
Happy Reading...
“Itu artinya?“ tanya Diva sengaja kembali bertanya agar pria itu jujur mengatakan semuanya.
“Aku ingin melamar mu untuk menjadi kekasihku,“ jelas Calvin.
Diva terdiam sesaat.
“Aku menolak,“ jawab Diva.
Jawaban dari Diva membuat Calvin kecewa seketika. “Kenapa kamu menolakku?“
Pertanyaan dari Calvin membuat Diva tersenyum, “Aku menolak untuk menjadi kekasihmu,“
Calvin dibuat tidak mengerti maksud dari Diva. Dan salah menangkap ucapan Diva barusan. “Apa alasan kamu menolak untuk menjadi kekasihku?“
Diva hanya kembali tersenyum. Membuat Calvin semakin tidak mengerti. Apa yang ingin gadis itu bicarakan sebenarnya?
Diva yang merasa pria itu tidak memahami maksudnya, hanya bisa menghela napasnya. Lalu, menarik napas panjang. “Ternyata kamu tidak mengerti maksudku?“
Calvin hanya menggeleng. Sungguh, dirinya tidak mengerti maksud dari gadis ini barusan. Apa yang ingin diberitahu gadis ini?
Mendengar itu, Diva hanya bisa menarik napas panjang sebelum berbicara. Sudah diduga olehnya dari awal, apabila pria ini tidak mengerti maksudnya tadi.
“Aku akan jelaskan,“ Diva kembali terdiam sesaat. Seolah dirinya menggantung ucapan yang ingin dikatakan. Membuat Calvin semakin penasaran.
“Aku menolakmu untuk menjadi kekasihku. Mengapa? Karena aku tidak ingin menjadi kekasihmu. Tapi yang aku inginkan-“ Belum lagi Diva mengatakan maksudnya, ucapannya langsung dipotong.
“Kamu menginginkan hartaku, begitu?“ potong Calvin. Matanya menatap tajam pada Diva. Merasa Diva adalah wanita yang sama dengan wanita luaran sana.
“Mengapa kamu tidak bisa untuk diam mendengarkan penjelasan ku? Setidaknya, dengar baik-baik! Belum dijelaskan, sudah main potong! Main nuduh segala lagi!“ ujar Diva merasa dirinya tidak dihargai oleh Calvin.
Mendengar ucapan dari Diva, Calvin dibuat tidak bisa berkutik.
“Setidaknya, dengarlah baik-baik! Jika tidak mau mendengarnya, maka silakan keluar!“ tambah Diva.
Calvin langsung terdiam.
“Aku menolakmu menjadi kekasihku. Karena aku ingin menjadi istrimu. Aku tidak mau hubungan kita yang hanya sebatas kekasih membuat wanita lain terus mengincar dirimu!“ jelas Diva yang membuat Calvin membelalakan matanya tidak percaya dengan ucapan Diva barusan.
Suasana hening.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Diva sendiri heran mengapa dirinya bisa berkata demikian. Padahal sederetan kata yang baru saja ia lontarkan sama sekali tidak terpikirkan dalam pikirannya. Mengapa bisa sederetan kata barusan bisa ia lontarkan begitu saja?
__ADS_1
Sedangkan Calvin, ia merasa sedang bermimpi. Ucapan Diva barusan yang menginginkan untuk langsung menjadi istrinya. Membuat dirinya seolah sedang di dunia mimpi.
“Mengapa diam? Tidak ingin? Tidak masalah,“ ujar Diva dengan rasa kecewa di hatinya lalu berniat meninggalkan ruangannya.
Calvin yang melihat Diva ingin keluar langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
Calvin langsung mengecup sekilas kening gadis itu. Lalu sedikit melerai pelukannya karena takut gadis itu merasa terkecik nantinya.
“Siapa bilang tidak ingin menjadikan dirimu sebagai istriku. Aku pikir awalnya, biasanya gadis-gadis itu akan memilih berpacaran sebelum menikah. Ternyata kamu lebih memilih menikah,“ ujar Calvin dengan senyuman manisnya yang membuat Diva terkesima dengan senyuman manis pria itu. Senyuman manis yang tidak pernah diperlihatkan kepada semua orang.
“Aku akan menikahimu secepatnya, Sayang,“ Panggilan Sayang yang disematkan Calvin kepada gadis itu membuat gadis itu malu. Wajahnya bagai kepiting rebus sekarang.
Tiba-tiba, seseorang yang tidak diundang datang ke ruangan Diva.
“Ehemm …“ Deheman sedikit keras diberikan orang tersebut agar kedua orang ini tidak merasa dunia ini adalah milik mereka berdua, sedangkan yang lain adalah orang yang mengontrak di bumi ini.
“Devan?“ pekik Calvin dan Diva serempak. Lalu, melepaskan pelukan mereka barusan. Wajah mereka langsung memerah bagai kepiting rebus saat Devan asisten Calvin datang ke ruangan Diva. Terlebih lagi wajah Diva saat ini, wajahnya sudah benar-benar memerah akibat malu yang berlebihan.
“Tuan! Sekarang, kita ada meeting dengan Perusahaan XX.“ ucap Devan. Sontak Calvin langsung menoleh ke arah jam tangannya. Ternyata sudah saatnya meeting.
“Kenapa tidak bilang sejak tadi? Meeting akan dimulai lima menit lagi, baru kamu bilang?“ tanya Calvin dengan kekesalan yang meluap-luap. Meluapkan segala kekesalan kepada asistennya itu.
