Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 86 : MALAM PERTAMA


__ADS_3

Happy Reading ...


“Deg!“


Baik Calvin maupun Diva, keduanya sama-sama deg-degan menunggu berita selanjutnya yang akan disampaikan oleh Pihak Kepolisian.


“Halo? Apa suara saya kedengaran?“ tanya Polisi yang menghubungi nomor Diva. Polisi tersebut mengira apabila Diva dan Calvin tidak mendengar suaranya tadi, sebab Diva maupun Calvin tidak menjawab perkataannya tadi.


“Dengar, Pak!“ jawab Diva.


“Baiklah. Saya kira, suara saya tidak kedengaran oleh Nona dan Tuan, sebab Nona Diva dan Tuan Calvin tidak menjawab perkataan saya tadi. Tapi … Tidak masalah. Suara saya masih tetap kedengaran?“


“Masih, Pak. Lancar banget malah!“ jawab Calvin bergantian.


“Oke, baiklah.“ Polisi tersebut menghentikan ucapannya terlebih dahulu. Sepertinya sedang menarik napas panjang untuk menjelaskan mengenai berita yang ingin disampaikan olehnya sejak tadi.


“Berita apa yang ingin Bapak sampaikan sejak tadi? Berita baik ataukah berita buruk?“ tanya Calvin dengan hati-hati.


“Bisa dikatakan, berita yang ingin saya sampaikan ini, adalah berita baik. Jadi baik Nona Diva maupun Tuan Calvin, tidak perlu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan.“ jawab Polisi tersebut.


“Baiklah, Pak. Akhirnya saya dan istri saya bisa tenang mendengarnya, apabila berita yang ingin Bapak sampaikan adalah berita baik untuk kami.“ ucap Calvin yang akhirnya bisa bernapas dengan lega, begitu juga dengan Diva.


“Berita yang ingin saya sampaikan sejak tadi ialah … Tuan Eric berhasil kami tangkap siang tadi.“ jelas Polisi dengan singkat, namun begitu penuh makna yang tersirat. Jika Eric sudah ditangkap, maka kehidupan Calvin dan Diva selanjutnya akan berbahagia.


Baik Calvin maupun Diva merasa bahagia.


“Halo? Halo?“ ucap Polisi tersebut.


“Halo, Pak?“ jawab Diva dan Calvin secara serempak.


“Suara saya tadi kedengaran? Tadi jaringan di ponsel saya sempat hilang.“ ujar Polisi tersebut.


“Kedengaran kok, Pak!“ jawab Diva.


“Syukurlah jika suara saya masih kedengaran. Ini berita baik. Kami akan memperketat penjagaan sel nantinya agar tidak mudah bagi Tuan Eric untuk kabur dari sel.“ jelas Polisi tersebut lagi.


“Baiklah, Pak. Saya senang mendengar berita baik ini. Semoga secepatnya juga, ada kabar dari Pengadilan mengenai kasus Tuan Eric.“ ucap Diva dengan wajah senang.


“Tidak hanya kamu, Sayang. Aku juga senang.“ jawab Calvin sembari menambahkan ucapan Diva tadi.


“Kami usahakan sesegera mungkin ya, Nona Diva, Tuan Calvin. Kami akan segera memberitahu berita lainnya kepada Nona Diva dan Tuan Calvin setelah dapat kabar selanjutnya.“ ujar Polisi tersebut.


“Baiklah, Pak. Terima kasih banyak.“ sahut Diva dan Calvin secara serempak.


“Sama-sama. Kami akan segera infokan nanti apabila ada kabar selanjutnya ya.“

__ADS_1


“Iya, Pak.“ jawab Diva dan Calvin secara serempak kembali. Keduanya pun saling menatap satu sama lain.


“Baiklah, mungkin sampai di sini saja dulu. Teleponnya, saya matikan yaa.“ ucap Polisi tersebut.


“Baik, Pak.“


“Maaf kalau menganggu malam pengantin kalian, hehe … Silakan dilanjutkan kembali.“ sahut Polisi tersebut sembari terkekeh kecil di akhir kalimat lali mematikan sambungan telepon secara sepihak.


“Tut!“


Diva dan Calvin masih tetap bertahan di posisi awal, yaitu berpelukan dan saling menatap satu sama lain.


Setelah Diva menyadari tingkahnya barusan, Diva langsung memalingkan wajahnya karena malu.


“Sayang. Mandilah terlebih dahulu.“ ucap Calvin.


“Baiklah.“ jawab Diva sembari beranjak dari ranjang.


