
Happy Reading...
Flashback off.
Dokter keluar bersama para dokter dan suster dari ruangan pemeriksaan, Rivan yang melihat hal tersebut langsung menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa, tak peduli lagi di mana sekarang ia berada.
“Dokter!“ panggilnya dengan napas ngos-ngosan.
“Sebaiknya, Anda tarik napas dulu! Sebelum saya menjelaskannya kepada Anda!“ jawab Dokter.
Rivan menarik napas panjang.
“Bagaimana keadaan Clara, Dok?“ tanya Rivan setelah teratur napasnya.
“Keadaan Nona Clara sedang tidak baik-baik saja. Nona Clara sempat mengalami pendarahan sedikit. Pendarahan yang dialami Nona Clara berakibat pada janinnya.“ jelas Dokter.
“Lalu, bagaimana keadaan janinnya?“ tanya Rivan dengan penuh rasa cemas.
“Kondisi janinnya baik-baik saja. Saya sarankan, kalau bisa Nona Clara bedrest selama beberapa hari! Dan tidak memikirkan sesuatu yang membuatnya stres! Stres bisa memperngaruhi keadaan janinnya dan Nona Clara!“ jelas Dokter lagi.
“Dan awasi terus pola makan Nona Clara! Nona Clara harus makan tepat waktu, saya mengecek apabila beberapa hari ini, Nona Clara telat makan!“ tambahnya.
“Baiklah, Dok!“ jawab Rivan.
Dokter tersebut berniat melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Rivan kembali bertanya kepada nya. “Dok! Apa boleh saya melihat Clara sekarang??“
“Tentu saja boleh, Tuan.“ jawab Dokter tersebut dengan senyuman yang dipaksakan menghias wajah cantiknya itu.
“Baiklah, Dok! Terima kasih banyak!“ ujar Rivan.
“Sama-sama. Diingat ya pesan saya. Saya permisi dulu!“ jawab Dokter tersebut.
Rivan menanggapi ucapan Dokter tersebut dengan anggukan kecil. Rivan bergegas melangkah masuk ke ruangan Clara.
“Clara!“ serunya saat sudah sampai di ruangan Clara. Terlihat ada tiang infus, beberapa peralatan medis lainnya yang ada di ruangan ini. Suster memasangkan jarum infus di tangan Clara. Rivan yang melihatnya menjadi geli seketika. Membayangkan apabila dirinya berada di posisi Clara.
Rivan menghampiri brankar pasien yang ditempati oleh Clara saat ini.
__ADS_1
“Oh ya …, Tolong diberi tahu pada istrinya ya, untuk tidak bergerak terlalu banyak. Karena cairan infus yang mengalir ke tangannya akan berhenti dan menjadi darah yang dari tubuh istri Tuan,“ ucap Suster tersebut. Rivan yang mendengar apabila Suster tersebut mengira Clara adalah istrinya, tersenyum tipis. Senyuman tipis itu hampir tidak terlihat.
“Baik, Sus.“ jawab Rivan singkat dan padat.
“Saya permisi dulu, Tuan.“ ucap Suster tersebut lalu melangkah pergi dari ruangan Clara.
Rivan mengelus pipi mulus nan putih Clara. Hal tersebut membuat sang pemilik pipi bangun seketika. Rivan langsung menghentikan kegiatannya juga, namun tangannya langsung ditahan oleh Clara.
“Rivan …“ panggilnya lirih.
“Clara? Akhirnya kamu sadar juga!“ jawab Rivan.
“Aku di mana sekarang?“ tanya Clara sembari mengerjapkan matanya berulang kali untuk menormalkan penglihatannya kembali setelah bangun.
“Rumah Sakit.“ jawab Rivan singkat dan padat. Meskipun jawaban yang begitu singkat, setidaknya jawaban dari Rivan dapat dipahami dengan baik.
“Hah? Bagaimana bisa?“ tanya Clara kembali sembari memegang kepalanya yang terasa berat dan pusing.
“Kamu tadi pingsan di kamar. Jadi, aku bawa kamu ke sini.“ jelas Rivan.
Clara menanggapi ucapan Rivan dengan anggukan kepala. Namun, masih dengan tangan yang memegang kepalanya.
“Ada apa, Cla? Kepala kamu pusing??“ tanyanya dengan penuh rasa cemas.