“Saya sudah berdiri di sini sejak lima belas menit yang lalu. Hanya saja saat saya memanggil Tuan, Tuan tidak mendengarnya. Tuan hanya asik dengan dunia sendiri seolah bumi ini milik Tuan,“ sindir Devan kepada atasannya itu.
“Tuan Calvin. Sebaiknya, Tuan segera kembali. Bukankah kata Tuan Devan apabila Tuan memiliki jadwal meeting dengan Perusahaan XX?“ sahut Diva mengingatkan pria itu agar tidak lupa. Takutnya malah sibuk berdebat yang berujung telat.
“Kalau bukan sudah hampir telat, ki-“ Ucapan Calvin langsung dipotong begitu saja. Membuat Calvin kesal dengan si pelaku.
“Tuan! Dua menit lagi, meeting akan dimulai!“ potong Devan tidak ingin perdebatan ini semakin panjang. Meeting akan dimulai dua menit lagi, tapi atasannya itu seolah sangat santai.
“Sayang! Aku tinggal dulu ya! Setelah meeting, aku akan menemuimu lagi!“ ujar Calvin lalu berniat mengecup kening gadis itu, namun langsung dihentikan.
“Tuan!!“ pekik Devan saat melihat jam tangannya. Meeting seharusnya sudah dimulai sekarang.
Mendengar pekikan dari asistennya itu membuat Calvin semakin kesal. Namun, tidak ingin melimpahkan kekesalannya itu kepada gadis ini. “Sampai jumpa, Sayang!“ sembari melemparkan kiss dari jauh.
“Sampai jumpa!“ jawab Diva sembari melemparkan kiss dari jauh dengan malu-malu.
Melihat sikap malu-malu dari gadis itu membuat Calvin gemas. Namun, tidak bisa berbuat apa.
Calvin dan Devan pun pergi meninggalkan ruangan Diva. Sedangkan Diva yang masih berada di ruangannya sendiri langsung memegang pipinya.
Tanpa sengaja, Diva melihat berkas perusahaan di atas meja yang sudah menumpuk bagai bukit. Mengingat berkas itu beberapa ada yang harus dikerjakan hari ini, Diva langsung duduk di kursinya dan langsung mengerjakan berkas perusahaan itu dengan semampunya.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Di mobil.
Calvin melimpahkan semua kekesalan yang ditahan oleh nya tadi saat berada di ruangan Diva kepada asistennya yang mengendarai mobilnya. Devan yang dilimpahkan segala kekesalan yang ditahan oleh atasannya itu hanya bisa menghela napas dan memilih diam mendengar ocehan dari atasannya itu.
Devan merasa, atasannya itu mendadak menjadi cerewet sekali.
Tidak tahan akan ocehan yang terus dilontarkan oleh atasannya itu, Devan pun menaiki kecepatan mobilnya membuat atasannya diam seketika.
Devan diam-diam, tertawa dalam hatinya. Akhirnya atasannya itu bisa diam juga.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di Perusahaan Erland. Mereka berdua langsung segera menuju ke ruangan meeting. Sesampainya di ruangan meeting, mereka bisa melihat beberapa pengusaha lainnya seperti mereka sudah berdiri sejak lima belas menit yang lalu. Semuanya membungkuk hormat saat kedua pria itu masuk.
Devan langsung menoleh ke arah jam tangannya. Ternyata dirinya dan juga atasannya sudah telat lima belas menit.
Pengusaha yang telah hadir di dalam meeting ini sudah berdiri sejak lima belas menit yang lalu. Mereka mulai merasakan kaki mereka pegal akibat berdiri terus.
Setelah Calvin dan Devan duduk di kursi masing-masing. Akhirnya semua pengusaha yang ada di ruangan ini bisa duduk.
“Akhirnya bisa duduk juga!“ batin mereka.
“Kasihan sekali pengusaha ini. Karena telah menunggu Tuan Calvin lama membuat kaki mereka pegal seketika,“ batin Devan. Manik matanya mulai menelusuri ruangan ini. Tidak sengaja, matanya menangkap seorang gadis yang mirip dengan Diva gadis yang disukai atasannya itu hadir dalam meeting ini.
Matanya terus menatap gadis itu. Gadis yang terus ditatap oleh Devan langsung menundukkan kepalanya.
“Devan!“ Namun, yang dipanggil malah asik menatap seorang gadis.
Semua orang mulai melihat ke arah mana Devan melihat. Ternyata Devan sejak tadi melihat gadis yang hadir dalam meeting ini.
“Kamu sedang melihat siapa, Van?“ tanya Calvin dengan setengah berbisik.
Akhirnya dengan sedikit berbisik, Devan langsung menghentikan tatapannya tadi.
“Tidak ada, Tuan,“ kilah Devan berusaha menghindari pertanyaan atasannya barusan. Tidak ingin atasannya mengetahui bahwa dirinya baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta pada gadis itu.
Satu per satu pengusaha mulai menjelaskan. Hingga tiba saatnya gadis itu maju untuk mempresentasikan produk yang dimiliki di perusahaannya.
Devan kembali menatap gadis itu.
Presentasi diawali dengan perkenalan diri. Gadis itu sedikit merasa gugup saat ingin memperkenalkan dirinya. Gadis itu menarik napas panjang lalu mulai berbicara.
To be continued...
__ADS_1
Siapakah gadis itu? Jangan lupa dukungannya... Terimakasih