Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 97 : TAKUT


__ADS_3

Setelah selesai, Devan membuang tisu tersebut ke tempat sampah terdekat.


“Ada apa? Mengapa menatapku terus-menerus? Apa ada yang salah denganku?“ ucap Devan setelah kembali. Devan merasa heran ketika ditatap terus-menerus oleh Eca.


“Hem … Ti-Tidak ada …“ ucap Eca dengan terbata. Rasa gugup menyelimuti hati gadis itu.


“Benarkah? Kalau begitu, ayo pulang!“ ajak Devan mengalihkan topik pembicaraan keduanya.


“Baiklah,“ jawab Eca lalu meminum minumannya hingga habis tidak tersisa sedikitpun dan beranjak dari tempat duduknya, menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


Setelah selesai, gadis tersebut kembali. “Ayo!“


Sebelum mereka pulang, keduanya sama-sama menuju ke kasir.


“Berapa tagihannya, Mbak?“ tanya Eca dengan sopan.


“Totalnya untuk meja nomor 22, sebentar saya totalkan terlebih dahulu.“ ucap Mbak kasir tersebut. “Ini mau dipisah apa digabung?“ tanyanya.


“Pisah, Mbak.“ jawab Eca. “Gabung aja, Mbak.“ pinta Devan.


“Aduh, yang mana benar? Pisah atau gabung?“ Mbak kasir tersebut merasa bingung, sebab ia bertanya, lalu dijawab dengan jawaban berbeda.


“Pisah! Gabung!“ jawab Eca dan Devan secara serempak tanpa disengajai. Keduanya sontak bertatapan satu sama lain.


“Aduh, ada yang lagi ngambek-ngambekan kayaknya nih yaa.” goda Mbak kasir sembari tersenyum melihat tingkah kedua orang yang sedang ingin membayar, namun dirinya malah mengira apabila kedua orang tersebut ialah sepasang kekasih yang sedang marah.


“Gabung saja ya, Nona. Biar hitungnya lebih mudah.” ucap Mbak kasir.


“Tapi … Mbak?“ Eca terpaksa menyetujui bahwa tagihan mereka digabung saja.


“Oke, totalnya 500 ribu rupiah.“ kata Mbak kasir.


“Ini, Mbak.“ Mereka kompak memberikan uang 500 ribu rupiah kepada Mbak kasir. Mbak kasir sontak kembali merasa bingung. Namun, setelah mendapatkan kedipan mata dari pria tersebut, Mbak kasir menerima uang dari Devan.


“Terima kasih atas kunjungan Anda.“ terdengar suara robot yang diatur secara otomatis apabila sang pelanggan selesai membayar tagihannya.


Eca dan Devan pun pergi dari Restoran tersebut. Mereka sampai di tempat parkiran. Devan sudah menemukan mobil miliknya, namun Eca masih belum menemukan mobilnya sejak tadi. Ia heran sekaligus bingung, pasalnya mobil miliknya ada di tempat parkiran itu, namun mengapa bisa tiba-tiba hilang?


“Sudah ketemu, Nona?“ tanya Devan yang sejak tadi menunggu Eca mencari mobil milik gadis tersebut.


“Belum,“ jawab Eca sembari kembali berkeliling di tempat parkiran tersebut. Namun tetap saja, dirinya tak menemukan mobil miliknya di tempat tersebut. Rasa panik akan mobil tersebut menyelimuti hati dan pikirannya saat itu.


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa yang tadinya Eca mencari mobilnya yang tak kunjung ketemu setelah lima menit keluar, dan sekarang tidak terasa sudah 1 jam mereka berada di tempat parkiran Restoran tersebut, namun Eca masih belum menemukan mobilnya.


“Nona, sebaiknya Nona ikut mobil saya saja. Daripada kita terus-menerus disini mencari mobil Nona yang tak kunjung ketemu.“ saran Devan.


“Kasihan juga sama Pak Security yang seharusnya sudah satu jam yang lalu pulang, namun hingga saat ini Beliau masih menunggu kita.“ lanjut Devan.


Eca pun hanya terdiam. Karena mobilnya yang hilang entah kemana, dan dirinya mencari selama satu jam, dirinya sudah mengorbankan waktu orang-orang di sekitarnya.


“Baiklah, saya naik taksi saja.“ putus Eca.


