Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 58 : SAYA DIVA ANASTASYA


__ADS_3

Happy Reading...


Dua jam berlalu. Pesawat mulai mendarat di Bandara.


“Nona … Bangun!“ panggil Calvin sembari menggoyangkan badan Christine alias Sya yang bersandar di da da bidangnya itu dengan pelan.


“Emm … Apa sudah sampai? Aku baru saja tidur sebentar,“ sahut Sya sembari meregangkan badannya.


“Ya. Kita sudah sampai. Ayo turun!“ ajak Calvin.


“Sebentar! Apa Tuan melihat ponselku?“ tahan Sya.


“Tidak!“ jawab Calvin.


“Haduh! Bagaimana ini? Aku lupa meletakkan ponselku di mana!“ gumam Sya. Namun, tiba-tiba, saat sedang mencari ponselnya yang entah hilang ke mana, ia melihat sebuah benda berwarna hitam di kursi sebelahnya. Sya mengambil benda tersebut.


“Ponselku!“ seru Sya membuka ponsel tersebut. Dan benar saja, wallpaper dan kata sandi ponsel tersebut sama. Itu tandanya, ponsel itu adalah miliknya.


“Sudah ketemu?“ tanya Calvin saat Sya mengambil ponsel dan membukanya.


“Sudah. Ayo turun!“ ajak Sya.


“Ayo!“ sahut Calvin tanpa sadar menggandeng tangan Sya. Sya yang merasa tangannya di gandeng oleh Calvin tiba-tiba, terkejut dengan aksi pria yang merupakan rekan bisnisnya itu. Namun, dirinya tidak mencoba untuk melepaskan.


Melihat kedua orang itu saling bergandengan tangan membuat Devan yang merupakan asisten dari Calvin terheran. Namun, setelah menyadari apabila yang menggandeng duluan adalah atasannya, ia langsung senyum-senyum sendiri.


Mereka bertiga turun dari pesawat dan masuk ke Bandara.


“Tuan Calvin. Nona Christine. Apakah kalian berdua tidak sadar, apabila kalian berdua saling bergandengan tangan sejak berada di pesawat saat kita ingin turun?“ goda Devan.


Mendengar ucapan dari Devan asistennya, Calvin langsung melepaskan gandengan tangannya.


“Maaf, Nona. Saya minta maaf,“ ucap Calvin memohon maaf.


“Tidak masalah,“ jawab Sya dengan santainya. Hal tersebut membuat Devan dan Calvin terheran. Saat ingin bertanya, Sya sudah melangkah jauh dari mereka berdua.


Mereka berdua langsung segera menyusul gadis itu.

__ADS_1


“Nona. Tunggu kami!“ ucap Calvin.


“Kita sudah kehilangan banyak waktu. Saya masih banyak urusan soal pekerjaan setelah satu minggu ditinggal,“ jawab Sya.


“Baiklah. Hati-hati di jalan ya!“ ujar Calvin.


“Terima kasih!“ jawab Sya.


Calvin hanya menanggapi ucapan terima kasih dari Sya dengan anggukan kepala. Sya langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Calvin dan Devan menatap kagum dengan gadis itu yang berani membawa mobil dengan kecepatan hampir tinggi. Meskipun dengan kecepatan sedang, itu tetap saja membuat kedua pria itu kagum.


Jarang sekali ada perempuan yang membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Jika adapun, pasti perempuan itu sudah terbiasa. Namun, usia gadis ini belum mencapai dua puluh tahun.


Merasa nanti malam akan lembur, jika terlalu lama menunggu di sini, Calvin dan Devan segera mencari mobil mereka dan langsung naik. Mereka bergegas menuju perusahaan Erland.


...☘️☘️☘️...


Jika Calvin dan Devan menuju ke sebuah perusahaan, maka berbeda lagi dengan gadis ini.


Ya, Sya pergi ke kantor polisi untuk melaporkan tindakan keluarga Ria dan Deshita. Dengan berbekal semua bukti yang di ponselnya.


Sya yang sedang menjalankan mobilnya dengan tujuan kantor polisi, menyadari apabila ada mobil berwarna hitam yang sedari tadi mengikutinya terus semenjak dari Bandara.


Sya menambah kecepatan mobilnya untuk melihat mobil berwarna hitam itu yang mengikuti jalannya terus. Ternyata, benar saja, saat Sya menambahkan kecepatan, mobil tersebut juga menambah kecepatannya.


Merasa sepertinya akan sampai di kantor polisi, Sya mulai menurunkan kecepatan mobilnya. Karena jika semakin menambahnya, belum tentu saat sampai dengan mengerem mendadak, ia akan sampai tepat di kantor polisi.


Beberapa saat kemudian, Sya sampai di sebuah bangunan bercat kuning. Ya, Sya sudah sampai di kantor polisi. Mobil berwarna hitam yang mengikutinya terus juga mengikutinya hingga ke kantor polisi ini.


