
~Happy Reading~
Keesokan harinya.
Pukul 06.00 WIB.
Semalaman, Sya membuat strategi dan rencana untuk pembalasan dendam. Tepat di hari ini, Sya langsung melaksanakan rencananya.
Sya mengambil ponselnya lalu memasangkan kartu nomor telepon yang bukan miliknya.
Lalu, ia menelepon seseorang dengan nomor tersebut.
“Halo! Mari bertemu di tempat XX! Aku sudah mengirimkan alamat serta jam berapa harus pergi!“ ucap Sya lalu mematikan sambungan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut.
Ya, orang tersebut ialah Eric. Sya sengaja menelepon pria tersebut lebih awal. Sya mengirimkan alamat tempat tersebut kepada Eric dan pada kapan Eric harus ke sana. Setelah mengirimkannya, Sya mencabut kartu nomor telepon tersebut lalu diganti dengan kartu nomor telepon lainnya.
⚘⚘⚘
Sementara di Eric.
Eric heran dengan si penelepon. Ia mengangkat telpon tersebut, lalu sang penelepon mengatakan untuk bertemu di sebuah tempat yang sudah lama tidak digunakan lagi. Bahkan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban darinya.
“Siapa orang ini? Berani juga dia mengajakku untuk bertemu! Baiklah, aku akan segera bertemu dengannya di pukul sepuluh pagi sesuai dengan yang dikirimkan olehnya!“ seru Eric.
Perjalanan dari lokasi Eric menuju tempat tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya membutuhkan sekitar belasan menit. Sehingga, Eric menunggu waktunya sampai baru berangkat.
⚘⚘⚘
Kembali bersama Sya.
Sya kembali memasangkan kartu nomor telepon lain yang pasti bukan miliknya. Lalu, ia menelepon seseorang dengan menggunakan nomor tersebut.
“Halo! Mari bertemu di tempat XX! Aku sudah mengirimkan alamat serta jam berapa harus pergi!“ ucap Sya lalu melakukan hal yang sama seperti tadi yaitu langsung mematikan telpon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut.
Siapa orang kedua kali ini? Ya, dia adalah Ricky papa dari Ria. Masihkah kalian mengingat dengan Ria? Nama lengkapnya adalah Ria Erika, dia adalah seorang dokter yang pernah bekerja di Rumah Sakit milik mendiang Mama Sya, hanya saja dipecat dan kembali bekerja di Rumah Sakit Melati. Pemilik Rumah Sakit Melati ialah dokter Rosetta.
Sya mengirimkan alamat serta jam berapa Ricky harus pergi kepada Ricky di pesan. Setelah memastikan pesannya telah dikirim, Sya langsung mengeluarkan kartu nomor telepon tadi dan menggantinya dengan kartu nomor telepon lainnya.
Lama kelamaan, Sya akan menjadi koleksi kartu nomor telepon. Untung saja, kartu nomor telepon ini tidak mahal. Meskipun tidak mahal, Sya membelinya dengan jumlah banyak.
⚘⚘⚘
__ADS_1
Sementara di Ricky.
Ricky heran dengan nomor yang tak dikenali olehnya, tiba-tiba menelepon dirinya. Ricky langsung mengangkat telepon tersebut karena penasaran. Namun, sang penelepon hanya mengucapkan beberapa kata lalu sambungan telpon dimatikan oleh sang penelepon.
“Sombong banget jadi orang! Ngomong gitu doang habis itu dimatikan! Ahh … Tapi jadi penasaran juga sama orang ini! Ah, aku temui saja nanti dia di alamat yang dikirimkannya!“ gumam Ricky sembari membaca pesan dari sang penelepon.
⚘⚘⚘
Sementara di Sya.
Sya menghubungi salah satu dari tiga sejoli.
“Halo! Mari bertemu di alamat yang telah kukirimkan! Datanglah tepat waktu! Oh ya, jangan lupa datang bersama kedua sahabatmu itu!“ ucap Sya lalu mematikan sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari tiga sejoli tersebut.
Sya tersenyum setelah membuat sebuah jebakan untuk mereka.
Apakah Sya tidak menelepon Lia yang merupakan istri dari Ricky? Tentu tidak, karena tanpa ditelpon, pasti Lia juga ikut bersama Ricky ke mana pun Ricky pergi. Sya sudah mengetahui hal tersebut. Jadi, Sya tidak perlu bersusah payah untuk menelepon istri Ricky.
