Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 17 : BERHASIL ATAU GAGAL


__ADS_3

...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...


Sya menarik nafasnya lalu mulai menjawab, “Pelakunya adalah.... tiga sejoli tersebut.”


Eca tidak terlihat sangat terkejut, karena sebelumnya ia sudah menduga jika pelakunya adalah ketiga sejoli tersebut lagi.


Eca bertanya kepada Sya, “Lalu, apa yang kita harus lakukan kepada mereka bertiga?”


Sya menjawab pertanyaan Eca, “Untuk ini, biarkan aku yang urus saja. Karena kamu masih sakit, jadi kamu fokus dengan kesehatan kamu aja dulu Eca,”


Eca menyahut, “Baiklah, Sya. Setelah kesehatan aku seperti semula, aku ingin membantumu,”


Sya menjawab, “Aku rasa tidak perlu, Eca. Kamu sehat itu sudah cukup bagiku,”


“Tapi.. Sya.” ujar Eca sengaja menggantungkan kalimatnya.


Sya menjawab, “Tidak apa, Eca,”


Eca bertanya, “Kamu serius, Sya?”


Sya menjawab, “Iya, Eca,”


“Hem, tapi bisakah aku membantumu dengan memantau perusahaan papaku setelah aku sembuh?” tanya Eca kepada Sya dengan penuh harap.


Sya menjawab pertanyaan Eca, “Tentu. Karena itu perusahaan papamu, aku tidak berhak,”


Eca tersenyum, “Kamu tetap berhak karena kamu sudah merawat perusahaan papaku dengan baik selama aku masih koma, Sya.. Terima kasih banyak,”


Eca mengatakan seperti itu kepada Sya dengan mata berkaca-kaca mengingat perjuangan Sya merawat dua perusahaan besar sekaligus ditambah dengan merawatnya.


Eca tidak bisa membayangkan apabila ia saat itu berada di posisi Sya. Jika ia saat itu di posisi Sya, maka Eca lebih memilih bunuh diri daripada menanggung beban seberat itu.


Sya pun tersenyum tipis, “Tidak usah mengucapkan kata-kata seperti itu. Bukankah kita adalah sahabat?”


Eca sontak memeluk Sya tanpa aba-aba. Sya yang menerima perlakuan tersebut dari Eca secara mendadak pun terkejut, namun, ia memeluk balik tubuh sahabatnya.


Hal yang paling indah dalam persahabatan adalah memahami dan dipahami, tanpa rasa pemaksaan dan ingin menang sendiri. Sahabat adalah harta berharga di dunia ini.


Itulah sahabat. Selalu membantu ketika kita sulit dan menemani kita saat dalam keadaan bahagia maupun duka.


⚘⚘⚘


Sementara di ketiga sejoli tersebut yang tak lain adalah Deshita, Ria, dan juga Clara.


Deshita dan juga Ria pun langsung menemui Clara. Mereka berdua menuju tempat Clara berada sekarang dengan menggunakan mobil Ria.


Dengan kecepatan sedang, mereka berdua sampai di tempat Clara berada sekarang dalam beberapa menit.

__ADS_1


Sekarang, Clara berada di restoran. Clara sedang sarapan pagi sembari menonton artis favoritnya live streaming di instagram.


Ria dan juga Deshita langsung bergegas menghampiri Clara. Mereka berdua sama sekali tidak mempedulikan dengan sapaan pelayan, seolah-olah mereka berdua lah paling berkuasa di restoran ini karena restoran ini milik Clara.


Para pelayan yang sudah terbiasa dengan perlakuan kedua sahabat majikannya sekaligus majikannya pun hanya bisa bersabar. Mereka tidak lagi makan hati.


“Clara!!” seru Ria dan Deshita dengan nafas ngos-ngosan akibat lari-larian dari tempat parkiran dan masuk ke restoran ini.


“Kalian berdua datang juga akhirnya! Ayo duduk!” sahut Clara masih menonton live streaming di ponselnya.


“Oke...” sahut Ria dan Deshita.


Ria dan Deshita langsung duduk di kursi yang diduduki oleh Clara, tepatnya mereka berdua duduk di sebelah Clara.


Setelah Ria dan Deshita duduk, Clara keluar dari live streaming artis favoritnya tersebut lalu mematikan ponselnya saja tanpa mematikan ponselnya secara total.


“Bagaimana rencananya? Berhasil atau gagal?” tanya Clara bertubi-tubi kepada Ria dan Deshita.


