
...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...
Palu pun diketuk kan oleh Hakim pertanda persidangan di mulai. Baru saja persidangan di mulai, peserta yang hadir sudah berkeringat.
Tubuh mereka dibanjiri oleh keringat dingin mereka. Istri serta keluarga mereka juga turut ikut hadir dalam persidangan ini.
Selama proses persidangan, Hakim beserta orang penting lainnya mempertimbangkan soal kasus ini.
Hingga pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memberikan hukuman penjara selama enam tahun dan dengan denda dua ratus juta.
Tiga sejoli tersebut yang tak lain adalah Clara, Deshita, dan Ria sama sekali tidak diberikan hukuman penjara, hanya denda sebesar lima ratus juta. Bukankah terlihat sangat aneh?
Sya yang menyadari hal tersebut merasa heran. Bukankah harusnya semuanya rata? Mengapa ini tidak? Apakah kejadian sogok dan menyogok itu kembali terjadi? Apakah ini ulah tiga sejoli tersebut lagi?
Proses persidangan pun selesai. Sya menghampiri Bapak Hakim.
“Pak! Apa tidak bisa mengajukan protes?” tanya Sya.
“Tidak!” jawab Hakim.
Kening Sya mengernyit heran.
“Hah? Aneh sekali! Pasti ini ulah tiga sejoli tersebut lagi! Aku tidak bisa membiarkan hal ini terlalu lama!“ batinnya.
“Apa Bapak tidak di sogok, 'kan?” tanyanya kepada Bapak Hakim.
Bapak Hakim tersebut terdiam sejenak.
“Hah? Maksud kamu itu apaan! Sudah jelas, saya tidak mungkin menerima uang sogokan ataupun uang suap meskipun nilai uang yang di berikan sangat tinggi!” ucapnya tegas.
“Apa Bapak yakin?“ tanya Sya.
“Ten- Tentu saja! Apa Nona meragukanku?” jawab Bapak Hakim dengan sedikit terbata.
“Tentu saja aku meragukanmu!“ jawab Sya lalu mengambil sesuatu dalam tasnya. Bapak Hakim yang melihatnya menjadi penasaran.
“Saya ada uang lima ratus miliar rupiah untuk Bapak!” seru Sya sembari memberikan uang tersebut kepada Bapak Hakim.
Mata Bapak Hakim tersebut berbinar ketika melihat cek uang tersebut sebanyak lima ratus miliar rupiah yang diberikan untuknya. Hari ini benar-benar hari keberuntungan dirinya.
“Lima ratus miliar rupiah. Uang yang sangat banyak dibandingkan uang yang diberikan Nona Clara. Kemarin Nona Clara hanya memberikan kepadaku sebanyak lima ratus juta. Hari ini, aku diberi oleh Nona Christine sebanyak lima ratus miliar. Mimpi apa aku semalam hingga bisa mendapatkan uang sebanyak ini? Akan ku pergunakan untuk membeli barang-barang mewah dengan uang sebanyak ini! Tak sia-sia aku menjadi seorang Hakim! Haha!“ batin Bapak Hakim tersebut tertawa dalam batinnya.
Sya yang melihat Bapak Hakim tersebut tertawa pun tersenyum misterius. Entah apa yang direncanakan gadis hebat ini.
“Bagaimana? Apa Bapak Hakim mau?” tanyanya.
“Hem.“ Hanya itu yang dilontarkan oleh Bapak Hakim.
__ADS_1
“Saya sedang bertanya kepada Bapak! Bapak 'kan Manusia! Saat ini, saya sedang bertanya kepada yang namanya manusia bukan hewan sapi ataupun kambing yang setiap hari hanya berbicara hemmm!” protes Sya.
“Hem... Saya mau!” jawabnya pada akhirnya.
“Baik!“ sahut Sya lalu memberikannya kepada Bapak Hakim.
“Tapi sebelum saya memberikannya, saya ingin mengajukan satu permintaan!“ ucap Sya.
“Baiklah! Permintaan apa itu?” tanya Bapak Hakim.
“Saya mau, tiga sejoli tersebut juga mendapatkan hukuman setimpal dengan semua Polisi yang di sogok mereka bertiga!“ pinta Sya.
“Tiga sejoli?”
“Iya, mereka bertiga ialah Nona Ria, Nona Clara, dan Nona Deshita!” jawab Sya.
“Baiklah!“
Usai beberapa menit berlalu, Bapak Hakim tersebut kembali menghampiri Sya.
“Saya sudah membuatnya!” ucapnya.
“Baiklah, Terima kasih banyak! Ini uang untukmu!” ucap Sya sembari memberikan uang sebesar lima ratus miliar untuk Bapak Hakim tersebut.
“Terima kasih kembali!” ucap Bapak Hakim tersebut sembari menerima uang dari Sya dengan wajah yang berbinar.
“Heyy!! Mengapa Nona cantik malah kabur?!!” ucap Bapak Hakim tersebut sembari mengejar Sya yang sudah berlari.
Terjadilah kejar-kejaran di antara mereka berdua. Namun, Bapak Hakim tersebut tidak tahu bahwa ini semua adalah rencana dari gadis hebat tersebut. Dan satu lagi, Bapak Hakim tetep tidak tahu bahwa gadis ini sangatlah licik pada lawannya.
Beberapa menit berlalu.
Sya terus berlari tanpa henti. Bapak Hakim tersebut yang memiliki perut yang sangat buncit dibandingkan ibu hamil dengan kandungan sembilan bulan merasa tidak sanggup untuk mengejar Sya terus-menerusan.
