
~Happy Reading~
Usai membagikan amplop, para tamu diperbolehkan untuk pulang. Satu per satu tamu mulai pamit untuk pulang ke rumah. Hingga pada akhirnya, semua para tamu pulang tak tersisa satupun orang kecuali Christine alias Sya yang ditahan sejak tadi oleh Calvin sang Tuan acara.
“Mengapa kamu menahanku sejak tadi?“ tanya Sya heran. Bahkan tamu yang tersisa hanya dirinya.
“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,“ ujar Calvin.
Kening Sya mengernyit bingung. Calvin yang menyadari hal tersebut segera menjawabnya.
“Lebih baik, kita tidak bicarakan di sini!“ ucap Calvin.
"Lalu, di mana? Apakah sangat penting? Jika tidak, aku akan pulang sekarang!“ tanya Sya.
“Penting sekali!“ jawab Calvin menarik tangan Sya menuju ke suatu tempat. Beberapa kali, Sya mencoba menepis tangan Calvin yang menariknya. Sudah berhasil, namun Calvin malah menariknya kembali.
Hingga pada akhirnya, mereka sampai di suatu tempat yang sama sekali tidak dikenalinya.
“Tempat apa ini?“ tanya Sya.
“Ini ruangan ku,” jawab Calvin.
“Oh,” ujar Sya.
“Apa yang ingin kamu sampaikan, Tuan Calvin yang terhormat?” tanya Sya.
“Apa kamu pernah mengalami suatu kecelakaan sekitar empat tahun yang lalu?“ tanya Calvin dengan serius sembari menatap wajah Christine alias Sya.
Wajah Sya berubah seketika mengingat kejadian saat itu. Namun, dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya seperti semula.
“Tidak ada! Aku tidak pernah mengalami suatu kecelakaan sama sekali di empat tahun yang lalu!” bohong Sya sembari menatap wajah Calvin. Orang-orang selalu mengatakan apabila orang yang berbohong tidak berani menatap lawan bicaranya. Jadi, agar Sya dipercayai oleh Calvin bahwa ia sama sekali tidak pernah mengalami kecelakaan itu, Sya menatap wajah lawan bicaranya.
Calvin menatap wajah Sya dengan serius. Entah mengapa hatinya mengatakan apabila Christine adalah wanitanya dulu. Sangat disayangkan sama sekali, dulu ia lupa untuk menanyakan namanya. Jadi, ia hanya mengingat wajah gadis tersebut saat berumur lima belas tahun. Mungkin tahun ini sudah berumur sembilan belas tahun.
Calvin melihat wajah Christine yang sangat mirip dengan gadis yang pernah ia selamatkan. Calvin mengeluarkan sebuah dompet dari saku jasnya. Ia mengeluarkan satu foto gadis tersebut.
“Apa kamu pernah bertemu dengannya? Atau mungkin kamu mengenalinya? Saya mendapatkan datamu dari bawahan saya apabila kamu orang yang menggantikan posisi di perusahaan Tuan Andrean,“ tanya Calvin sembari menunjukkan foto yang diambilnya kepada Sya.
“Iya! Bukankah sebelumnya, kamu sudah mengetahuinya? Aku merasa, sepertinya kita pernah bertemu!“ jawab Sya tanpa menoleh sama sekali ke foto tersebut.
“Ya! Aku baru mengingatnya! Apa kamu mengenalinya atau pernah bertemu dengannya? Tolong lihatlah foto ini walau hanya sebentar!” pinta Calvin dengan wajah memohon membuat Sya tidak tega dibuatnya.
“Baiklah, aku akan melihatnya!“ sahut Sya lalu menoleh ke arah foto tersebut. Foto seorang gadis yang tengah berbaring di brankar pasien dengan perban di kepala. Dan terlihat apabila ada darah di perban tersebut.
Sya melamun sembari melihat foto tersebut. Melihat Sya yang sedang melamun membuat Calvin curiga.
“Kenapa kamu melamun sembari melihat foto ini?“ tanya Calvin dengan penuh selidik.
Lamunan Sya seketika pecah saat Calvin bersuara kembali. Dengan cepat, ia merubah ekspresi nya seperti semula seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tidak! Melihat foto ini, wajahnya seperti yang ku kenali! Hanya saja, aku lupa dengan namanya,“ jawab Sya yang membuat Calvin kecewa kembali.
“Tentu saja aku mengenali gadis itu. Ya, gadis itu adalah diriku. Maafkan aku harus membohongimu, Tuan Calvin. Aku masih harus memecahkan suatu teka-teki, dan aku tidak mau melibatkan nama asliku sementara! Terima kasih banyak sudah membantuku dulu!“ batin Sya tersenyum membuat Calvin terheran-heran dengan Sya.
