
Happy Reading...
“Oh ya, aku dengar, kamu tadi pergi ke Rumah Sakit. Untuk apa? Apa kamu sakit, Cla? Bagian mana yang sakit?“ tanya Rivan bertubi-tubi.
“Aku hamil, Van.“ jawab Clara seadanya.
“A– Apa?? Hamil?“ ucap Rivan terkejut.
“Iya. Kata Dokter, aku hamil satu bulan. Oh ya … Dokter tadi ada kasih catatan, kalau aku hamilnya lima minggu,“ jelas Clara.
“Lima minggu yang lalu, kita lakukan itu kan?“ tanya Rivan yang membuat Clara terdiam mendengarnya. Clara mengingat kembali. Namun, belum tentu juga Rivan adalah ayah anak di dalam kandungannya, apalagi mengingat sudah beberapa kali dipaksa oleh kedua sahabatnya untuk mau berhubungan sekss dengan pria.
“Iya, Van!“ jawab Clara.
“Apa setelah kejadian malam itu, kamu ada berhubungan sekss dengan pria lain?“ tanya Rivan. Jika ditanya dari mana Rivan tahu, maka jawabannya, Rivan mengetahuinya dari kedua sahabat Clara. Ria dan Deshita. Mereka berdua mengatakan apabila setiap malam Clara selalu pergi ke bar untuk minum dan pada akhirnya mabuk-mabukkan.
Mendengarnya, Clara langsung tidak bisa berkutik dibuatnya. “Apa yang harus aku lakukan? Katakan padanya apabila aku diancam selama ini oleh Ria dan Deshita? Belum tentu, ia akan percaya denganku! Ia saja percaya begitu saja dengan ucapan Ria dan Deshita! Argghh …“ pekiknya dalam hati ketika merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
“Cla? Clara!“ panggil Rivan. Namun, tidak ada jawaban dari Clara. Clara termenung sembari memegang perutnya. Rivan menduga apabila perutnya sakit.
“Sakit perut kamu, Cla??“ tanya Rivan cemas. Namun, tetap tidak ada jawaban dari Clara. Kepala Clara menunduk ke bawah, pandangannya menjadi ke lantai. Rivan segera mengangkat kepala Clara, ia baru menyadari apabila Clara pingsan. Ia cemas takut terjadi apa-apa dengan Clara, ia segera mengendong Clara ala bridal style keluar dari kamar hotel dan menuju ke rumah sakit terdekat.
...☘️☘️☘️...
Hari ini, Sya memiliki jadwal meeting bersama Calvin. Namun, meeting kali ini berbeda. Meeting kali ini membahas mengenai proyek, dan proyek ini privasi sehingga Devan asisten Calvin tidak bisa hadir dalam meeting. Padahal peran Devan sangat penting dalam meeting ini, namun Calvin tidak mengizinkan asistennya ikut meeting. Entah apa pembahasan meeting kali ini.
“Tuan Calvin??“ ucap Sya.
“Meeting akan dimulai, kan?“ tanya Sya yang ditanggapi oleh Calvin dengan anggukan kepala.
“Meeting dimulai.“ ucap Sya.
“Bagaimana menurutmu keuntungan kita jika proyek pembangunan ini berhasil dibangun??“ tanya Calvin.
__ADS_1
“Kita akan saling menguntungkan. Modal memang besar, untungnya juga tidak kalah besar. Proyek pembangunan hotel ini pasti akan sangat menguntungkan bagi saya dan Anda, Tuan Calvin.“ jelas Sya.
“Jika sudah berhasil, bagaimana caramu menghitung??“ tanya Calvin.
“Maka hasilnya akan kita bagi dua. Misalnya, pendapatan yang diperoleh dalam satu bulan sebanyak seratus juta. Anda akan mendapatkan sebanyak lima puluh juta, sedangkan saya juga demikian, lima puluh juta!“ jelas Sya.
“Sepertinya sangat menguntungkan!“ sahut Calvin.
“Tentu saja, Tuan Calvin. Proyek kali ini akan sangat menguntungkan!“ jawab Sya.
“Baiklah, untuk modal pembangunannya,harus mengeluarkan berapa banyak biaya?“
“Hotel ini membutuhkan biaya hanya sebanyak dua puluh miliar. Saya mengeluarkan sepuluh miliar, dan Anda mengeluarkan jumlah yang sama yaitu sepuluh miliar.“ jelas Sya.
“Modalnya sangat besar!“ sahut Calvin.