Ia hampir menyerah. Namun, mengingat cek uang sebanyak lima ratus miliar membuatnya tidak jadi untuk menyerah, ia terus berlari hingga mendapatkan yang diinginkannya.
Sya berlari hingga jauh dari tempat Pengadilan. Ia mengambil yang di tasnya dan meletakkannya di sebuah koper. Usai dengan kegiatannya yang hampir berhasil, Sya langsung berlari ke tempat parkiran Pengadilan melalui jalur lain.
Bapak Hakim yang berlari mengejar Sya pun berhenti ketika melihat sebuah koper yang besar tergeletak di dekat tong sampah. Ya, Sya tadi sengaja meletakkan koper tersebut di dekat tong sampah.
Dari jauh, Sya melihat yang dilakukan Bapak Hakim tersebut ketika melihat koper tersebut melalui ponselnya. Sya meletakkan sebuah benda kamera yang ukurannya sangat kecil di koper tersebut. Saking kecilnya, tidak ada yang tahu bahwa itu adalah sebuah kamera. Kamera ini juga dapat memadukan warnanya sendiri dengan benda yang akan diletakkan sehingga tidak terlihat.
Sya segera menuju ke tempat parkiran Pengadilan. Usai sampai, Sya langsung membawa mobil mewahnya tersebut dan pergi ke suatu tempat.
⚘⚘⚘
Sementara di Bapak Hakim tersebut.
__ADS_1
Bapak Hakim tersebut penasaran dengan isi koper besar tersebut. Apakah isinya uang? Jika uang, maka Bapak Hakim tersebut ingin membawanya pergi. Namun jika isinya adalah pakaian dengan harga yang sangat mahal, ia juga akan membawanya.
Bapak Hakim tersebut berjalan dengan pelan sembari sembunyi apabila ada seseorang melewati tempat tersebut.
“Sialan! Ini tempat yang sangat busuk! Aku harus mengambil masker agar tidak tercium bau busuk yang terus menyengat ini!“ batinnya lalu mengambil sebuah masker dan segera memakainya.
Ia hampir mendekati tempat tong sampah tersebut. Tersisa beberapa langkah lagi. Ia segera berlari dan mengambil koper tersebut dan kembali ke tempat persembunyiannya.
Ia yang sedari tadi penasaran dengan isi koper tersebut segera membuka koper tersebut. Beruntung koper tersebut tidak ada gembok.
Pupil matanya membesar ketika melihat isi koper tersebut. Isi koper tersebut ialah uang yang sangat banyak. Bapak Hakim tersebut melihat sekelilingnya dan segera kabur dengan membawa motor orang lain.
“Heyy!! Motorkuuu!!!” pekik pemilik motor tersebut. Namun, Bapak Hakim tersebut segera membawa motor dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Mas yang sabar ya. Maaf, kami tidak bisa menolong motor Mas,” ucap warga yang menyaksikannya.
“Tidak apa kok, Mas.” jawab pemilik motor tersebut sembari tersenyum licik.
“Haha!! Terima kasih sudah mengambil motorku! Karena motor tersebut hasil pencurian ku, Haha!“ batin pemilik motor.
⚘⚘⚘
Sementara di Sya.
Sya menonton rekaman kameranya melalui ponselnya sembari menyetir mobil. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang mirip dengan Bapak Hakim tadi sedang membawa motor dengan kecepatan tinggi.
“Lho, bukankah dia?“ Sya tidak bisa berkata-kata lagi. Ia melihat video rekamannya juga demikian. Terdengar dari ponselnya apabila Bapak Hakim tersebut membawa motor dengan kecepatan yang sangat tinggi.
“Sudahlah. Untung saja, aku memiliki banyak kamera yang sama persis seperti itu!“ batinnya.
Sya membawa mobilnya dan menuju ke Rumah Sakit Melati. Ia merindukan sahabatnya. Tak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya.
Jalanan yang awalnya tidak terlalu ramai tiba-tiba macet. Sya mendengar teriakan orang-orang apabila ada seseorang yang kecelakaan dengan luka yang parah. Sya menduga apabila orang tersebut adalah Bapak Hakim tadi. Dan Sya juga mendengar jika korban kecelakaan tersebut membawa motor yang berwarna hijau muda.
Sya yang mendengar kata ‘motor berwarna hijau muda’ mulai memperkuat dugaannya apabila yang kecelakaan tersebut adalah Bapak Hakim tadi.
Sya mendengar bisikan orang-orang apabila motor yang digunakan sang korban kecelakaan adalah motor yang selama ini dicari-cari oleh Polisi dan warga. Motor ini sangatlah mahal. Mereka tidak menyangka apabila motor tersebut yang selama ini menjadi topik utama ditemukan. Namun sayangnya, sang korban kecelakaan tersebut yang diduga oleh para warga apabila korban adalah pelaku yang mencuri motor berwarna hijau tersebut.
Pemilik motor berwarna hijau muda tersebut adalah seorang pengusaha sehingga para warga ingin menemukannya agar mendapatkan imbalan yang tinggi. Apalagi pengusaha tersebut menjanjikan apabila orang yang menemukan motor miliknya akan diberi imbalan sebesar satu miliar.
Siapa yang tidak menginginkan uang satu miliar. Mengingat soal satu miliar, Author juga menginginkannya. Tapi, apakah ada orang seperti pengusaha tadi?
...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳... ...
Panjang ya? Lumayan, hari ini weekend. Author jadi punya lumayan bnyak waktu untuk ngerjain tugas dri editor dan menulis yg cukup pnjang ini.
Bagaimana penilaian kalian terhadap novel ini? Tulis jawaban kakak semua di kolom komentar!
__ADS_1