“Apa yang membuatmu senyum-senyum seperti itu?“ tanya Calvin heran.
“Tidak ada! Jika aku menemukan gadis ini, aku akan menghubungimu!“ jawab Sya mengalihkan topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Baiklah! Ini nomor telepon ku! Segera hubungi apabila kamu menemukannya!“ ujar Calvin memberikan kartu identitasnya kepada Sya.
Sya hanya menanggapinya dengan anggukan lalu pamit untuk pulang. Calvin menatap punggung gadis tersebut yang perlahan mulai menjauh.
“Apakah aku salah lihat? Mengapa wajah gadis tadi dengan gadis di foto ini begitu mirip? Apakah mataku memiliki masalah? Ya, mungkin saja! Apalagi aku lembur terus-menerus akhir-akhir ini! Besok pagi aku harus mengecek kondisi mataku ke dokter!“ gumam Calvin.
⚘⚘⚘
Sementara di Sya.
Di perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti berpikir alasan logis yang membuat kedua orang tua Ria membuat keluarganya dan keluarga Eca sahabatnya kecelakaan empat tahun lalu.
Rasa ingin tahunya membuat dirinya membawa mobil dengan kecepatan sedang. Walaupun sebenarnya ingin sekali ia membawanya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai, namun mengingat keselamatan dirinya, ia memilih membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dirinya tidak mau mati penasaran. Hal tersebut hanya akan membuatnya tersiksa. Jika ia di suruh memilih, maka dirinya akan lebih memilih mati setelah mencari tahu semuanya daripada mati penasaran tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Mengingat masalah ini bersangkutan dengan orang tuanya membuat dirinya ingin mencari tahu.
Tiba-tiba dirinya mendengar suara bisikan.
“Apakah kamu ingin mencari tahu, Nak?“ bisik orang tersebut membuat Sya terkejut dan menoleh ke sumber suara. Namun, tidak ada sama sekali orang di dalam mobilnya kecuali dirinya.
“Siapa kamu?“ seru Sya.
Namun, suara orang tersebut sama sekali tidak asing. Sudah lama ia tak mendengar suara tersebut.
“Papa, ini Papa kamu, Sya … ,“ jawab orang tersebut membuat Sya membulatkan matanya tak percaya hingga gagal fokus dengan perjalananya. Sya menepikan mobilnya.
"Hati-hati, Sayang! Berkendara di malam hari sangat berbahaya! Inilah alasan mengapa Mama mu ini selalu melarangmu untuk membawa mobil sendiri tanpa pengawasan!“ ucap seseorang.
“Papa, Mama?“ ucap Sya.
“Kok tiba-tiba Mama dan Papa ada di sini?“ tanya Sya heran.
“Mama dan Papa ingin memberitahu kepadamu sesuatu!“
“Apa itu?“ tanya Sya dengan rasa penasaran di hatinya.
“Yang pertama, maaf Papa dan Mama tidak bisa menemanimu hingga kamu menikah!“
“Yang kedua, maafkan Papa dan Mama karena harus membuatmu menjadi gadis mandiri di usia mudamu saat ini!“
“Yang ketiga, Papa dan Mama mempunyai satu flashdisk yang berada di sebuah lemari!“
“Kalau soal itu, Sya tidak mempermasalahkannya. Mungkin sudah menjadi takdir kita, Pa, Ma … ,“ jawab Sya pelan.
“Apa kamu pernah melihat sebuah lemari kecil di kamar mendiang adikmu yang saat itu pernah dibuat namun …“ Papa Sya tidak bisa meneruskan ucapannya kembali mengingat kejadian saat itu.
“Tidak masalah, Pa. Sya tidak pernah ke kamar adik Sya lagi setelah empat tahun lalu,“ jawab Sya.
“Sebaiknya, besok pagi kamu segera ke kamar adikmu, Sayang. Di sana akan ada sebuah lemari berwarna biru muda kesukaanmu, di laci nya akan ada sebuah flashdisk!“ ucap Mama Sya.
“Baik, Ma!“ jawab Sya patuh.
“Hati-hati, Sayang! Di luar banyak orang jahat berkeliaran! Mereka bisa saja menyamar menjadi orang baik dan orang baik bisa menyamar menjadi orang jahat karena sebuah alasan!“ seru Mama Sya. Sya mengangguk. Perlahan-lahan, bayangan Mama dan Papa Sya menghilang.