Eca mengambil ponselnya, namun ponselnya justru malah kehabisan baterai yang membuat dirinya terpaksa menyimpan ponselnya kembali.


Devan yang melihat apa yang dilakukan Eca sontak merasa heran. “Untuk apa gadis itu mengambil ponselnya lalu menyimpan kembali jika tidak digunakan?“ pikirnya.


“Hufftt.“ Eca mendesah kesal.


“Ada apa, Nona?“ Devan memberanikan diri untuk bertanya kepada Eca.


“Ti-Tidak ada. Tuan Devan sebaiknya pulang saja terlebih dahulu. Nanti saya naik taksi saja.“ jawab Eca mengalihkan pembicaraan mereka.


“Ini sudah pukul sepuluh malam, Nona. Tidak baik seorang gadis pulang malam-malam tanpa pengawasan. Apa Nona tidak takut apa terjadi sesuatu dengan Nona nanti di perjalanan? Apalagi-“ omel Devan, namun belum lagi melanjutkan kata-katanya, Eca sudah memotong ucapannya itu.


“Asisten Tuan Calvin menjadi cerewet seperti seorang wanita saja.“ gerutu Eca dalam hati.


“Kenapa?“ tanya Devan. Dalam hati, ia kesal karena gadis tersebut memotong ucapannya tadi begitu saja. Padahal ia hanya ingin memberi peringatan kepada gadis itu agar berhati-hati, bukan ingin berperan menjadi seorang wanita.


“Jika aku tidak diperbolehkan naik taksi malam-malam, lalu aku naik apa untuk pulang?“ ucap Eca.


“Naik mobilku saja. Aku akan mengantarkanmu pulang.“ jawab Devan.


“Bukankah itu sama saja? Naik mobilmu ataupun naik taksi, pengemudinya sama-sama seorang pria bukan?“ Eca merasa kesal.

__ADS_1


“Tidak ada bantahan. Ini perintah Tuan Calvin.“ Terpaksa Devan membawa nama-nama atasannya agar Eca mau diantar olehnya pulang.


“Huftt. Baiklah.“ Dengan terpaksa, Eca menyetujui permintaan Devan yang ingin mengantarnya pulang kerumah. Entah mengapa nasibnya justru malah sial.


***


Sejak didalam mobil Devan, wajah Eca terlihat cemberut. Devan yang melihatnya menjadi gemas.


Lalu, dicubitnyalah pipi yang membuat dirinya gemas sejak tadi.


“Auch!“ Eca memegang pipinya yang dicubit oleh Devan. Dirinya merasa marah, lalu berniat menatap marah kepada Devan, namun entah mengapa saat menatap pria itu, justru rasa marah yang memburu dihatinya tadi menghilang begitu saja digantikan dengan rasa berbunga-bunga dihatinya.


“Perasaan apa yang aku rasakan saat ini? Niat hati ingin menatap marah kepadanya, justru saat menatapnya, rasa itu hilang seketika. Dan tiba-tiba saja, rasa marah itu digantikan dengan rasa berbunga-bunga. Pertanda apa ini?“ pikir Eca yang merasa bingung.


Dengan pipi yang merona, Eca memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dengan gerakan cepat. Gadis itu tidak ingin Devan melihat pipinya yang merona itu.


Namun sayangnya, sebelum gadis itu menyembunyikan wajahnya yang sudah merona, Devan sudah lebih dulu melihatnya.


Diam-diam, Devan tersenyum melihat gadisnya yang merona namun malu-malu. Eh, kok gadisnya?


“Aku jadi gemas sama kamu,“ gumam Devan dalam hati.


Devan pun berpura-pura seolah dirinya tidak melihat Eca tadi.


Perjalanan berlanjut dengan suasana sepi. Kedua orang yang sama-sama didalam mobil yang sama itu, tidak ada yang membuka suara sama sekali semenjak kejadian tadi.


***


Keesokan harinya pun tiba.


Di Mansion.


Eca bangun dari tidurnya dengan wajahnya yang ceria. Tidak ada angin, tidak ada hujan, entah mengapa gadis itu menjadi senyum-senyum terus-menerus sejak gadis itu bangun.


Para pelayan yang bekerja di Mansion itu tentu merasa heran. Entah mengapa majikannya itu menjadi aneh. Namun, mereka tidak berani mempertanyakan alasannya mengapa. Takut majikan mereka malah tersinggung. Sehingga mereka memilih menyimpan rasa penasaran mereka didalam henak mereka saja.


