
Happy Reading...
“Sayang! Aku mendengar kamu sedang menghadapi masalah?“
“Deg!“
Diva terkejut dengan suara tidak asing itu. Suara itu adalah suara milik calon suaminya.
“Sya. Sepertinya kalian berdua ingin berbicara tentang ini, bukan? Aku keluar agar tidak menganggu pembicaraan kalian," ucap Eca lalu keluar dari ruangan Diva setelah ditanggapi oleh Diva dengan anggukan kepala.
Saat Eca keluar dari ruangan Diva, ia justru bertemu dengan pria yang mampu menggetarkan hatinya.
...☘️☘️☘️...
Di ruangan Diva.
“Apa masalah yang sedang kamu hadapi, Sayang? Mengapa tidak memberitahu kepada-ku?“ tanya Calvin sembari menatap Diva tanpa berkedip sama sekali.
Diva terdiam sesaat. Lalu membuka suara. “Tuan Eric kabur saat penangkapan,“
“Apa!?“ pekik Calvin terkejut. Tidak menyangka apabila pria tersebut melarikan diri saat penangkapan. Itu artinya, mereka semua sedang berada di zona berbahaya. Mereka sedang tidak aman sekarang. Terlebih lagi, pria tersebut memiliki banyak teman di dunia bawahnya yaitu mafia.
“Jadi, aku ingin meminta bantuan-mu. Untuk memperketat keamanan kita semua.“ jelas Diva dengan kepala menunduk. Baru saja menjadi calon istrinya, sudah meminta sesuatu, apalagi kalau sudah jadi istrinya, yang ada dirinya menjadi gosipan orang-orang.
Calvin mengangkat kepala Diva dan mengelus rambut Diva dengan lembut. Sekali-kali, ia mencium rambut calon istrinya.
“Baiklah,“ ucap Calvin sembari mencium rambut istrinya lagi.
__ADS_1
Diva terdiam sesaat.
“Kamu ingin aku memperketat keamanan orang terdekat kita, bukan? Dengan senang hati, aku akan mengabulkannya. Namun, dengan satu syarat,“ sahut Calvin menatap Diva yang diam.
“Apa syaratnya?“ tanya Diva dengan penasaran.
“Tatap mataku terlebih dahulu!“ Diva pun segera mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk kembali lalu menatap mata calon suaminya.
“Syaratnya, jangan pernahlah pergi dari sisi-ku,“ jawab Calvin sembari mengecup pipi calon istrinya yang membuat sang empunya merona.
Diva memegang kedua pipinya yang merona sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Dikecup oleh calon suaminya, membuat dirinya malu.
“Jangan malu, Sayang! Nanti kita menikah, kita akan melakukan hal lebih daripada itu. Hihihi …“ ucap Calvin terkekeh geli melihat calon istrinya yang malu-malu itu.
“Ihhh!“ Diva semakin malu dibuatnya.
“Ihh, jangan godain aku terus!“ sahut Diva.
“Makanya, panggil aku ‘Sayang’ dulu!“ pinta Calvin.
“Nggak mau!” tolak Diva.
“Sayang!“
“Nggak!“
“Sayang!“
__ADS_1
“Nggak!“
Calvin menghela napasnya dengan kasar. Calon istrinya bahkan sudah menolak untuk memanggil dirinya dengan sebutan ‘Sayang’, sudah tiga kali. Sepertinya dirinya harus membuat sesuatu.
Calvin menarik napas panjang lalu kembali membuka suara.
“Sayang!“
“Nggak!“ jawab Diva tetap dengan jawabannya itu.
“Nggak!“
“Sayang!“ ceplos Diva tiba-tiba. Sebenarnya dalam hati, ia memang ingin memanggil pria itu dengan sebutan ‘Sayang’, namun dirinya begitu malu saat mengatakannya.
“Yes!“ sorak Calvin girang. Karena sang calon istri sudah memanggil dirinya dengan sebutan ‘Sayang’ seperti yang diinginkan-nya.
Diva langsung menutup mulutnya saat menyadari bahwa dirinya keceplosan.
Melihat calon suaminya begitu girang saat dirinya memanggil dengan sebutan ‘Sayang’ justru malah membuat Diva malu dengan tingkah calon suaminya. Karena calon suaminya justru melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen. Tingkah yang mengemaskan, namun mengingat dirinya keceplosan malah membuat dirinya malu seketika.
“Gemes banget kamu, Sayang!“ ucap Diva tanpa sadar mencubit pipi calon suaminya.
Lalu, beberapa saat kemudian, dirinya menyadari bahwa baru saja dirinya mencubit pipi calon suaminya.
Diva pun menoleh ke calon suaminya. Berharap calon suaminya tidak marah dengan tingkahnya barusan.
To be continued...
__ADS_1
Haii ... Haii! Satu bab dulu ya, satu bab lagi nanti malam. Ditunggu ya. Terima kasih.