Sya membuang semua kartu nomor telepon yang tadi ia gunakan ke tong sampah di jalan raya. Tujuan Sya melakukan hal tersebut ialah agar orang yang tadi ditelpon Sya pada saat mencari tahu siapa yang menelepon, tidak akan pernah menemukannya. Jika pun menemukannya, maka akan berakhir di tong sampah ini.
Setelah membuang kartu nomor telepon yang digunakannya, Sya pulang. Ia memasang kartu nomor telepon miliknya sendiri ke ponselnya.
Sya mengambil barang-barang penting dan dimasukkannya ke dalam tas miliknya. Setelah memastikan semua sudah di dalam tasnya, Sya berangkat ke suatu tempat.
⚘⚘⚘
“Ria! Siapa yang barusan meneleponmu??“ tanya Clara dengan penasaran.
“Aku tidak tahu, Clar!“ jawab Ria.
“Apa? Lalu, ia katakan apa??“ tanya Deshita.
“Ia hanya mengatakan untuk menemuinya di lokasi yang sudah dikirimkannya kepada aku! Dan disuruh datang ke sana sesuai jam yang dikirimkannya!“ jelas Ria panjang lebar.
“Coba kirimkan nomornya! Aku mau coba menyelidikinya! Siapa tahu orang tersebut malah main-main dengan kita!“ pinta Deshita.
“Baik, Shita!“ Ria segera mengirimkan nomor yang menghubunginya tadi kepada Deshita.
“Sudah terkirim?“ tanya Ria.
“Sudah, Ri! Aku coba cari dulu ya!“ jawab Deshita.
__ADS_1
“Oke! Semoga berhasil!“ ujar Ria.
Deshita menanggapinya dengan anggukan. Deshita langsung menyelidiki si pemilik nomor. Ria dan Clara hanya membantu Deshita untuk mengambilkan sesuatu yang diperlukan dan menonton yang dilakukan Deshita.
Satu jam kemudian.
“Bagaimana hasilnya, Shita?“ tanya Ria dengan penasaran.
“Iya, gimana Des??“ sahut Clara.
“Hasilnya sudah aku temukan! Ayo ikut denganku!“ ajak Deshita.
“Ke mana?“ tanya Clara.
“Ke lokasi di mana kartu nomor telepon ini berada sekarang!“ jawab Deshita.
“Oke!“ ujar Clara dan Ria.
Mereka berdua segera meluncur ke lokasi yang diduga oleh Deshita tempat kartu nomor telepon tersebut berada. Di mana ada kartunya, pasti ada pemiliknya juga bukan?
Setelah hampir sampai, mereka heran dengan tempatnya.
“Des, kamu gak salah jalan, 'kan? Ini di jalan raya, lho!“ tanya Clara.
“Enggak, Clar! Ini memang tempatnya, mungkin pemilik nya sekarang ada di jalan raya!“ jawab Deshita berusaha untuk berpikir jernih karena pikirannya juga sama seperti Clara. Namun, pikiran buruk yang muncul segera ditepis oleh Deshita.
Mereka segera menuju ke tempat yang seharusnya. Namun, berdasarkan map di ponsel Deshita, lokasinya ada di dekat tong sampai. Pikiran buruk mulai menjalar ke mana-mana.
Hingga sampai di tempatnya, mereka terkejut karena kartunya ada di dalam tong sampah. Hal yang tak pernah terduga terjadi.
“Kok bisa di sini ya?“ ucap Clara sembari menutup hidungnya.
“Iya! Kok bisa?“ tanya Ria.
“Gagal deh!“ ucap Deshita.
Karena gagal tidak bisa menemui identitas sang penelepon, mereka bertiga pun memilih pulang dan menunggu waktunya untuk menemui sang penelepon.
Sayangnya, mereka tidak mengetahui apabila jika datang ke sana akan terjadi sebuah kejutan yang tidak terduga.
To be continued...
__ADS_1
Note: Terima kasih buat kk smua yg sudah dukung Author dari awal jadi Author silver.. Walaupun tidak menang lomba. Setidaknya lomba ini menjadi latihan buat Author biar ke depannya bisa membuat novel lebih bagus lagi...
Jangan lupa dukungannya.