“Ting! Tong!“ terdengar suara bel. Para pelayan sontak menatap satu sama lain.


“Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini?“ heran mereka. Pasalnya, jika orang yang datang itu adalah tamu majikan mereka, terasa sangat aneh bukan? Sebab, tamu majikannya hanya akan datang saat siang hari ataupun sore hari, selain itu tidak ada.


“Tapi bukankah aneh?“ pelayan itu masih merasa heran. Takut jika mereka membukakan pintu, justru orang yang tidak terduga malah masuk dan malah membahayakan mereka dan juga Majikan mereka nantinya.


“Lebih baik, kita tanyakan saja terlebih dahulu kepada Nyonya. Daripada kita melakukan kesalahan nantinya,“ saran pelayan yang lain.


“Benar juga, ayo kita tanyakan hal ini kepada Nyonya!“ sahut pelayan lainnya.


Dua di antaranya pun mewakili pelayan yang lain. Pelayan yang tidak mewakili untuk bertanya, melanjutkan kembali pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena suara bel.


“Permisi, Nyonya.“ ujar pelayan tersebut sembari mengetuk pintu.


“Iya, silakan. Ada apa?“ tanya Eca. Eca masih mengenakan piyama tidurnya. Terlihat ada dress yang tergeletak diatas sofa dan juga handuk. Tampaknya gadis itu ingin pergi mandi.


“Maaf mengganggu, Nyonya. Apakah Nyonya memiliki tamu?“ tanya pelayan dengan hati-hati.


“Tamu? Saya tidak memiliki tamu di pagi hari ini,“ Eca merasa heran.


“Baiklah, Nyonya. Maaf mengganggu waktunya. Kami permisi dulu,“ ucap pelayan.


Eca pun bergegas mandi setelah kedua pelayan itu pergi. Ia penasaran, siapa yang pagi-pagi ini datang bertamu ke tempat tinggalnya.


Setelah mandi, ia segera ke ruang tamu. Ia menelusuri ruangan tersebut. Tidak ada siapapun disana.


“Tamunya ada dimana, Mbak?“ tanya Eca.


Eca mengenakan dress selutut berwarna maroon. Ditambah dengan riasan tipis di wajahnya. Gadis itu terlihat cantik.


“Masih diluar, Nyonya. Sengaja tidak kami persilahkan masuk. Kami menunggu Nyonya.“ jawab pelayan.


“Baiklah,“ sahut Eca.


Gadis itu melangkah ke pintu Mansion nya. Perasaan berbunga-bunga menyelimuti hatinya. Entah mengapa hati kecilnya berkata apabila tamu yang datang ini adalah Devan.


Namun, dirinya tidak begitu mengharapkan hal tersebut terjadi. Takut setelah melihat siapa yang datang, dirinya justru merasa kecewa.

__ADS_1


“CEKLEK!“ pintu pun terbuka. Eca terkejut melihat orang tersebut. Orang tersebut adalah orang yang dirinya harapkan untuk datang.


“Selamat pagi,“ sapa pria itu yang ternyata adalah Devan. Pria yang diharapkan oleh hati kecil Eca.


Eca pun merasa berbunga-bunga. Hingga tidak menyadari, pria itu terus menatap dirinya dengan intens.


“Saya kemari untuk mengajak kencan,“ ucap Devan tanpa basa-basi yang membuat lamunan Eca buyar begitu saja.


"Kencan?“ hati Eca semakin berbunga-bunga mendengarnya. Pipinya pun merona.


“Iya. Tapi sebelum itu, kita akan pergi sarapan di Restoran terdekat,“ sahut Devan.


“Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu,“ ujar Eca yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Devan.


***


Setelah sarapan di Restoran terdekat, akhirnya mereka pun pergi ke tempat tujuan Devan.


Perjalanannya cukup lama, sehingga memakan waktu hampir 2 jam. Tapi karena di iringi dengan canda tawa mereka, waktu pun tidak terasa jika mereka sudah sampai.


Tempat ini terlihat sepi. Tidak ada satupun orang. Tempatnya juga tidak seindah yang dirinya kira. Tempat ini justru malah lebih bisa dikatakan tempat misterius yang tidak boleh didatangi siapapun.