Sya turun dari mobil dan segera masuk ke kantor tersebut. Sya bisa melirik mobil berwarna hitam itu. Orang yang menaiki mobil berwarna hitam itu juga ikut turun.


Ternyata, tebakan Sya tadi benar. Mobil berwarna hitam itu dinaiki dua orang. Dua orang wanita tepatnya. Dua wanita itu ialah Ria dan Deshita.


“Selamat datang dan selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?“ sambut salah satu Polisi.


Sya sampai di sini sekitar pukul sebelas hampir pukul dua belas. Maka tidak heran mengapa Polisi tersebut memberikan sambutan dengan selamat siang.


“Selamat siang, Pak. Saya ingin mengajukan sebuah laporan,“ jawab Sya dengan santai sembari melirik kedua wanita yang masih mengikutinya itu.

__ADS_1


“Baiklah, Nona. Silakan duduk.“ ujar Polisi itu. Sya menurut dan duduk di kursi yang telah disediakan.


“Laporan apa yang ingin Nona ajukan?“ tanya Polisi itu saat Sya sudah duduk di kursi.


Sya mulai menjelaskan.


“Tidak! Nona ini berbohong, Pak! Jangan percaya dengannya! Nona ini hanya membuat sebuah kebohongan!“ seru Deshita tidak terima apabila dirinya dilaporkan oleh gadis yang bernama Christine ini. Terlebih lagi yang melaporkannya adalah gadis yang berasal dari keluarga yang jauh dengan keluarganya. Tidak bisa ia biarkan begitu saja ketika gadis ini melaporkan dirinya.


“Maaf, Nona. Maksud Nona apa ya? Kebohongan seperti apa? Saya tidak meminta Nona untuk menjelaskan ya. Lebih baik, Nona duduk di kursi sana sembari menunggu Nona ini selesai mengajukan laporannya,“ sahut Polisi itu.


“Tapi, Pak. Nona ini mengajukan sebuah laporan yang tidak jelas. Coba saja minta buktinya, Pak! Pasti tidak akan ada buktinya!“ bantah Ria.


“Maaf, Nona. Lebih baik, Nona diam dulu. Ada saatnya kita berbicara. Ada saatnya kita mendengarkan,“ nasehat Polisi itu.


Akhirnya Deshita dan Ria memilih diam dan duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat duduk Sya. Mereka berdua memasang kedua telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan kata yang akan keluar dari Polisi itu dan Sya alias yang dikenal mereka ialah Christine.


“Maaf, Nona. Apa saya bisa meminta bukti dari semua laporan yang telah Nona jelaskan kepada saya untuk memperkuat laporannya?“ tanya Polisi itu dengan penuh harap. Berharap ucapan Nona yang menganggu tadi tidak benar apa adanya.


“Bisa, Pak! Ini dia buktinya!“ jawab Sya sembari menunjukkan semua bukti yang ia dapatkan di ponselnya.


Polisi itu memperhatikan foto bukti yang ditunjukkan oleh Sya.


“Baik, Nona. Laporan yang telah Nona ajukan, akan segera kami proses. Harap menunggu jawaban dari kami. Tolong tinggalkan nomor telepon Nona yang bisa kami hubungi di sini,“ ujar Polisi itu sembari menunjuk kertas yang harus diisi dengan nomor telepon oleh Sya.


Sya segera menuliskan nomor teleponnya di kertas tersebut. Setelah menuliskannya, Polisi itu mengambil kertas tersebut dan menyimpan dengan berkas lainnya.


“Terima kasih banyak atas laporan Nona. Selamat siang.“ ucap Polisi itu. Sya mengangguk dan beranjak dari kursinya.


Saat dirinya sudah berdiri, tangannya langsung ditarik oleh Ria.


“Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu bisa mendapatkan semua bukti kejahatan yang aku lakukan selama ini?“ tanya Ria dengan tangan yang mencengkram tangan gadis itu.


Ria mengatakan hal tersebut tanpa menyadari apabila dirinya saat ini berada di Kantor Polisi. Deshita yang menemani Ria ke Kantor Polisi ini hanya bisa menggeleng kepalanya dan berniat kabur diam-diam. Namun, aksi kaburnya barusan diketahui oleh salah satu Polisi. Sehingga Deshita ditahan oleh Polisi yang mengetahui apabila Deshita berniat kabur.


Sya tersenyum dan menjawab, “Saya Diva Anastasya. Anak dari Tuan Andrean,“


To be continued...

__ADS_1


Menunggu-nunggu dari judulnya, bukan? Hingga pada akhirnya muncul juga adegan itu di akhir bab. Ya walaupun si akhir bab sih. Maafkan ya kalau banyak typo. Maklum, kesibukan hari ini membuat Author harus menulis satu bab penuh ini di malam hari.


Jangan lupa dukungannya yaa.. Terima kasih banyak. 🙏🏻💞


__ADS_2