“Oh ya, Sayang … Semua pakaian kita, tadi ada dengan siapa?“ tanya Diva. Sebab, dirinya tidak menemukan satupun koper milik dirinya maupun milik suaminya di ruangan ini.


“Di dalam koper, bukan?“ tanya balik Calvin.


“Iya. Ada dengan siapa?“


“Kalau tidak salah, dengan asisten-ku sepertinya …“ jawab Calvin sembari mengingat-ingat kembali.


“Tentu saja, Sayang.“ jawab Calvin sembari tersenyum lalu beranjak pergi perlahan dari ruangan tersebut.


Tersisa Diva-lah dalam ruangan.


“Jantung-ku seperti sudah tidak normal apabila dekat dengan suamiku. Bagaimana nanti jika malam pertama kami tidur bersama? Apakah akan tetap seperti itu?“ Diva yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pria, tentu baru merasakan hal-hal yang baru dirasakannya saat ini.


“Mengenai panggilan ‘Sayang’, aku terlihat sudah tidak malu lagi ketika memanggil suamiku dengan sebutan itu.“ cuman Diva lagi.


“Apakah ini yang namanya jatuh cinta?“ Diva berpikir.


Namun, tiba-tiba saja, seseorang memeluk Diva dari belakang yang saat itu sedang berdiri.


Tentu, Diva merasa terkejut.


Namun, saat Diva menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memeluknya, dirinya malah ditahan oleh orang yang memeluknya.


“Tetaplah seperti ini sejenak.“ bisik orang tersebut sembari menghirup aroma istrinya.


Diva mengenali suara tersebut. Ya, suara tersebut adalah suara milik suaminya.

__ADS_1


Akhirnya, Diva membiarkan suaminya memeluk dirinya dengan posisi berdiri.


Beberapa saat kemudian, Calvin, suami Diva akhirnya melepaskan pelukan tersebut.


“Ayo mandi bersama!“ ajak Calvin.


“A-Apa? Mandi bersama?“ Diva sangat gugup.


“Iya, Sayang! Ayoo!“ Tanpa basa-basi lama lagi, Calvin langsung menggendong istrinya ala bridal sytle menuju kamar mandi.


Diva lagi-lagi merasa terkejut dengan aksi Calvin yang tiba-tiba saja menggendong dirinya masuk ke kamar mandi.


“Sa-Sayang?“ ucap Diva dengan gugup. Sebab, Calvin dan dirinya sudah berada di bathup.


“Apa boleh aku melakukannya?“ tanya Calvin sembari menatap Diva dengan tatapan penuh cinta.


Dengan gugup, Diva mengangguk kecil.


...☘️☘️☘️...


Setelah beberapa jam di kamar mandi untuk melakukan malam pertama mereka, akhirnya sepasang pengantin baru itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


Calvin keluar sembari menggendong Diva. Baik Diva maupun Calvin, keduanya sama-sama belum mengenakan pakaian.


Setelah menurunkan dan mendudukkan Diva di atas ranjang secara lembut, Calvin pun segera mengambil koper miliknya dan milik istrinya untuk mengambil pakaian yang akan digunakan mereka berdua malam ini.


Tidur tanpa busana? Calvin menolak besar mengenai tersebut, meskipun hati kecilnya menginginkannya. Mengingat suhu ruangan ini yang sangat dingin, Calvin takut apabila istrinya esok hari justru sakit. Bisa-bisa, rencana yang sudah diatur olehnya untuk esok hari akan gagal total. Calvin tidak mau itu terjadi.


Dan Calvin tidak ingin istrinya sakit.


Calvin membantu sang istri untuk mengenakan piyama tidur. Setelah membantu sang istri, Calvin pun akhirnya mengenakan piyama tidur miliknya.


Keduanya sama-sama berbaring di atas ranjang.


“Tidurlah dengan nyenyak, Sayang!“ ucap Calvin sembari mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang lalu yang terakhir …


“Cup!“


Calvin men ci um bibir istrinya sebelum tidur.


“Good night.“ ucap Calvin sembari tersenyum.


“Good night.“ jawab Diva sembari ikut tersenyum. Meskipun malam pertama dirinya dan suaminya yang menyebabkan bagian intinya hingga saat ini sakit, bukan berarti Diva akan cemberut. Sebab, tindakan Calvin malam ini yang menurutnya sangat romantis, membuat Diva semakin jatuh cinta pada suaminya.


Keduanya perlahan tertidur pulas, dengan saling berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


To be continued...


Akhir bulan ini, novel ini akan tamat. Nanti jika novel baru sudah diterbitkan, jangan lupa mampir ya~ Terimakasih😊


__ADS_2