
Happy Reading...
“Goresan di tubuh Nona? Apa Nona terluka parah?“ Wajah pria tersebut tiba-tiba cemas akan keadaan Diva.
Belum lagi Diva menjawab, dua pria yang tidak diundang kemari datang.
“Goresan apa?“ tanya seorang pria yang datang bersama asistennya. Menatap tajam kepada pria tersebut.
Sontak mendengar suara yang tidak asing, Diva menoleh ke sumber suara.
“Apa yang terjadi?“ tanya pria itu ulang. Pria itu ialah Calvin. Devan, asistennya hanya diam tidak berkutik. Tidak ingin menjadi sasaran kemarahan atasannya itu.
Pria tersebut yang merupakan anak buah Papa Diva pun memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya kepada Calvin. Apalagi melihat anak atasannya itu diam, membuat pria tersebut semakin merasa bersalah.
“Jadi!“ ujar Calvin dengan tatapan murka. Ternyata diam-diam gadis pujaannya itu melakukan sebuah rencana untuk menjebak musuhnya tanpa memberitahu kepadanya. Bagaimana dirinya tidak marah ketika mengetahui ini semua? Merasa dirinya tidak berguna.
“Semua ini karena aku, Tuan. Maaf!“ jawab pria tersebut sembari bersimpuh lagi di depan Calvin dan Diva. Diva benar-benar tidak mengerti dengan anak buah papa-nya itu. Mengapa malah pria itu yang meminta maaf? Bukankah luka goresan kecil itu juga termasuk kelalaian Diva sendiri?
Tanpa basa-basi, Calvin langsung menghajar pria tersebut. Mendengar bahwa Diva terluka akibat pria tersebut, membuat dirinya emosi.
Pria tersebut hanya diam tanpa membalas pukulan dari Calvin.
“Tuan Calvin!“ panggil Diva berusaha menghentikan Calvin agar tidak terus menghajar anak buah papa-nya yang sama sekali tidak bersalah itu. Menarik tangan Calvin dan membawanya masuk ke dalam mobil dan membawa mobilnya, meninggalkan anak buah papa-nya bersama asisten Calvin.
“Salah paham?“ Devan tampak menghela napasnya dengan kasar. Atasannya itu benar-benar sudah cinta dengan Diva. Sampai-sampai, mendengar bahwa Diva terluka sedikit saja langsung menghajar pria yang sama sekali tidak bersalah.
Pria tersebut hanya mengangguk.
__ADS_1
“Ayo, aku bawa kamu ke Rumah Sakit sekarang!“ ajak Devan.
“Tidak perlu, Tuan! Ini hanya luka kecil saja! Saya pamit pulang dulu! Terima kasih atas bantuannya!“ tolak pria tersebut dengan halus sembari tersenyum kecil lalu meninggalkan Devan di sana seorang diri.
“Ya ampun! Mengapa aku ditinggalkan seorang diri di sini! Apa kalian tega meninggalkan diriku!“ gerutu Devan lalu masuk ke mobil atasannya dan pergi meninggalkan tempat sepi itu. Sejak berada di sana, kakinya sudah lebih dulu gemeteran? Bagaimana tidak? Tempat ini sepi sudah seperti tempat makhluk gaib.
“Andai penggemar berat-ku mengetahui jika aku pria tampan ditinggalkan seorang diri di tempat sepi seperti ini! Pasti semuanya akan menertawakan-ku!“ kesal Devan.
...☘️☘️☘️...
Calvin yang dibawa Diva ke tempat yang tidak diketahui hanya bisa diam menahan emosinya. Sejujurnya, ia marah ketika mendengar gadis pujaannya itu terluka. Namun, Calvin sedikit merasa heran, saat melihat tubuh Diva, ia sama sekali tidak melihat luka goresan sekecil apapun.
“Kamu terluka di bagian apa?“ tanya Calvin dengan suara datarnya.
Diva hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Calvin barusan.
Setelah sampai di tempat tujuannya, Diva turun. Lalu menarik tangan pria itu agar ikut bersamanya.
Bangunan yang cukup mewah. Bangunan ini seperti terlihat sebuah Villa. Namun, Villa milik siapa? Mengapa Diva mengajak-nya ke Villa ini?
“Ini Villa milikku!“ ucap Diva seolah sudah mengetahui apabila pria itu bertanya-tanya bangunan apa ini.
Calvin hanya mengedikkan bahunya acuh. Sok cool di depan Diva. Padahal di dalam hatinya, ada rasa kagum dengan gadis pujaannya ini.
“Selamat datang, Nona Diva, Tuan Calvin.“ sambut satpam yang menjaga Villa tersebut selama dua puluh empat jam non-stop.
“Terima kasih, Pak!“ jawab Diva sembari tersenyum manis.
__ADS_1
Senyuman manis yang dilemparkan Diva membuat Calvin seketika cemburu. Langsung menarik tangan gadis pujaan-nya itu masuk.
“Di mana luka itu?“ tanya Calvin langsung to the point. Tidak bisa menahan rasa penasaran-nya sekaligus rasa gelisah nya. Takutnya luka itu cukup parah.
Sontak, Diva langsung menunjuk keningnya. Calvin mengangkat alisnya merasa heran. Pria itu tidak melihat apapun di kening gadis pujaan-nya itu.
“Aku tidak melihatnya,“ Jawaban dari Calvin membuat Diva menghela napasnya dengan kasar. Lalu menarik tangan pria itu ke dalam pelukannya agar pria itu dapat melihat dengan jelas.
Ternyata itu hanyalah luka seperti semacam kemerahan, mirip dengan memar. Kening Diva terbentur stir kemudi mobil akibat terlalu lelah.
“Hanya itu?“ Calvin merasa cemas, takutnya ada luka lainnya yang parah.
“Ada lagi,“ jawab Diva.
Diva langsung menunjuk telapak tangannya. Hanya sekedar kemerahan.
“Apa sakit?“ tanya Calvin sembari mengelus telapak tangan itu dengan lembut lalu mengecupnya sekilas.
“Sedikit,“ jawab Diva jujur.
“Oh ya, tadi aku mendengar ada luka goresan,“ ujar Calvin.
Diva menundukkan kepalanya sembari menunjuk di bagian kakinya. Calvin melepaskan pelukannua dengan pelan lalu melihat kaki Diva yang terdapat goresan.
“Ini kena kawat yang ada di mobilku. Aku lupa mengeluarkannya,“ ucap Diva sebelum pria itu bertanya lagi kepadanya.
Calvin langsung menggendong Diva dan membawanya menuju sofa, lalu mendudukkan tubuh gadis itu di atas sofa dengan hati-hati.
__ADS_1
Pria tersebut pun langsung memeluk Diva. Rasa emosi tadi hilang begitu saja setelah mencium aroma yang dirindukan nya. Calvin memejamkan matanya sembari menghirupnya.
To be continued...