
Happy Reading...
Diva pun menoleh ke calon suaminya. Berharap calon suaminya tidak marah dengan tingkahnya barusan.
“Suka banget ya sama pipi aku?“ ucap Calvin sembari mencubit balik pipi calon istrinya.
“Kamu juga gemes deh,“ ucap Calvin lagi sembari mengecup pipi kiri Diva lalu mengecupnya lagi di pipi kanan Diva. Diva merona dibuatnya.
Diva memegang kedua pipinya yang baru saja dikecup pria itu uang merupakan calon suaminya. Pipinya langsung merah merona.
“Sayang!! Jangan godain aku terus!“ sahut Diva sembari memalingkan wajahnya karena malu.
“Malu? Aku ini calon suami-mu, Sayang. Besok sudah acara pernikahan kita.“ jawab Calvin sembari menarik tubuh calon istrinya ke dalam pelukannya. Membuat sang empunya semakin malu dan menyembunyikan wajahnya di bidang nya.
“Mau ke Butik sekarang?“ tanya Calvin.
“Jadi, kamu ke sini buat ajakin aku ke Butik?“ Bukannya menjawab pertanyaan Calvin barusan, Diva justru bertanya balik kepada calon suaminya.
“Iya, Sayang.“ jawab Calvin.
“Oh ya, Sayang. Mengenai keamanan yang harus kita ketatkan, urusan itu berikan saja padaku.“ ucap Calvin.
“Apa tidak masalah, Sayang?“ Tanpa sadar, Diva terus memanggil Calvin dengan sebutan ‘Sayang’.
Menyadari bahwa calon istrinya terus memanggilnya dengan sebutan itu membuat Calvin mengecup kening calon istrinya dengan lembut. “Tidak masalah, Sayang.“
“Baiklah, kalau begitu.“ sahut Diva.
“Ayo kita ke Butik! Sekalian membawa sahabatmu, dan asistenku!“ jawab Calvin sembari melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Diva untuk keluar dari ruangan.
“Tapi, pekerjaan-ku masih banyak! Apa kamu melihatnya, Sayang?“ tanya Diva sembari menunjuk pekerjaan berkasnya yang masih menumpuk.
“Sebentar saja, Sayang!“
“Baiklah. Setelah selesai, kita harus sudah pulang!“ jawab Diva pada akhirnya.
“Sipp!“ ucap Calvin sembari mengacungkan tangannya lalu menggandeng tangan calon istrinya dan mulai keluar dari ruangan Diva. Setelah memastikan bahwa pintu ruangan Diva sudah benar-benar dikunci, barulah mereka berdua menyusul Eca dan Devan.
...☘️☘️☘️...
“Tuan Devan? Nona Eca?“ Mereka berdua memanggil satu sama lain secara bersamaan tanpa disengaja.
“Kamu saja dulu,“ Mereka kembali berucap bersamaan.
“Baiklah, kamu saja dulu, Nona.“ ucap Devan.
“Kamu kemari bersama Tuan Calvin?“ tanya Eca dengan penasaran. Sebab, yang ia ketahui, bahwa kemanapun Calvin pergi, maka disitulah ada Devan. Dirinya kurang percaya dengan berita tersebut.
“Iya. Aku diminta oleh Tuan Calvin untuk mengantarkannya ke sini,“ jelas Devan tanpa diminta.
Suasana hening tiba-tiba. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
“Lalu, Nona Eca berada di sini karena apa?“ tanya Devan sembari menatap sekilas barang yang dibawa oleh Eca.
__ADS_1
“Eh, aku mau ngantar berkas milik Diva yang tertinggal di Mansion.“ jawab Eca singkat tanpa menyadari bahwa berkas milik Diva masih di tangannya sendiri.
“Ohh begitu.“ Devan tampak mengangguk kecil pertanda mengerti. Lalu, kembali menatap map yang berisikan berkas di tangan Eca.
“Lalu, yang ditanganmu itu apa?“ tanya Devan dengan mata yang masih menatap map tersebut.
“Maksudmu, Tuan?“ Eca mengernyitkan alisnya tidak mengerti. Lalu pandangannya perlahan mulai melihat tangannya.
“Oh iya!“ Eca menepuk keningnya.
“Aku lupa memberikannya,“ ucap Eca lalu pergi tanpa pamit pada pria tersebut menuju ruangan Diva.
Namun, gadis tersebut malah berpapasan dengan Diva dan Calvin yang sedang bergandengan tangan menuju luar.
“Sya!“ panggilnya lalu berlari mendekati kedua orang yang sedang bergandengan tangan.
“Ada apa, Ca?“ tanya Diva sembari melihat Eca memegang sebuah map.
“Tadi aku berniat ke sini untuk memberikan-mu map berkas ini. Sepertinya tertinggal ya?“ jawab Eca sembari memberikan map tersebut kepada Diva.
“Eh iya, Ca. Terima kasih ya,“ ucap Diva sembari menerima map miliknya dari Eca.
“Sama-sama.“ jawab Eca sembari tersenyum manis.
“Ini air untukmu, Ca. Sepertinya kamu sangat kehausan,“ Diva memberikan botol minum kepada Eca.
“Terima kasih, Sya.“ Yang ditanggapi oleh Diva dengan anggukan kepala dan senyuman. Eca pun langsung meminumnya dengan satu tegukan. Ia sangat kehausan karena berlari.
“Iya. Jadi, mau pergi sekarang?“ tanya Eca sesudah meminum air.
“Iya, Ca. Takutnya kalau nanti, nggak keburu.“ jawab Diva sembari menatap calon suaminya.
“Baiklah, ayo!“
...☘️☘️☘️...
Mereka berempat pun menaiki mobil Calvin. Devan duduk di kursi kemudi dan Eca duduk di sebelah Devan, sdangkan Calvin dan Diva berada di kursi penumpang.
