Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 96 : GUGUP


__ADS_3

“Baiklah, baiklah. Saya akan duduk dengan Tuan Devan saja.“ Eca pun hanya bisa pasrah duduk di sebelah Devan, dibandingkan jika seandainya dirinya duduk disebelah orang yang memiliki gangguan jiwa. Membayangkannya saja, sudah membuat Eca ketakutan.


Orang-orang yang memiliki gangguan jiwa sekarang, benar-benar cukup mengerikan. Sebab, orang yang memiliki gangguan jiwa, bisa membunuh siapapun yang berada di dekatnya apabila pikirannya sedang memikirkan hal yang tidak baik.


Namun, bukan berarti, orang yang tidak memiliki gangguan jiwa, tidak perlu kita waspadai.


Eca akhirnya duduk bersama Devan. Meskipun ada rasa gugup di hatinya.


***


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa, makanan yang dipesan oleh keduanya tadi sudah selesai dan tinggal mengantarkannya ke meja Devan.


“Makanannya, Nona, Tuan. Selamat menikmati.“ ucap Pelayanan tersebut sembari meletakkan beberapa piring yang dibawanya sekaligus berkat bantuan nampan.


“Iya, terimakasih ya.“ jawab Devan. Ternyata Devan bukanlah orang yang cuek seperti atasannya.


“Sama-sama, Tuan.“ Lalu, Pelayan tersebut pergi. Dan kembali dengan membawa minuman yang dipesan oleh Eca.

__ADS_1


Eca dan Devan pun mulai memakan makanannya. Mereka makan tanpa bersuara sama sekali. Suasana diantara keduanya benar-benar sunyi.


Hingga disaat, keduanya sama-sama sudah menyelesaikan makannya. Eca dan Devan berniat mengambil minuman mereka. Lalu, tanpa sengaja, tangan mereka bersentuh secara langsung saat itu.


Iya, minuman Devan dan minuman Eca diletakkan oleh sang Pelayan begitu dekat. Sehingga saat keduanya mengambil secara bersamaan, kulit mereka bersentuhan.


Eca dan Devan menatap satu sama lain. Baik Devan maupun Eca, tidak ada yang berniat melepaskan itu.


Terlihat ketika tangan keduanya bersentuhan, seolah Devan dan Eca saling mengenggam tangan dimata orang lain.


“Eh,“ Devan tiba-tiba baru menyadari apabila dirinya tadi menatap Eca terus-menerus. Namun disaat dirinya ingin menghentikan tatapan tersebut, manik matanya secara tidak sengaja melihat sesuatu dibibir Eca.


Eca hanya menatap Devan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. “Apa begini rasanya jatuh cinta?“ pikirnya.


Setelah selesai, Devan membuang tisu tersebut ke tempat sampah terdekat.


“Ada apa? Mengapa menatapku terus-menerus? Apa ada yang salah denganku?“ ucap Devan setelah kembali. Devan merasa heran ketika ditatap terus-menerus oleh Eca.

__ADS_1


“Hem … Ti-Tidak ada …“ ucap Eca dengan terbata. Rasa gugup menyelimuti hati gadis itu.


***


Halo kakak readers, maaf yaa Author telat mengupload. Sebelumnya, maaf jika isi babnya kali ini lebih sedikit dibandingkan bab-bab sebelumnya.


Dan apabila setelah bab ini ter upload dan kakak readers melihat tag end di covernya, maaf.


Novel ini sementara ditandai tamat terlebih dahulu. Sebenarnya, novel ini akan tamat beberapa bab lagi setelah cerita Eca dan Devan selesai lalu dengan kabar gembira yang akan dibawa Diva dan Calvin setelah pergi berbulan madu. Sayangnya, karena terhambat dengan kegiatan Author, ceritanya ikut terhenti.


Meskipun telah ditandai tamat, bukan berarti ceritanya akan berhenti sampai disini saja. Novelnya akan tetap dilanjutkan hingga cerita Diva selesai.


Mohon maaf apabila Author ada salah-salah kata. Terima kasih kepada readers yang sudah senantiasa menunggu, readers yang telah membaca cerita ini, dan juga kepada readers yang telah memberi dukungan berupa poin di novel ini.


Author hanya dapat mengucapkan terimakasih kepada para readers.


Terimakasih semua. Bila cerita ini benar-benar telah selesai, silakan mampir ke cerita “Isekai: Mengubah Takdir Tokoh Utama“ yang menceritakan Zilya Daisha yang seorang dosen lalu tiba-tiba berpindah ke dunia lain dan menjadi seorang mahasiswi yang memiliki nasib buruk.

__ADS_1


Sampai jumpa para readers 👋🏻. Terimakasih


__ADS_2