“Apa kita sudah sampai?“ tanya Eca sembari bergidik ngeri apabila dirinya dan Devan masuk ke dalam tempat tersebut. Membayangkan apabila isi tempat tersebut sangat menyeramkan.


“Iya. Disini tempatnya. Kamu tunggu disini dulu. Aku ingin pergi ke kamar kecil,“ jawab Devan yang ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh Eca.


Devan pun turun dari mobil. Eca pun sendirian dalam mobil. Demi menghilangkan rasa takutnya, Eca pun memutar sebuah lagu yang setidaknya bisa menghilangkan rasa takut dan juga rasa galaunya karena tidak ada yang menemaninya untuk berbincang.


5 menit. 10 menit. Dan tidak terasa, sudah 15 menit berlalu. Namun pria itu masih belum kembali. Eca merasa khawatir dengan pria tersebut, takut pria tersebut kenapa-kenapa.


“Haduh, kenapa Tuan Devan belum kembali juga ya?“ khawatir Eca.


Karena rasa khawatirnya lebih besar dibandingkan rasa takutnya, Eca pun turun dari mobil. Dan masuk ke tempat yang dimasuki oleh Devan tadi.


Tempatnya sangat gelap. Tidak ada cahaya sama sekali di dalamnya. Membuat Eca semakin takut.


Tangannya gemetar mengambil ponsel didalam tas. Namun, ponselnya justru kehabisan baterai karena memutar lagu tadi.


“DUARR!“ suara itu membuat Eca takut. Sontak gadis itu melangkah mundur.


Tempat tersebut yang semulanya gelap, menjadi terang bercahaya.


Berbagai hiasan tertempel di dinding. Hiasan yang begitu indah.


“HAPPY BIRTHDAY ECA NOVELLA!“ suara seseorang yang tidak begitu asing. Eca pun menoleh kearah sumber suara. Ternyata suara orang tersebut adalah suara orang yang dicari olehnya sejak tadi.


Rasa takut yang menyelimuti hatinya tadi seolah menghilang begitu saja.


“Thankyou,“ ucap Eca dengan malu-malu.


Tiba-tiba saja, Devan bersimpuh dihadapan gadis tersebut sembari mengeluarkan kotak dari saku jasnya.


“Maukah kamu menjadi istriku dan juga ibu untuk anak-anakku kelak?“ ucap Devan yang membuat Eca tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Waktu seolah terhenti disaat Devan melamarnya.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Eca menganggukan kepalanya dengan pelan.


Hari ini adalah hari yang tidak terduga. Hari ini adalah hari ulang tahunnya sekaligus hari dimana dirinya akan dilamar oleh pria yang selama ini mengisi hatinya yang kosong.


Devan pun memasang cincin tersebut di jari manis Eca. Cincin tersebut bersinar di jari manis Eca. Keduanya saling melemparkan senyum.


Tiba-tiba saja tempat tersebut yang semulanya hanya mereka berdua, menjadi ramai. Para pelayan yang ada di Mansion, tiba-tiba ada di tempat tersebut. Semuanya bersorak gembira melihat majikan mereka dilamar.


Devan mengecup tangan Eca. Semuanya bertepuk tangan dengan meriah. Dua orang itu pun saling berpelukan.


Cinta yang awalnya dikira hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan, ternyata diam-diam hati saling mencintai. Itulah definisi cinta.


Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Mau sebanyak apapun harta yang kita miliki, kita tetap tidak bisa membeli yang namanya cinta.


Cinta memang selalu tidak pernah terduga. Terkadang kita menganggap cinta itu tidaklah nyata. Namun, apakah setelah kalian mengalami kejadian ini, apakah kalian masih menganggap bahwa cinta itu tidaklah nyata?


Cinta itu tidak akan menilai seseorang dari penampilannya, segi harta orang tersebut, namun dari hati.


Jika cinta menilai seseorang dari penampilannya maupun dari segi harta orang tersebut, maka itu bukan namanya cinta, melainkan obsesi terhadap sesuatu.

__ADS_1


***


Mohon maaf, bab ini direvisi. Agar nyambung dengan bab berikutnya. Sehingga bab ini semakin panjang. Jika sebelumnya telah dibaca, silakan dibaca ulang agar nyambung dengan bab berikutnya. Terimakasih dan mohon maaf.


__ADS_2