Di perjalanan, Calvin memeluk Diva dengan posesif. Devan yang di depan melihatnya pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap posesif atasannya. Atasannya itu sekarang sudah benar-benar bucin dengan Nona Diva.
Tidak disangka olehnya, bahwa pesona Nona Diva dapat memikat hati atasannya itu. Perlu diketahui, bahwa Calvin juga memiliki sejuta pesona yang mampu memikat hati para gadis, namun satupun gadis di antara mereka tidak berhasil mendapatkan hati atasannya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di Butik milik Calvin. Langsung saja Calvin turun dengan cepat lalu membukakan pintu untuk calon istrinya. Melihat sikap Calvin, membuat Diva tersenyum.
Sedangkan Devan yang melihat atasannya bersikap demikian, pun tidak ingin kalah, ia pun juga ikut turun lalu membukakan pintu untuk gadis yang duduk di sebelaunya tadi.
Sang pangeran yang membukakan pintu untuk Cinderella.
Semua pekerja Butik dan beberapa pembeli bertepuk tangan dengan meriah melihat dua pria tampan membukakan pintu untuk seorang gadis cantik.
“Prokkk … Prookk … Prookkk!“
Tepukan tangan begitu meriah.
__ADS_1
Calvin mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Diva. Dengan malu-malu, Diva menerimanya.
Tidak ingin kalah dengan atasannya, Devan pun bersikap demikian kepada Eca. Membuat Eca tersipu malu.
Setelah kegiatan yang membuat orang-orang heboh, akhirnya mereka pun masuk ke dalam Butik. Di dalam Bukti, semua pembeli tadinya yang masih berada di sini, seketika menghilang bagai ditelan bumi.
Tentu itu semua permintaan Calvin. Dengan uang, semua hal bisa dikuasai-nya.
“Kalian berdua pilihlah! Aku dan calon istriku akan memilih di sini!“ ucap Calvin sembari memberikan kode pada asistennya.
“Baik, Tuan.“ jawab Devan lalu menarik tangan Eca dan membawanya ke ruangan Butik lainnya yang telah kosong agar tidak menganggu kegiatan atasannya itu bersama calon istrinya.
“Kenapa kita harus memilihnya berpisah dengan mereka?“ tanya Eca dengan heran. Hanya memilih gaun untuk pernikahan, mengapa dirinya dan asisten calon suami sahabatnya harus meninggalkan keduanya?
“Tuan Calvin tidak ingin kegiatannya diganggu oleh kita.“ jawab Devan tanpa menoleh. Dirinya sibuk mencari gaun untuk sahabat calon istri atasannya.
“Padahal ruangannya besar, lho? Mengapa harus takut kita menganggu-nya? Tuan Calvin aneh sekali,“ gerutu Eca sembari mencari gaun yang cocok untuknya.
Lalu, tanpa disengaja, tangan mereka saling bersentuhan. Mereka memegang gaun yang sama. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tatapan yang tidak bisa diartikan.
Suasana hening.
Eca pun memberanikan diri untuk membuka suara. “Mengapa kamu mencari gaun? Bukankah kamu seorang pria yang seharusnya memakai jas?“ sembari mengernyitkan alisnya. Heran.
“Aku membantu mencarikan nya untukmu,“ jawab Devan tidak ingin sahabat calon istri atasannya salah paham dengannya. Mengira dirinya menyukai sahabat calon istri atasannya.
“Terima kasih,“ Eca merasa tersipu malu dengan sikap asisten calon suami sahabatnya.
“Sama-sama. Oh ya, aku memilihkan untukmu, gaun yang ini. Aku melihat gaun ini sangat cantik dan cocok untukmu,“ jawab Devan sembari mengambilkan gaun yang ingin diambilnya dan memberikannya kepada Eca.
“Terima kasih atas pujiannya. Aku akan pergi untuk mencoba gaun ini,“ ucap Eca sembari menerima gaun tersebut dari Devan lalu pergi ke ruangan ganti.
“Baiklah,“ jawab Devan lalu mulai mencari jas yang cocok untuknya.
Devan mulai mencari-cari jas yang cocok untuknya. Dari sekian banyaknya warna, tidak ada satupun warna yang berhasil membuatnya tertarik.
“Warna jas ini pasti cocok untukmu,“ ucap Eca tiba-tiba dengan menggunakan gaun yang dipilih oleh Devan.
Mendengar suara tidak asing, tentunya membuat Devan terkejut dan reflek menoleh.
“Warna jas ini pasti cocok untukmu, Tuan Devan.“ Eca mengulangi perkataannya barusan.
“Kamu sangat cantik.“ puji Devan tanpa sadar sembari menatap Eca tanpa kedip sekalipun.
“Terima kasih atas pujiannya, Tuan Devan.“ jawab Eca tersipu malu lalu menundukkan kepalanya.
“Oh ya. Tadi kamu mengatakan, warna jas ini cocok untukku. Apakah benar?“ tanya Devan sembari mengambil jas yang dikatakan oleh Eca apabila warna jas tersebut sangat cocok untuk Devan.
“Deg!“
To be continued...
Haduh, Author ini kerjaannya gantung mulu ya? Wkwk, Author nggak ada niatan sama kalian buat gantung ceritanya, tapi gimana gitu ya, Author nya nggak sadar pas ngetik, bab ini sudah begitu panjang. Mungkin sedikit kesan bertele-tele ya, tapi kalau menurut kalian begitu, tidak masalah. Oh ya, mngkin beberapa hari atau bulan depan akan terbit novel baru dengan tema Isekai. Ditunggu ya. Jangan lupa dukungan kalian buat Author~ Terimakasih
__ADS_1