“Iya, Van. Kepala aku rasanya berat dan pusing kali …“ jawab Clara lirih.
“Sebentar, aku panggilkan Dokter dulu!“ ujar Rivan lalu melangkah dengan tergesa-gesa mencari Dokter. Setelah melihat salah satu Dokter yang sedang berjalan, ia langsung menarik jas Dokter tersebut masuk ke ruangan Clara. Dokter tersebut hampir saja mengira jika Rivan ini sudah tidak waras dan ingin berteriak histeris pada orang lain. Namun setelah ditarik masuk, akhirnya ia paham dengan maksud pria yang menariknya.
“Sebaiknya Tuan ke luar terlebih dahulu.“ ucap Dokter tersebut saat melihat pakaian mewah yang dikenakan oleh pria yang menariknya. Ia tahu apabila pakaian yang dikenakan pria ini sangat mahal, pastinya pria ini bukanlah orang sembarang. Beruntung, ia tadi tidak berteriak apapun dan memilih untuk mengikuti pria ini. Jika sampai tadi ia melakukannya, bisa-bisa profesi pekerjaannya saat ini menjadi ancamannya.
“Baik, Dok!“ jawab Rivan.
Dokter tersebut segera mengecek keadaan Clara. Rivan menunggu dari luar ruangan Clara dengan rasa cemas.
Beberapa saat kemudian, Dokter tersebut keluar dari ruangan Clara. Rivan mulai membuka suara dan bertanya. “Bagaimana keadaan Clara??“
“Keadaannya saat ini sudah baik. Kepalanya pusing diakibatkan karena sering berpikir yang membuatnya stres. Saya sarankan, agar Nona Clara setelah sembuh dibawa ke tempat wisata untuk menjernihkan pikirannya. Setidaknya, hatinya bisa bahagia.“ jelas Dokter.
__ADS_1
“Baik, Dok! Terima kasih.“ jawab Rivan yang ditanggapi oleh Dokter tersebut dengan anggukan kecil.
Rivan segera masuk kembali ke ruangan Clara.
“Maaf, Clara. Maaf …“ lirihnya.
“Maafkan aku juga, Van! Aku salah!“ jawab Clara.
“Tidak, kamu tidak salah! Di sini, akulah yang bersalah! Maaf! Maaf, Clara!“ ucap Rivan memeluk tubuh Clara dengan erat.
Clara menangis di pelukan Rivan. Menumpahkan segala kesedihan yang ditahan olehnya di pelukan Rivan. Pelukan yang dirindukan olehnya.
“Aku akan bertanggung jawab atas semua ini,“ ucap Rivan tiba-tiba.
“Apa?“ pekik Clara.
“Aku akan menikahimu Clara. Secepat mungkin.“ jelas Rivan.
“Kamu tidak sedang bercanda bukan, Van? Aku tidak sedang ingin bermain-main dengamu, Van!“ tegas Clara.
“Aku sedang serius, Clara! Aku serius untuk menikahimu!“ jawab Rivan. Tatapan serius ia lemparkan kepada Clara. Clara bisa melihat jelas seberapa seriusnys pria di hadapannya ini. Rivan mulai menangkup kedua pipi Clara.
“Berikan aku waktu untuk memikirkannya,“ ujar Clara yang membuat Rivan kecewa seketika dengan jawaban yang diberikan olehnya.
“Baiklah. Aku akan menunggunya.“ jawab Rivan. Meskipun tersirat rasa kecewa di hatinya, dirinya tetap setia menunggu Clara kapanpun.
...☘️☘️☘️...
Sementara di Sya.
“Tuan Calvin. Apa anda ingin pembangunan hotel ini dipercepat?“ tanya Sya.
“Jika iya, maka saya akan segera mempercepat sekarang juga. Jika tidak, maka kita tinggal menunggu minggu depan untuk. pembangunannya.“ tambah Sya.
Calvin tampak sedang berpikir lalu membuka suara.
To be continued...
__ADS_1
Maaf kemaren gak update. Sejujurnya, dua hari ini, Author sibuk di real life atau dunia nyata. Jadinya waktu menulis berkurang.. Maaf yaa.. Maaf juga belum bisa double up buat ngisi yang kosong-kosong ini.. Terimakasih yang sudah senantiasa menunggu kelanjutannya... Terus dukung Author yaa.