
Happy Reading...
“Halo?“
Diva dan Calvin sama-sama terkejut. Pasalnya suara penelepon misterius tersebut ternyata tidak asing di indra pendengaran mereka berdua.
Karena merasa suaranya barusan tidak didengar, penelepon misterius ini kembali bersuara. “Halo Nona? Ada yang bisa saya bantu?“
“Pak?“ Diva tidak bisa berkata-kata lagi. Bahkan dirinya tadi sudah berpikiran buruk mengenai penelepon misterius ini. Padahal penelepon misterius ini bukanlah orang jahat yang dikiranya.
“Iya, ini saya. Maaf, sebelumnya saya menggunakan ponsel milik teman saya sehingga nomor yang saya gunakan untuk menghubungi Nona Diva, otomatis berbeda. Sekali lagi, mohon maaf.“ ucap penelepon misterius tersebut yang ternyata adalah pihak kepolisian.
“Maaf, Pak. Saya kira ini bukan Bapak. Soalnya nomornya tidak saya kenali. Saya minta maaf sudah berprasangka buruk kepada Bapak.“ Diva benar-benar merasa bersalah. Begitu juga dengan Calvin.
“Tidak masalah, Nona. Ouhh iya … Apa Nona Diva bersama Tuan Calvin masih merayakan acara pernikahan hingga saat ini?“ tanya pihak kepolisian tersebut dengan sopan.
“Masih, Pak.“ Kali ini yang menjawab bukan lagi Diva, melainkan suaminya yaitu Calvin.
“Ini Tuan Calvin ya? Baiklah. Kalau begitu, nanti saja saya sampaikan beritanya kepada kalian.“ ucap Pihak Kepolisian tersebut.
“Berita apa, Pak? Kenapa tidak diberitahu sekarang saja?“ tanya Calvin merasa heran. Diva yang mendengar juga merasa heran. Berita apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pihak Kepolisian?
“Ada saatnya. Kalian berdua pasti sedang sibuk bukan? Jadi, sebaiknya saya menunda memberitahu berita ini kepada kalian berdua.“ jelas Pihak Kepolisian tersebut dengan sopan.
“Kira-kira, acara pernikahan Nona Diva dan Tuan Calvin akan berlanjut hingga kapan?“
“Malam, Pak.“ jawab Calvin dan Diva secara serempak.
“Malam? Kira-kira, saya hubungi kembali, bisanya jam berapa ya?“
“Jam tujuh sudah bisa, Pak.“ jawab Calvin dengan cepat. Bahkan Diva istrinya belum menentukan kapan.
__ADS_1
“Jam tujuh? Baiklah.“ ucap Pihak Kepolisian.
“Oh iyaa … Saya belum mengucapkan selamat kepada Nona Diva dan Tuan Calvin. Ini juga ada rekan kerja saya yang menitipkan salam.“ Pihak Kepolisian tersebut menarik napas panjang untuk mengucapkan selamat.
“Selamat ya, atas pernikahan Nona Diva dan Tuan Calvin. Semoga selalu bahagia, dan kami akan senantiasa menunggu kabar baik dari kalian, hehe.“ ucap Pihak Kepolisian sembari terkekeh kecil di akhir kalimat.
Calvin tampak tersenyum-senyum mendengar ucapan dari Pihak Kepolisian. Mereka semua sudah menunggu kabar baik dari dirinya dan istrinya.
Sedangkan Diva sudah merasa malu. Bahkan hingga memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
“Mungkin segitu saja yang dapat saya sampaikan. Intinya, selamat!“ ucap Pihak Kepolisian.
“Kalau begitu, saya tutup terlebih dahulu sambungan teleponnya. Selamat sore dan terimakasih.“ tambah Pihak Kepolisian.
“Selamat sore.“ jawab Diva dan Calvin secara serempak.
“Tut.“ Sambungan telepon pun telah dimatikan oleh Pihak Kepolisian secara sepihak setelah Diva dan Calvin menjawab.
Diva semakin merasa malu.
...☘️☘️☘️...
Malam harinya pun tiba.
Acara pernikahan Diva dan Calvin yang tadinya dirayakan dengan tamu yang hadir dengan jumlah yang cukup banyak, saat ini telah pamit semua untuk pulang.
Diva dan Calvin bergegas ke kamar hotel khusus pengantin.
Melihat sepasang pengantin baru itu terlihat begitu buru-buru untuk pergi ke kamar, membuat Eca dan Dokter Rosetta serta Devan merasa heran.
“Sebenarnya ada apa hingga sepasang suami istri itu buru-buru untuk pergi ke kamar?“ Dokter Rosetta merasa heran.
__ADS_1
“Mungkin merasa ingin melakukan itu sekarang, Bu. Sudah tidak sabaran sepertinya sejak acara dimulai.“ Devan terkekeh geli.
“Sudahlah, daripada kita menggosip sepasang pengantin baru itu, sebaiknya kita juga pergi beristirahat secepatnya. Apalagi satu harian penuh ini, kita isi dengan acara pernikahan sepasang pengantin itu.“ ucap Eca yang benar apa adanya.
“Ya, betul sekali.“ jawab Dokter Rosetta.
Sedangkan Devan merasa semakin kagum dengan gadis-nya.
...☘️☘️☘️...
Sementara di Diva dan Calvin.
Mereka berdua terlihat gelisah bahkan tanpa sadar sama-sama mondar-mandir menunggu telepon dari Pihak Kepolisian. Sudah menunggu beberapa menit, namun masih saja belum ada, padahal sudah pukul tujuh malam.
Hingga tanpa disengaja, mereka berdua saling bertabrakan.
Calvin menangkap tubuh Diva yang hampir jatuh karena bertabrakan dengannya.
Tubuh mereka bersentuhan saat itu juga.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara. “Tut … Tutt!“
Calvin segera mengambil ponsel milik Diva lalu sembari memeluk Diva dan duduk di atas ranjang.
“Halo?“ ucap Calvin mengawali ucapan dalam panggilan dengan tidak sabaran.
“Halo, Tuan Calvin! Saya kembali menelepon. Ada berita yang ingin saya sampaikan sejak tadi sore!“ jawab Pihak Kepolisian.
“Deg!“
Baik Calvin maupun Diva, keduanya sama-sama deg-degan menunggu berita selanjutnya yang akan disampaikan oleh Pihak Kepolisian.
__ADS_1
To be continued...