“Antara berhasil dan gagal,” jawab Ria dan Deshita.


Clara pun mengernyitkan keningnya, “Berhasil dan gagal? Apa pula maksudmu?”


Ria lalu menjawab mewakilinya dirinya dan Deshita, “Maksud aku dan Deshita, rencana ini antara berhasil dan gagal,”


Clara tidak mengerti, “Artinya rencana nya belum kalian berdua selesaikan?”


Clara memanggut-manggut paham, “Ooh.. begitu.”


Ria lalu menjawab, “Ya.”


“Coba kalian jelaskan secara detail kepadaku!” pinta Clara kepada Ria dan juga Deshita.


“Deshita, kamu jelaskan.” pinta Ria kepada Deshita.


“Aku? Kamu sajalah, Ria.” tolak Deshita.


“Masa aku lagi? Aku kan tadi sudah, sekarang giliran kamu.” tolak Ria.


“Tidak bisa begitu dong, Ria. Kalau kamu mau, ya kamu saja. Aku tidak masalah.” tolak Deshita lagi.


“Aku tidak mau tahu, harus kamu ya kamu. Lagipula aku sudah, kamu belum. Jadi kali ini giliran kamu lah untuk menjelaskan secara detail kepada Clara.” tolak Ria lagi.


“Ta—Tapi..” ujar Deshita sengaja menggantungkan kalimatnya.


“Buruan, Deshita! Nanti Clara marah lagi!” seru Ria kepada Deshita membuat Deshita menoleh kepada Clara yang sedang menunggu mereka sembari melihat jam di jam tangannya tersebut.


Mau tak mau, Deshita pun akhirnya menjelaskan secara detail soal proses rencana mereka bertiga tadi kepada Clara. Clara pun hanya diam sembari mendengarkan penjelasan dari Deshita.

__ADS_1


Deshita menjelaskan kepada Clara tanpa ada yang ditutupi dan tanpa menambahkan apapun. Ia menjelaskan dengan jujur.


Clara paham dengan penjelasan Deshita.


Clara mulai bertanya kepada Ria dan Deshita, “Oohh.. begitu. Tapi kalian lihat gak bubur di mangkok tersebut?”


Ria dan Deshita menjawab, “Kami berdua tadi pas lihat mangkok tersebut tidak ada di meja,”


Clara pun mengernyitkan keningnya, “Kalian berdua sangat yakin?”


Ria dan Deshita menjawab, “Tentu,”


Clara menatap keduanya. Wajah mereka sama sekali tidak terlihat sedang berbohong. Clara akhirnya mempercayai mereka.


“Baiklah. Nanti kita cek rekaman CCTV saja,” sahut Clara.


⚘⚘⚘


Sementara di Sya dan juga Eca.


Saat ini, mereka berdua masih ada di parkiran restoran tadi. Mereka berdua bahkan terkejut ketika mengetahui jika Clara selama ini berbohong kepada Ria dan Deshita jika restoran ini adalah milik Clara.


Padahal restoran ini milik mendiang papa Sya. Sya sendiri pun tidak tahu mengapa jarak restoran milik mendiang papanya dekat dengan rumah sakit melati. Padahal kan restorannya bisa dibuat di sebelah rumah sakit milik mamanya saja.


Tapi saat dipikir-pikir kenapa tidak seperti itu, barulah Sya sadar mengapa restorannya tidak di bangun di sebelah rumah sakit milik mamanya.


Menurut Sya, karena sebelah rumah sakit milik mamanya ada restoran mendiang papanya yang lain. Jadi, kemungkinan restoran yang baru saja Sya masuk itu adalah cabang restoran milik mendiang papanya.


Karena nama restoran nya sama. Hanya saja, beda lokasinya dan beda pekerjanya. Selain kedua tersebut, beda orang yang mengelolanya.


Eca mulai berseru, “Sya! Aku tidak menyangka jika Clara itu membohongi kedua sahabatnya jika restoran ini milik nya!”


Sya menyahut, “Aku juga sama, Eca. Entah apa yang direncanakan dia,”


Eca menyahut lagi, “Apa mungkin ia sedang merencanakan sesuatu?”


Sya menjawab, “Mungkin saja, Ca,”


...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......


Haii kakak semua!


Maaf update nya malam.


Jangan lupa dukungannya yaa buat Author.


Thank's All. 🙏🏻💞

__ADS_1


__ADS_2