
...***...
Jika di sepasang pengantin baru itu sedang berpelukan dengan mesra, maka akan berbeda dengan Eca dan Devan.
Kedua orang ini sama-sama melakukan tugas mereka. Yaitu mengawasi perusahaan sementara waktu Diva dan Calvin masih berbulan madu.
Kali ini, Eca dan Devan dalam keadaan santai. Sebab, pekerjaan yang saat itu terkumpul sudah diselesaikan tanpa sisa sebelum acara pernikahan Diva dan Calvin.
Diva dan Calvin berlibur sekaligus berbulan madu, di Banff National Park. Banff National Park terletak di Provinsi Alberta, Negara Kanada.
Jika ditempat Diva dan Calvin menunjukkan pukul delapan pagi, maka di tempat Devan dan juga Eca adalah pukul tujuh malam.
Perbedaan waktu diantara Kanada dengan Indonesia hanya berbeda sebelas jam. Bisa dikatakan hampir separuh dari waktu sehari-hari kita.
Devan dan Eca bersiap-siap bergegas pulang. Keduanya berasa di tempat yang berbeda. Eca di Perusahaan milik Keluarganya, sedangkan Devan berada di Perusahaan atasannya.
Karena waktu sudah menunjukkan tujuh malam, dan kebetulan Eca saat itu belum makan malam. Sehingga Eca memutuskan untuk pergi Restoran untuk makan malam hari ini.
Tiba di Restoran terdekat, Eca langsung masuk dan memesan makanan sesuai menu yang telah disediakan. Tanpa sengaja saat sedang duduk sembari menunggu pesanannya, Eca melihat sosok pria yang tidak asing duduk jauh darinya.
“Pria itu?“ Sosok pria itu menurut Eca, benar-benar tidak asing di indra penglihatannya. Sehingga, Eca beranjak dari tempat duduknya dan tanpa sadar melangkah menghampiri sosok pria yang tidak asing itu.
Namun, setelah langkah Eca tinggal beberapa langkah lagi mendekati Devan, Eca menyadari bahwa dirinya sejak tadi mulai menghampiri Devan.
__ADS_1
Entah apa yang merasukinya tadi, sehingga Eca mau menghampiri sosok pria tidak asing itu.
“Apa yang aku lakukan tadi? Mengapa aku justru malah menghampiri pria yang mirip dengan ...“ Belum lagi Eca melanjutkan ucapannya dalam hati, sosok pria yang tadinya sedang duduk justru saat ini berdiri sembari menatap dirinya.
“Jadi … Dia beneran Tuan Devan?“ Dari awal, ternyata, Eca menduga sosok pria yang tidak asing itu ialah Devan. Devan asisten dari Calvin.
“Nona Eca? Sedang apa Nona di sini?“ Sosok pria itu yang ternyata adalah Devan, malah bertanya kepada Eca. Wajahnya juga tampak terkejut saat melihat sahabat istri atasannya berada di Restoran ini.
“Sa-Saya sedang makan malam, Tu-Tuan Devan.“ jawab Eca dengan terbata.
“Tuan Devan sedang apa di sini?“ Tidak diduga sama sekali, Eca justru kembali bertanya balik yang dilakukan oleh asisten suami sahabatnya di Restoran ini.
“Tentu saja kemari untuk makan malam. Jika bukan makan malam, apa aku akan pergi kesini untuk makan siang?“ Jika diperhatikan lama-kelamaan, ternyata Devan adalah sosok pria yang asyik ketika diajak bercanda, batin Eca.
Lalu, saat menyadari dengan tingkahnya, Eca langsung memalingkan wajahnya. Berniat untuk kembali ke tempat duduknya.
Devan yang juga menyadari bahwa Eca ingin beranjak dari tempat tersebut, pun menahannya dengan memegang tangan gadis tersebut.
Eca sontak terkejut ketika tangannya dipegang oleh Devan.
“Eeh … Ada apa dengan perasaanku? Mengapa aku terlihat seperti orang yang baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta? Dan lagi … Jantungku saat ini sepertinya tidak normal.“ batin Eca menatap manik mata milik Devan. Begitu juga dengan Devan, Devan pun menatap balik manik mata milik Eca.
Keduanya saling tatap-tatapan hingga tidak menyadari bahwa pesanan makanan mereka telah diantar. Dan kedua orang itu juga dilihat oleh pelanggan di Restoran ini. Ada yang mengira apabila kedua orang itu baru saja menjalani sebuah hubungan yaitu kekasih, ada yang mengira bahwa mereka sedang merasakan yang namanya jatuh cinta.
__ADS_1
“Prokk … Prok … Prokkk!“ Tiba-tiba saja, terdengar suara tepukan tangan yang begitu meriah. Sontak membuat Devan dan Eca menghentikan acara tatap-tatapan.
“Pacarnya ya, Tuan? Cantik sekali. Tuan yang tampan pasti sangat serasi dengan pacar Tuan yang sangat cantik ini.“ puji salah satu pelanggan.
“Iya, pacarnya sangat cantik sekali. Semoga langgeng terus ya, Tuan, Nona sampai menuju pelaminan.“ puji pelanggan lainnya.
Eca dan Devan sama-sama terkejut dengan reaksi orang-orang dan pujian-pujian yang diberikan oleh mereka. Tidak disangka, orang-orang justru mengira keduanya sedang menjalanu hubungan kekasih.
“Te-Terima kasih atas pujiannya, Tuan.“ Devan memberikan balasan atas pujian yang telah diberikan oleh pelanggan agar suasana tidak canggung. Tentu Devan juga merasa tidak enak apabila setelah dipuji justru tidak membalas dengan ucapan terimakasih.
“Nona Eca. Sebaiknya, kita duduk di meja yang sama. Apa Nona melihat, perlahan semakin banyak datang orang-orang ke Restoran ini untuk menikmati makan malam mereka. Apa Nona tidak takut seandainya jika Nona duduk di meja sendirian, bagaimana jika nanti ada orang yang memiliki gangguan jiwa duduk disebelah Nona?“
Tampaknya, Devan mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Yang dikatakan memang tidak salah, hanya saja, di kata-kata yang dilontarkan dari bibir Devan, beberapa seolah mengisi ancaman membuat Eca ketakutan membayangkan apabila hal tersebut terjadi.
“Baiklah, baiklah. Saya akan duduk dengan Tuan Devan saja.“ Eca pun hanya bisa pasrah duduk di sebelah Devan, dibandingkan jika seandainya dirinya duduk disebelah orang yang memiliki gangguan jiwa. Membayangkannya saja, sudah membuat Eca ketakutan.
Orang-orang yang memiliki gangguan jiwa sekarang, benar-benar cukup mengerikan. Sebab, orang yang memiliki gangguan jiwa, bisa membunuh siapapun yang berada di dekatnya apabila pikirannya sedang memikirkan hal yang tidak baik.
Namun, bukan berarti, orang yang tidak memiliki gangguan jiwa, tidak perlu kita waspadai.
...☘️☘️☘️...
Sudah lumayan panjang nih hehe. Mana dukungannya?? 🤣
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya yaaa ...