Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 55 : MODUS


__ADS_3

Happy Reading...


Batu yang terlempar tidak mengenai mereka berdua. Lemparan batu itu meleset. Devan hendak mengejar orang yang melempar batu tersebut, namun Devan malah dilempar batu oleh orang tersebut. Beruntung, Devan dengan cepat menghindar lemparan batu tersebut.


Lemparan batu kedua mendekati kedua orang yang tengah berpelukan tanpa disengaja. Batu tersebut semakin dekat dan...


Sya yang menyadari apabila orang yang melemparkan batu ke arahnya kembali melemparkan batu kedua, dengan cepat ia mendorong tubuh Calvin hingga terjatuh termasuk dirinya yang masih di dalam pelukan Calvin.


Calvin yang didorong oleh Sya tiba-tiba, merasa terkejut. Namun, ternyata Sya mendorongnya ke tempat tikar dan bantal sehingga kepalanya tidak terbentur.


Sya melepaskan diri dari pelukan Calvin. Lalu, mencoba mengejar si pelempar batu. Namun saat mengejar si pelaku, ia melihat si pelaku malah kabur pergi dengan menaiki motor. Melihat itu, Sya menjadi geram sendiri.


“Kenapa kamu tiba-tiba mendorongku?“ tanya Calvin ketika Sya kembali ke posisi semula.


“Apa Anda tidak melihat adanya batu ke arah kita? Jika saya tidak mendorong, kita sudah berada di Rumah Sakit sekarang.“ ucap Sya yang membuat Calvin terdiam. Ucapan gadis itu benar apa adanya.


“Kamu tidak apa-apa, ‘kan?“ tanya Calvin mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Tidak apa.“ jawab Sya dengan santai. Sya tidak menyadari adanya memar di sikunya akibay mendorong Calvin tadinya.


“Itu merah-merah, apaan?“ tanya Calvin lagi sembari menunjuk siku tangan Sya. Sya yang bingung hanya menjawab seadanya tanpa melihat sikunya, ia yakin tidak ada luka sama sekali di sikunya, karena ia sendiri tidak merasakan sedikitpun rasa sakitnya.


“Merah apa? Aku tidak merasakan sakit apapun. Barangkali, Anda hanya salah melihatnya saja.“ jawab Sya seadanya.


“Saya tidak salah melihat.“ ujar Calvin lalu menarik tangan Sya. Sya yang tidak mau tangannya disentuh oleh pria lain begitu saja langsung menendang kaki pria ini.


BUGH!


“Aww … Awww …“ pekik Calvin saat merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya yang ditendang oleh Sya.


Perlu diketahui, Sya menendang kaki Calvin dengan tenaga rendah. Sya sendiri terkejut saat melihat reaksi pria itu ketika dirinya menendang kaki pria itu.


“Siapa suruh megang-megang.“ batin Sya.


“Awww … Sakit!!“ pekik Calvin lagi yang membuat asistennya datang seketika.

__ADS_1


“Ada apa, Tuan? Apa yang sakit??“ tanya Devan dengan cemas.


“Kakiku,“ jawab Calvin terduduk sembari memegang kakinya yang ditendang oleh Sya.


“Sakit?“ tanya Sya menatap cemas pada kaki Calvin. Padahal dirinya menendang kaki Calvin dengan kekuatan rendah hanya karena kesal pada pria ini yang seenaknya memegang tangannya yang masih belum pernah dipegang oleh pria lain selain mendiang Papa nya sendiri.


“Sakit, sakit bangett!“ jawab Calvin pura-pura kesakitan banget. Padahal rasa sakit yang dirasakan sama sekali tidak sakit.


“Hah? Yang benar saja!“ gumam Sya pelan, namun dapat didengar oleh kedua pria itu dengan jelas.


Tiba-tiba, terbesit ide di otak Sya.


“Sakit banget ya?“ tanya Sya.


“I- Iya … Sakit bangett!!“ jawab Calvin.


Devan sendiri merasakan gelagat aneh.


“Coba berdiri!“ Calvin menurut dengan perintah Sya. Calvin berdiri.


Sya menendang kaki Calvin untuk yang kedua kalinya dengan gerakan cepat. Saking cepatnya, tendangan Sya barusan seperti angin yang berlalu, namun Calvin merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya itu. Kakinya menjadi korban.


“Siapa suruh berbohong. Modusnya kurang bagus, besok-besok ditingkatkan lagi ya. Biar aku puas menendang mu, Tuan.“ ucap Sya berjongkok di hadapan Calvin. Lalu, ia kembali berdiri.