Sya menjalankan mobilnya kembali. Sya membawa mobilnya menuju ke Mansion keluarga nya dulu. Tidak banyak orang yang tinggal di Mansion sekarang. Karena sudah banyak yang resign dari pekerjaannya. Bahkan bisa di bilang, tidak ada lagi pelayan yang bekerja di Mansion ini setelah kejadian saat itu. Mereka takut di tuduhi sebagai tersangka dan gaji mereka tidak diberikan sehingga mengorbankan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Sya menuju ke kamar nya yang terlihat sahabatnya Eca sedang tertidur. Sya mengelus kepala sahabatnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar terhindar dari virus yang bermacam ragam.
Usai membersihkan kuman membandelkan di tubuhnya, Sya menuju ke ranjang dan tidur. Sya yang merasa kelelahan langsung tertidur dalam beberapa detik saja. Dan benar saja, baru Sya membaringkan tubuhnya di ranjang, Sya langsung tertidur. Terdengar dengkuran halus dari Sya pertanda Sya sudah tertidur.
⚘⚘⚘
Sementara di Calvin.
“Heyy! Bagaimana bisa aku memikirkan gadis yang aku temui tadi terus-menerus? Apakah aku sudah tidak waras! Ahhh!!“ pekik Calvin membuat asistennya Devan langsung panik dan menghampiri sang atasan yang terhormat.
“Apa ada masalah, Tuan?“ tanya Devan.
“Ti- Tidak ada! Oh ya, bagaimana tentang hasil pencarian mu tentang Nona Christine?“ tanya Calvin mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Aku sudah menunggunya cukup lama, Van!“ tambah Calvin.
“Pencarian ku tidak membuahkan hasil banyak. Hanya beberapa yang bisa saya temukan, Tuan!“ jawab Devan.
“Seberapa sulit?“ tanya Calvin lagi.
"Mungkin sekitar sembilan puluh sembilan persen!” jawab Devan.
“Banyak sekali! Itu artinya sangat sulit?“
“Tentu saja, Tuan! Tidak mungkin aku berbohong!“ sahut Devan.
“Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa mencari tahu sendiri!“ tambah Devan.
“Baiklah, aku percaya dengan ucapanmu!“ jawab Calvin.
“Serahkan berkas yang berisi informasi tentangnya yang sudah ditemukan segera, Van!“ perintah Calvin tak terbantahkan.
“Siap, Tuan!“ sahut Devan lalu segera mengambil berkas yang diinginkan sang atasan yang terhormat dan perintahnya yang sama sekali tidak bisa dibantahkan olehnya yang hanya seorang asisten.
Devan segera membawakan berkas tersebut kepada Calvin. Calvin mengambilnya dan mulai membaca.
“Apa apaan ini! Hanya nama saja yang bisa kamu temukan, Vann!!“ bentak Calvin. Bagaimana bisa asistennya Devan hanya menemukan nama? Padahal sudah diberikan waktu cukup lama. Jika nama, dirinya juga sudah mengetahuinya. Namun, yang ditemukan asistennya hanya nama. Bahkan alamat ataupun identitas penting tentang gadis tersebut tidak ditemukan oleh asistennya Devan.
“Ma- Maaf Tuan …“ jawab Devan menundukkan kepalanya. Padahal dirinya sudah berkali-kali lembue agar pekerjaannya ini cepat kelar. Namun, masih saja dirinya tak bisa menemukannya. Identitas gadis yang bernama Christine itu benar-benar misterius seperti orangnya.
“Apa yang selama ini kamu kerjakan, Van?“ seru Calvin.
“Aku sudah berusaha untuk mencarinya, Tuan! Bahkan berkali-kali lembur dan masuk ke Rumah Sakit karena asam lambung ku naik!“ jawab Devan.
"Ahhh!! Segera carikan kembali! Minggu depan apabila tidak ada perubahan, kamu dipecat!“ perintah Calvin.
“Pecat? Ya kali Tuan berani memecat ku!“ ucap Devan sinis.
“Akhhhh!! Pokoknya segera carii!“ ucap Calvin mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
“Siap, Tuan!” sahut Devan.
Devan pergi untuk kembali mengerjakan tugasnya.
“Christine. Mengapa identitas mu sulit sekali untuk ditemukan? Siapa sebenarnya dirimu?“ ucap Calvin semakin mengacak-acak rambutnya.
To be continued...
__ADS_1
Note : Suka? Jangan lupa kasih dukungannya supaya Author semakin semangat untuk upload bab nya. Mau double update kayak kemarin? Tunggu like bab ini sampai lima ya, baru double update.. Terima kasih banyak yang sudah dukung Author hingga sejauh ini...