“Modal sangat besar, untung akan besar juga. Hotel ini perlu di desain dengan interior yang menarik. Sehingga para tamu tertarik untuk menginap di hotel yang akan kita bangun walaupun hanya semalaman saja. Fasilitas hotel juga perlu ditingkatkan nantinya dibandingkan dengan hotel lain, misalnya seperti pendingin ruangan.“
“Para tamu tidak suka apabila hotel sangat panas. Sehingga, di bagian tersebut memerlukan pendingin ruangan. Selain itu, pewangi ruangan. Para tamu, suka dengan hotel yang berbau wangi. Apalagi kita tinggal di Kota, setiap orang yang masuk, pasti akan berkeringat dari luar, terlebih lagi di siang hari.“
Sebagian orang akan memesan makanan yang disukai mereka. Namun, sebagian besar, lebih banyak para tamu ingin mencicipi makanan baru. Dengan adanya makanan baru yang belum pernah dicoba oleh merekadengam desain menarik, para tamu akan tertarik untuk mencobanya.“
“Lalu, untuk fasilitas hotel. Hotel perlu dilengkapi dengan adanya ranjang lebih dalam satu kamar. Biasanya ada orang-orang yang ingin tidur bersama. Hotel perlu dilengkapi dengan seperti itu, namun dengan harga yang cukup berbeda. Harus membuat para tamu tertarik.“ jelas Sya dengan panjang lebar.
“Penjelasan kamu sangat bagus! Aku sangat memahaminya, Nona! Silakan dilanjut! Penjelasan Nona membuat aku tertarik!“ sahut Calvin.
“Baiklah, saya lanjutkan kembali.“
“Kalau bisa, siapkan ada kamar yang memiliki satu ranjang, ada yang lebih dari satu. Dan keduanya harus memiliki harga yang berbeda agar para tamu tertarik untuk mencobanya.“
“Makanannya juga kalau bisa ada yang dari luar negeri. Orang-orang terkadang ada yang menginginkan makanan dari luar negeri, namun tidak punya banyak uang untuk ke luar negeri. Dari sini, kita bisa membuat para tamu tertarik untuk mencicipi nya, harganya juga harus murah diusahakan.“ jelas Sya.
“Ya, kamu benar! Sepertinya kamu sudah berpengalaman bagian ini!“ sahut Calvin.
__ADS_1
Sya hanya menanggapi nya dengan senyuman di wajahnya.
“Lalu, bagaimana? Apa Anda setuju, Tuan?“ tanya Sya.
“Saya setuju.“ jawab Calvin.
“Tuan Calvin perlu menandatangani berkas proyek kerjasama kita. Pembangunan kira-kira membutuhkan cukup lama,“ ucap Sya.
“Ya. Kita harus bersabar menunggunya.“
“Jangankan sekarang. Pembangunan saja belum di mulai.“ ucap Sya.
Calvin segera menandatangani berkas proyek kerjasama mereka.
“Semoga pembangunan hotel ini tidak ada masalah. Semua berjalan dengan lancar.“ ucap Calvin sembari menjabat tangan Sya.
“Ya, semoga.“ sahut Sya sembari menjabat balik tangan Calvin.
Tangan mereka sontak saling bersentuhan. Keduanya merasakan getaran kecil di hati mereka.
Bersentuhan dengan tangan Sya yang putih dan mulus itu membuat Calvin teringat dengan kejadian empat tahun silam. Ia sempat memegang tangan gadis yang ditolongnya. Rasanya sama seperti tangan Christine alias Sya. Entah hanyalah sebuah kebetulan atau mereka memang adalah orang yang sama.
“Tanganmu membuat aku teringat dengan seseorang!“ ucap Calvin setelah melepas jabatan tangan mereka.
“Oh ya … Sepertinya kamu sangat merindukannya?“ sahut Sya.
“Tentu. Aku sangat-sangat ingin bertemu dengannya. Seandainya takdir mempertemukanku dengannya.“ ujar Calvin.
“Yang sabar,“ ucap Sya.
“Seandainya kamu tahu, Tuan Calvin. Jika gadis yang kamu cari itu adalah aku. Bagaimana reaksimu? Akankah kamu marah dengan tindakanku ini?“ batin Sya menatap wajah Calvin.
“Aku merindukanmu... gadisku.. Semoga kita secepatnya bertemu. Aku sangat-sangat merindukanmu....“
__ADS_1
To be continued...
Note : Terimakasih yang sudah senantiasa menunggu kelanjutan novel ini. Jangan lupa untuk terus dukung Author ya.. Terimakasih banyak.