“Oh ya … Sepertinya kunjungannya sampai sini dulu. Besok kita kembali berkunjung pada pukul sembilan pagi. Jangan lupa ya.“ sahut Sya dengan wajah yang tidak berdosa itu, seolah tidak terjadi apapun di sini. Pekerja lain yang melihat ini, menahan tawa mereka semampu mungkin.


“Tuan Calvin tunduk pada Nona Christine.“ Itulah isi pikiran para pekerja.


Sya lalu berlalu pergi. Namun, saat menyadari bahwa pekerjanya sedang bermain-main, ia langsung menghampiri kerumuman para pekerja. “Apa yang kalian semua kerjakan? Apa kerjaan kalian hanyalah menggosip atasan kalian? Apa aku mengaji kalian hanya untuk bergosip?“


Mendengar suara yang tidak asing, membuat para pekerja tersebut menoleh ke sumber suara. Takut. Gugup. Itulah yang dirasakan para pekerja saat ini.


“Nona??“ pekik para pekerja terkejut. Mereka semua terkejut. Wajah mereka dipenuhi dengan keringat dingin.


“Lanjutkan kembali pekerjaan kalian. Jangan lupa, waktu kerja ya kerja. Waktu istirahat baru istirahat. Besok jam kerja kalian seperti hari ini, jam delapan pagi. Pastikan kalian sudah sarapan di rumah sebelum berangkat. Jam makan siang dari jam sebelas hingga jam dua siang. Pulang jam lima sore. Jangan lupakan itu,“ tegas Sya.

__ADS_1


“Baik, Nona.“ jawab semua para pekerja. Mereka berdiri sedikit membungkukkan badan mereka dengan hormat.


Sya kembali masuk ke mobil menunggu dua pria itu selesai.


“Haduh … Sakit banget kakiku! Buruan cepat jalannya ah … Devan!“ gerutu Calvin.


“Ini sudah cepat, Tuan. Seharusnya Tuan itu bersyukur karena Nona hanya menendang kaki Tuan. Coba bayangkan apabila Nona langsung bertarung dengan Anda.“ sindir Devan.


Christine alias Sya memang dikenal hebat dalam bertarung. Semua orang segan dengannya. Calvin yang merupakan pria juga kalah dengannya.


“Ahhh … Jadi malu aku!!“ pekik Calvin.


“Jangan salahkan saya ya, Tuan. Itu salah Tuan sendiri. Berani berbuat, berani bertanggungjawab.“ ujar Devan.


“Lagipula, siapa suruh Tuan memegang tangan Nona Christine. Tuan ‘kan tahu sendiri kalau Nona itu anti disentuh sama orang-orang, kecuali orang terdekatnya. Kita ini hanyalah rekan bisnisnya, jangan berpikiran terlalu jauh, Tuan.“ tambah Devan.


“Aku hanya mencintainya. Apa aku salah?“ lirih Calvin, namun dapat didengar jelas oleh Devan.


“Kita boleh mencintai seseorang, Tuan. Namun jika dia memang tidak mencintai kita, kita tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk mencintai kita. Biarlah waktu terus berjalan. Jika sudah takdir berjodoh, maka Tuan dan Nona Christine akan didekatkan dengan cara Tuhan sendiri.“ nasehat Devan sang asisten dengan bijak menatap langit.


Mendengar nasehat dari asistennya, Calvin terdiam tanpa suara. Ia menatap langit.


Mereka berdua kembali melanjutkan jalan menuju tempat parkiran. Mereka berdua melihat mobil yang ditumpangi oleh mereka berdua masih berada di sana.


...☘️☘️☘️...


Mereka bertiga kembali ke Hotel tempat penginapan mereka selama di Bali. Sya berencana untuk berada di Bali selama seminggu. Mereka bertiga pulang untuk beristirahat. Namun, tidak dengan Sya. Setelah kejadian pelemparan baru yang entah siapa pelempar nya membuat Sya penasaran dengan si pelaku. Berani sekali pelaku pelempar batu itu melemparkan batu padanya dan kedua pria itu.


Rasa penasaran yang terus menderanya, membuat Sya langsung mencari tahu pelakunya dengan laptop yang selalu ia bawa ke mana-mana saja. Jika ia sudah menemukannya, ia pastikan pelaku tersebut masuk penjara hari itu juga dengan bukti yang ia dapatkan. Tidak peduli dengan cara apapun termasuk membongkar identitas aslinya.


To be continued...


Siapakah pelaku pelempar batu itu?? Apa yang akan dilakukan oleh Sya saat mengetahui identitas sang pelaku? Tetap senantiasa menunggu kelanjutannya ya. Maaf kalau gantung terus, ini biar Author nya bisa tahu kelanjutannya.


Jangan lupa dukungannya ya, Terimakasihh banyak~❤

__ADS_1


Love you All~


__ADS_2