dengan biaya sepuluh triliun!“ ucap Clara dengan sombongnya. Padahal satu triliun, dirinya tak punya.


“Oh ya? Lalu, bagaimana jika aku memungut biaya pada kalian satu per satu? Satu orang bayar satu triliun per jamnya! Bagaimana? Setuju?“ tantang Sya.


“Gawat! Clara membuatku dalam masalah besar!“ batin Ria kesal dengan Clara sekaligus panik.


“Ahh! Clara selalu saja membuat masalah!” gumam Deshita dalam hati.


“Bagaimana? Apa kalian mau? Jika kalian diam, aku anggap kalian semua setuju!“ ucap Sya dengan lantang.


“Maaf! Kami tidak bisa!“ jawab Lia jujur. Daripada berbohong seperti Clara yang berujung seperti ini, Lia memilih untuk jujur agar tidak menimbulkan masalah besar lagi. Lia menatap tajam pada Clara anak sahabatnya, Clara yang ditatap tajam oleh Lia hanya bisa menundukkan kepalanya. Clara sendiri tidak menyangka apabila Christine yang dikenalnya sebagai saingannya akan melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


Apalagi mendengar ucapan Christine apabila pembangunan ruangan ini membutuhkan biaya lima triliun. Clara menyesal mengatakan seolah menantang Christine dengan sombongnya, yang berujung seperti ini.


“Akhirnya ada yang mengakui juga! Baiklah, karena aku sedang baik hati, aku tidak akan memungut biaya kepada kalian, namun dengan beberapa syarat!“ seru Sya.


Mereka yang ada di dalam ruangan terdiam ketika mendengar ucapan Sya alias Christine. Mereka berpikir dengan serius, langkah yang harus diambil oleh mereka saat ini.


“Anda sedang tidak berbohong pada kami, bukan??“ pekik Clara dengan tujuan agar dapat didengar oleh Christine. Sayangnya, wanita ini tidak mengetahui apabila suara sekecil apapun dapat didengar jelas oleh Christine alias Sya.


“Tidak! Aku juga akan membebaskan kalian dari ruangan terperangkap itu!“ jawab Sya.


Mereka yang ada di dalam ruangan tersebut masih ragu dengan ucapan Sya. Takut gadis tersebut menjebak mereka kembali. Namun, di sisi lain, mereka ingin bebas secepatnya dari ruangan ini. Mereka tidak tahan dengan kegelapan ini, rasanya seperti ada seseorang yang selalu mendatangi mereka, padahal tidak ada orang yang mengganggu mereka di dalam ruangan ini.


“Bagaimana? Saya beri waktu pada kalian sebanyak lima menit untuk berpikir! Setelah lima menit, berikan jawaban kalian! Jika tidak ada yang memberikan jawaban, maka saya anggap, kalian ingin terperangkap selamanya dalam ruangan itu!“ seru Sya.


Lima menit berlalu.


“Bagaimana? Apa jawaban kalian?“ tanya Sya.


“Baiklah, pintu ruangan kalian akan terbuka secara perlahan! Sembari menunggu, dengarkan baik-baik ucapanku!“ ucap Sya.


“Jangan berani untuk coba-coba menggangu kehidupan aku lagi! Apalagi orang yang bersangkutan dalam hidupku! Jika kalian terbukti melakukannya, maka semua perbuatan jahat kalian termasuk bisnis ilegal yang kalian lakukan itu, akan aku laporkan kepada pihak kepolisian! Semua bukti ada di tanganku!“ jelas Sya dengan panjang lebar.


“Baiklah!“ jawab semuanya.


Pintu ruangan tersebut perlahan mulai terbuka. Cahaya sedikit demi sedikit menerangkan ruangan gelap tersebut.


“Ingat! Jangan coba-coba untuk melanggar yang aku katakan tadi! Jika kalian melanggarnya, maka kalian tahu akibatnya!“ tegas Sya.


Mereka yang ada di dalam ruangan, tidak menjawab ucapan Sya. Mendapat kebebasan dari ruangan gelap gulita ini menjadi kebahagiaan mereka. Mereka mulai melupakan sejenak ucapan Sya tadi.

__ADS_1


Sya juga tidak memedulikan soal itu. Jika mereka berani melakukannya, maka risiko atas perbuatan mereka, mereka juga yang menanggungnya. Dirinya tidak ada campur tangan dengan masalah mereka.


“Akhirnya kita terbebas dari ruangan ini!“ seru Clara dengan senyuman menghias wajahnya. Wajah yang awalnya dihias dengan cantik menjadi seorang badut. Di ruangan gelap gulita tadi, sama sekali tidak ada AC ataupun kipas. Jangankan AC dan kipas, jendela yang terbuka saja tidak ada. Jendela tertutup rapat.


“Haha! Clara, wajahmu seperti badut!“ tawa Ria.


“Iya! Wajahmu juga, Ri! Wajahmu juga seperti Clara! Badut kalian berdua, haha!“ tawa Deshita.


“Des! Wajahmu juga sama ya!“ sinis Clara.


“Aku tidak percaya! Emang kalian punya bukti?“ tantang Deshita seolah dirinya yang menggunakan make-up diwajahnya, wajahnya masih terlihat cantik. Tidak seperti Clara dan Ria, wajah mereka berdua seperti badut.


“Coba kamu berkaca deh, Shita!“ ucap Ria sembari menyodorkan cermin kecil yang selalu dibawa olehnya ke mana saja kepada Deshita. Deshita masih dengan angkuhnya, lalu mengambil cermin yang disodorkam oleh Ria.


“A– Apa? Bahkan wajahku lebih mengerikan di antara mereka berdua! Apes banget!“ gerutu Deshita dalam hati lalu mengembalikan cermin milik Ria dan mengambil tisu dalam tasnya untuk membersihkan hiasan make-up di wajahnya.


“Eh, Des! Kamu punya tisu ya? Minta dong!“ ucap Clara.


“Boleh! Satu lembar dua ribu!“ jawab Deshita.


“Satu lembar dua ribu? Kalau aku minta sepuluh lembar, harus bayar berapa??“ tanya Clara.


“Em …“ Deshita mulai berpikir. Deshita tidak lihai dalam matematika. Di antara persahabatan mereka yang terdiri tiga orang, hanya Clara yang memiliki ilmu matematika yang tinggi daripada dirinya dan Ria.


“Dua puluh ribu!“ jawab Ria tiba-tiba. Hal tersebut membuat Clara dan Deshita terheran-heran dengan jawaban Ria. Deshita menoleh ke Clara pertanda menanyakan apa jawaban dari Ria barusan adalah benar. Clara mengangguk.


“Ri! Kok kamu tiba-tiba bisa pinter matematika??“ tanya Deshita heran.


To be continued...

__ADS_1


Note: Maaf yaa, updatenya satu bab per hari.. Jangan lupa dukungannya yaa.. Terimakasih


__ADS_2